in

Kisah Pilu Para Porter di Stasiun dan Bandara Semarang Saat Pandemi

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu saat memberikan bantuan kepada para porter di Stasiun Tawang, Semarang, Jumat (6/8/2021).

 

HAMPIR dua tahun pandemi Covid-19 secara nyata melumpuhkan ekonomi masyarakat, salah satunya bagi para penyedia jasa porter kereta api dan bandara.

Kebijakan pembatasan PPKM yang diberlakukan pemerintah, menyebabkan banyak perjalanan kereta api dan pesawat terbang dibatasi. Dalam sehari saja, di wilayah Daop 4 Semarang hanya terdapat 4 kereta api yang beroperasi dan berhenti di Stasiun Tawang Semarang.

Hal ini mengakibatkan menurunnya jumlah penumpang yang berpengaruh pada penghasilan para porter.

Selama pandemi melanda, para porter semakin terhimpit dan kesulitan perekonomiannya hingga banyak yang banting ke profesi lain, hanya demi bertahan hidup.

Seperti yang dilakukan Mujiman (59 tahun), pria asal Kota Semarang yang sudah 29 tahun bekerja sebagai porter di Stasiun Tawang Semarang.

“Saking sepinya, selama pandemi ini saya hanya berangkat dua kali sebulan,” ujar Mujiman.

Ia mengaku jika pendapatannya sebagai porter turun drastis sejak masa pandemi. “Kalau biasanya bisa ‘angkut’ barang penumpang sampai 8 kali sehari, sekarang hanya angkut dua kali, itupun kalau ada. Paling banyak hanya bisa bawa pulang Rp 40 ribu hasil dari kerja porter. Itupun kalau dapat penumpang, karna jumlah porter di sini kan banyak,” ujar pria tiga anak ini.

Untuk menambah pendapatan, Mujiman bahkan kerja serabutan dengan mengisi ulang korek gas. “Buat nutup kebutuhan ya kerja serabutan, ngisi ulang korek gas saat ndak jadi porter, karena berangkatnya cuma dua kali dalam sebulan,” ceritanya.

Untuk satu korek gas yang berhasil diisi, Mujiman dibayar Rp 1.000.

“Paling gak, sampai sore bisa isi 30 korek. Alhamdulillah dapat Rp 30 ribu,” katanya.

Hal senada juga dikatakan salah satu porter di Bandara Ahmad Yani Semarang, sebut saja Benjo. Menurutnya pendapatan saat pandemi ini sepi.

“Kadang sehari tidak dapat pelanggan. Kami tak digaji pihak bandara, pendapatan kami ya dari jasa angkut ini,” katanya.

Kondisi porter stasiun dan bandara tersebut mendapat perhatian dari Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita tergerak setelah menyaksikan video yang diunggah warganet terkait kondisi para porter yang harus bekerja di tengah kondisi stasiun yang sepi karena kebijakan PPKM.

Ia mengajak manajemen PDAM Tirta Moedal dan UMKM Semarang untuk ikut berbagi memberi paket sembako bagi para porter di Stasiun Tawang, Stasiun Poncol, dan Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, Jumat (6/8/2021).

Turut mendampingi, Direktur Umum (Dirum) PDAM Tirta Moedal Semarang, Farchan Hilmie, Wakil Kepala Stasiun Semarang Tawang Daniel Yuniarta dan Lurah Tanjungmas, Margo Haryadi.

“Awalnya saya melihat video menyayat hati terkait porter yang bekerja meski kondisi stasiun sepi dan banyak kereta yang di cancel. Kami Pemkot Semarang tergerak, bersama PDAM Tirta Moedal dan pelaku UMKM di Semarang hari ini memberikan bantuan berupa sembako, makan siang, telur kepada saudara kita para porter di Stasiun Tawang, Stasiun Poncol dan Bandara Ahmad Yani Semarang,” ujar Mbak Ita.

Ita mengatakan, di Stasiun Tawang setidaknya ada 60 porter, di stasiun Poncol ada 8 porter dan Bandara Ahmad Yani ada 28 porter yang menerima bantuan.

Bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Pemkot Semarang kepada para porter yang juga terdampak pandemi.

“Semoga bantuan yang diberikan bisa meringankan beban saudara kita para porter, apalagi pembatasan PPKM ini banyak perjalanan dan penerbangan yang dicancel yang berakibat pula pada penurunan pendapat mereka,” kata Ita.(HS)

Share This

PSIS Rekrut Kembali Nerius Alom

Porinti, Yayasan Kesehatan RS Telogorejo, dan Komunitas Tionghoa Semarang Bantu Sembako untuk Warga Miskin