in

Kisah Penjagal Kambing Di Kampung Bustaman, Tak Lagi Diminati Sebagai Profesi

Muhammad Yusuf (65) satu dari dua tukang jagal yang tersisa di Bustaman, Semarang.

 

SETIAP malam, keluarga Muhammad Yusuf disibukkan dengan aktivitas yang tak biasa dilakukan oleh orang lain.

Berprofesi sebagai jagal hewan ternak khususnya kambing, Muhammad Yusuf yang kini sudah berusia 65 tahun itu setiap hari menyembelih hingga 10 kambing, sedangkan keluarganya mengolah daging untuk dijual dari dini hari itu juga, hingga matahari terbit.

Yusuf sudah melakoni aktivitas itu sejak tahun 1967. Tak heran jika kepiawaianya dalam hal memotong dan menguliti dua kambing menggunakan pisau tajam tak sampai 15 menit lamanya.

Hingga tempat tinggalnya yang berada di Kampung Bustaman RT 5 RW 3, Kelurahan Karangkidul, Kecamatan Semarang Tengah dijuluki dengan Kampung Jagal.

Namun saat ini, keluarga Yusuf merupakan satu dari dua tukang jagal yang masih tersisa di kampungnya. Bersama anaknya Lukman dan Haji Toni, mereka merupakan ikon keluarga jagal di Kampung Bustaman.

Yusuf mengaku, di era tahun 1970 hingga 1980an, warga Kampung Bustaman terkenal dengan kejayaan jagalnya. Perhari warga kampung tersebut bisa memotong sampai ratusan ekor kambing untuk memenuhi kebutuhan daging kambing bagi warga Semarang.

“Sekarang tinggal dua keluarga saja yang masih menekuni profesi ini. Saya (Yusuf) dan Haji Toni. Yang lain banyak yang pensiun karena usianya sudah lanjut dan sudah meninggal. Dan perhari saya bisa menyembelih sampai 10 ekor kambing,” ucap Yusuf saat ditemui Sabtu (12/6/2021) dini hari.

Dia mengatakan ingin melihat lagi kejayaan Kampung Bustaman yang terkenal sebagai kampung jagal di Semarang. Yusuf menerangkan, sejak tahun 1990 tukang jagal di kampungnya mulai berkurang.

“Bertambah tahun, tukang jagal di Kampung Bustaman mulai berkurang. Sekarang penerusnya tinggal anak saya Lukman dan Munawar anak muda di kampung ini,” tambahnya.

Sementara itu, Lukman menuturkan, ia menekuni dunia perjagalan sejak tahun 2017. Sebelumnya dia tak pernah memiliki keinginan untuk menjadi tukang jagal. Seperti halnya pemuda lain, dia bekerja sebagai karyawan. Namun, tahun 2017 ada momen di mana dia harus menekuni profesi orang tuanya, sebagai penjagal kambing.
“Saat itu ayah saya sedang bekerja kemudian terpeleset dan mengakibatkan tangannya melemah. Sejak saat itulah saya resign dari pekerjaan menjadi kepala toko di sebuah mal di Semarang, untuk menjadi penerus tukang jagal,” katanya.

“Bapak waktu itu sedang kerja kemudian nginjak darah dan terpleset. Karena tidak kuat, kemudian saya belajar dan jadi penerus bapak,” ungkapnya.

Lukman mengaku jagal muda di Kampung Bustaman tinggal ia dan Munawar tetangganya, dan tidak banyak pemuda yang mau menjadi jagal hewan.

“Kata anak-anak muda tidak cocok lantaran ongkos penyembelihan satu ekor kambing hingga pembersihan, hanya dibayar upah Rp 20 ribu, maka dari itu beberapa memilih kerja di pabrik, atau penjaga toko,” jelasnya.

Meski demikian, Lukman bertekad ingin meneruskan pekerjaan sebagai penjagal hewan asli Kampung Bustaman.

“Jangan sampai jagal asli Kampung Bustaman hilang, saya juga berencana mengajarkan keahlian yang diberikan ayah saya ke saudara saya,” tambahnya.

Sebagai informasi, Kampung Bustaman adalah sebuah nama kampung yang berada di Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang.

Asal muasal kampung tersebut bermula dari sumur yang dibuat oleh Kiai Kertoboso Bustam (1681-1759) dan namanya dipakai untuk menyebut kampung tersebut. Sehingga, Kampung Bustaman telah ada sejak abad ke-18 dan menjadi salah satu kampung tua di Kota Semarang.

Saat ini, Kampung Bustaman lebih dikenal karena menjadi pusat kuliner dari olahan daging kamping. Sejak zaman pendudukan Jepang, warga setempat banyak yang menjadi menjadi pejagal kambing. Ada juga yang membuka warung yang menjual gule kamping, sehingga disebut dengan nama Gule Bustaman.

Share This

Indonesia Terus Perjuangkan Kesetaraan Vaksin Covid-19 Bagi Semua Negara

Pemerintah Akan Terapkan PPN Sembako, Ini Tanggapan Dari Ketua Apindo Jateng