Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Kisah Nenek Buta Huruf dari Demak yang Berjuang Mengembalikan Hak Atas Sawah dari “Mafia Tanah”

Sumiatun, didampingi pengacara yang tergabung dalam Koalisi Advokat Peduli Mbah Tun memberikan keterangan pers di Kantor DPC PERADI LBH Jl Simongan No 123, Kota Semarang, Rabu (11/3/2020).

 

SUMIATUN, nenek renta dan buta huruf atau biasa dipanggil dengan Mbah Tun kembali berjuang untuk mempertahankan sawahnya yang diakui pihak lain. Didampingi 21 pengacara yang tergabung dalam Koalisi Advokat Peduli Mbah Tun (BKBH FH Unisbank, LBH Demak Raya dan Bidang Bantuan Hukum DPC PERADI RBA), kasus yang menimpanya ini dibahas dalam Konferensi Pers di Kantor DPC PERADI LBH Jl Simongan No 123, Kota Semarang, Rabu (11/3/2020).

Petani warga Desa Balerejo RT 05 RW 02, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak tersebut memberikan keterangannya di hadapan beberapa wartawan yang hadir.

Seperti diketahui, sawah milik Mbah Tun SHM No 11 terancam dieksekusi oleh Pengadilan Negeri Demak karena permohonan eksekusi oleh pemenang lelang bernama Dedy Setyawan Haryanto, dengan nomor perkara 02/Pdt.Eks/2019. Sebelumnya, sawah ini merupakan hak tanggungan di Bank Danamon oleh orang bernama M, seseorang yang diduga melakukan penipuan terhadap Mbah Tun dengan modus pemberian bantuan ternak bebek.

Saat ini M yang juga tetangga Mbah Tun masih berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO) sesuai dengan laporan di Polres Demak dengan Nomor LP/424/XII/2010/Jateng/Res Demak tanggal 24 Desember 2010.

Kini bersama dengan Koalisi Advokat Peduli Demak, Mbah Tun berjuang mempertahankan sawahnya. Secara bersamaan Mbah Tun melalui 21 pengacara yang bersimpati, langsung melayangkan gugatan pembatalan proses lelang sawah tersebut oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Kota Semarang (KPKNL).

Terjadwal Kamis 19 Maret 2020, gugatan Mbah Tun tertuang dalam perkara 11/Pdt.G/2020/Pn.Dmk. Tak hanya itu, secara bersamaan, Kamis 19 Maret 2020 Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang dalam perkara nomor 23/G/2020/PTUN.Smg juga akan melakukan persidangan gugatan Mbah Tun untuk pertama kalinya.

Mbah Tun melakukan gugatan terhadap Badan Pertanahan Kabupaten Demak yang memproses peralihan hak atas tanah sawahnya.

“Koalisi Advokat Peduli Mbah Tun juga mengirimkan surat audiensi sekaligus pengaduan ke DPRD Demak. Prinsip kehati-hatian BPN Kabupaten Demak tidak dilakukan, sehingga sawah Mbah Tun beralih nama. BPN Demak dipastikan mengetahui soal sengketa ini karena sebelumnya Putusan Mahkamah Agung No 139 K/Pdt/2015 telah memenangkannya dan BPN Demak termasuk salah satu tergugatnya,” kata Karman Sastro BKBH FH Unisbank yang juga mendampingi kasus Mbah Tun ini.

Putusan Pengadilan Negeri Demak nomor perkara 02/Pdt.Eks/2019, menurutnya telah mengabaikan putusan Mahkamah Agung No 139 K/Pdt/2015 yang memenangkan Mbah Tun. “Putusan yang saling bertentangan ini juga kami laporkan ke Badan Pengawas Mahkamah Agung Republik Indonesia,” paparnya.

Ditipu Tetangga

Sebagai informasi, kasus Sumiyatun, seorang petani miskin dan buta huruf yang kehilangan sawahnya karena modus penipuan tetangganya ini sempat senter diberitakan di banyak media massa.

Berawal dari kondisi yang buta huruf dan buta hukum, Sumiyatun (68) warga Dukuh Balong Kendal, Desa Balerejo, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak ini didatangi tetangganya. Sang tetangga tersebut adalah seorang petugas kesehatan.

Suatu hari, sekitar 10 tahun lalu, Mbah Tun dijanjikan mendapatkan bantuan pakan ternak. Sang petugas kesehatan ini juga meminjam sertifikat dan berjanji akan segera mengembalikan ke pemiliknya.

Mbah Tun tak curiga, apalagi mereka bertetangga dengan baik. Sertifikat tanah dilepas oleh sang pemilik disaksikan anak dan menantunya.

Empat hari kemudian, tetangganya tersebut datang bersama dua staf notaris yang langsung menyodorkan berkas untuk dicap jempol oleh Mbah Tun dan Suwardi suaminya. Kajadian tersebut sekitar 10 tahun lalu, ketika Suwardi, sang suami Mbah Tun masih hidup.

Sertifikat yang dipinjam tetangganya tersebut adalah sertifikat sawah. Ternyata cap jempol Mbah Tun adalah bukti bahwa dia memindahkan hak milik sawahnya. Sertifikat berpindah nama dan bahkan menjadi agunan di sebuah bank. Diduga Mbah Tun dan suaminya jadi korban mafia tanah.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang