in

Kisah Mbah Kadiyem dan Pemkab Sragen

Kunjungan Dinsos Sragen dan Dinsos Jateng ke rumah Mbah Kadiyem. (Foto : Sragenkab.go.id)

 

HALO SRAGEN – Nama perempuan itu adalah Dasir (80) warga Dukuh. Jenar RT 01, Desa Jenar, Kecamatan Jenar. Namun demikian warga lebih sering memanggilnya dengan nama Mbah Kadiyem.

Belakangan ini namanya menjadi terkenal, lantaran perempuan tua itu diberitakan hanya tinggal bersama anaknya, Kadiman, di sebuah rumah kecil, di tengah hutan milik Perhutani.

Bukan hanya kerentaannya, perempuan itu juga dikabarkan mengalami depresi, sehingga tak dapat berkomunikasi dengan baik. Adapun anaknya, juga tidak dapat bekerja karena sakit.

Ibu dan anak tersebut tinggal di sebuah bangunan berdinding bata, berukuran 3 x3. Selain sebagai kamar tidur, ruangan kecil itu juga berfungsi untuk memasak. Belum ada MCK yang memadai.

Untuk menuju ke rumah Mbah Kadiyem, warga harus berjalan kaki sejauh 300 meter melewati kebun jati dan jagung. Hal ini karena rumah itu tak dilengkapi akses jalan dan menjadi bagian dari tanah milik orang lain.

Ketika malam datang, rumah itu pun gelap gulita. Hal itu karena tak ada aliran listrik yang masuk ke rumah itu.

Pada 2020 lalu, Polsek Jenar sebenarnya telah mengupayakan pemasangan listrik ke rumah itu. Tetapi kabel-kabelnya kemudian dilepas oleh Mbah Kadiyem, karena mengalami depresi.

Setelah kabar itu mengemuka ke publik, berbagai pihak terkait, pun berdatangan ke rumah itu. Seperti dirilis Sragenkab.go.id, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sragen, Joko Saryono, bersama Kepala UPT Dinsos Provinsi Jawa Tengah (Panti Raharjo Sragen) Wadyo Basuki, dan TKSK Jenar, Aminudin pun datang ke rumah Mbak Kadiyem.

Kunjungan Dinsos Sragen dan Dinsos Jateng ke rumah Mbah Kadiyem. (Foto : Sragenkab.go.id)

 

Dibantu Pemerintah Sejak 2013

Joko Saryono menegaskan bahwa Mbah Kadiyem sebenarnya sudah mendapat perhatian dari Pemerintah sejak 2013.

“Jadi pemerintah sudah hadir sejak 2013, untuk membantu keluarga Mbah Kadiyem. Selama ini bantuan yang mengalir ke keluarga itu, yakni raskin atau rastra tahun 2013-2018. Bantuan itu kemudian berganti nama menjadi BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) sejak 2019 sampai sekarang. Bantuan jaminan sosial lanjut usia dari APBD juga diterima mereka pada 2014,” paparnya.

Selain itu juga bantuan Jaminan sosial penyandang cacat dari APBN, juga diberikan pada 2016-2018. Pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) pada 2017, bantuan sembako 2017-2018, dan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) disabilitas, tahun 2019 hingga sekarang.

“Bantuan yang terus mengalir ke keluarga Mbah Kadiyem berupa BPNT senilai Rp 200.000 per bulan, sembako dan PKH senilai Rp1,8 juta per tahun. Tidak hanya itu, kepedulian tetangga juga masih ada,” lanjut Joko.

Dia juga menjelaskan, rumah yang ditempati Mbah Kadiyem bersama anaknya, Ngadiman (36) adalah tanah milik warga bukan milik PT Perhutani. Mbah Kadiyem dapat menempati rumah itu, atas prakarsa warga, Kepala Desa, dan Ketua RT setempat.

“Dulu rumahnya jauh, menempati tanah kas desa. Kemudian oleh Pemerintah Desa dan warga, dipindahkan ke tempat ini, karena lebih dekat dengan pemukiman warga, dan ini bukan milik PT Perhutani,” lanjutnya.

Sementara Kepala UPT Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah Pelayanan Sosial Disabilitas Intelektual Raharjo Sragen, Wadyo Basuki mengatakan Mbah Kadiyem sudah masuk ke Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

“Sebetulnya Pemerintah sudah hadir, kalau kita lihat sekarang ini adalah bantuan RTLH dan sudah terwujud,” ujar Wadyo.

Bahkan Pemerintah berencana datang kembali ke tempat tinggal Mbah Kadiyem, untuk memastikan keluarganya bersedia Mbah Kadiyem dirawat di panti. Kalau keluarga tidak mau, Wadyo mengatakan tidak akan memaksa, mengingat masih ada anaknya yang bersedia merawat di rumah.

“Jadi nanti apabila bersedia, Mbah Kadiyem segera kami bawa dulu ke Rumah Sakit Jiwa di Solo. Adapun Ngadiman, nanti dirawat saudaranya. Setelah Mbah Kadiyem sehat psikisnya, baru dilakukan penanganan lebih lanjut,” tutupnya.

Terkait Jaringan Listrik, Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) PLN Sragen sudah memasang jaringan listrik untuk rumah Mbah Kadiyem dengan daya 450 Watt. (HS-08)

Share This

Langgar Ketentuan PPKM, Karaoke Alaska Kendal Disegel Petugas

Jateng Inisiasi Percepatan Proses Vaksinasi Covid-19