in

Kisah Ibu PNS Jadi Relawan di Tengah Pandemi

Sekretaris Kelurahan Kabupaten, Klaten, L Kartika Dewi persiapan diri dengan APD sebelum jadi relawan driver ambulan. (Dok/istimewa)

 

HALO KLATEN – Relawan tak ubahnya the unsung hero di tengah pandemi Covid-19. Mereka yang berasal dari latar belakang beragam seperti pegawai swasta sampai dosen perguruan tinggi, rela berjibaku mengantarkan jenazah Covid-19 ke peristirahatan terakhir.

Saat angka kematian yang terpapar Covid-19 begitu tinggi, ambulan yang mereka bawa seperti tak berhenti melayani. Bahkan di malam hari, sirine ambulan kerap meraung meski tidak mengantarkan jenazah. Kadang ini membuat warga resah.

Adanya kasus ambulan yang tetap membunyikan sirine di malam hari meski tak membawa jenasah, akhirnya bisa dipahami. Pasalnya relawan yang menjadi driver ternyata ada yang tidak paham dengan tombol-tombol mobil ambulan, sehingga mereka membiarkan sirine tetap berbunyi.

Lalu, bagaimana bila tim relawan tak memiliki sopir yang membawa ambulan? Ini yang dilakukan seorang ibu Pegawai Negeri Sipil (PNS), L Kartika Dewi, dengan menjadi driver untuk mengantarkan jenazah menuju makam, Sabtu (14/8/2021) malam.

Dewi yang sehari-hari menjadi Sekretaris Kelurahan Kabupaten, Klaten, sesungguhnya bukan relawan. Namun saat relawan Tim Kubur Cepat (TKC) kelurahan tersebut ternyata kekurangan sopir untuk membawa ambulan, dirinya dengan suka rela menawarkan diri.

Meski agak terkejut karena tidak memperkirakan Sekretaris Kelurahan sendiri yang bersedia membawa ambulan, para relawan pun dengan bersuka cita menyambutnya karena mereka bisa memenuhi panggilan tugas.

Jadilah, ibu PNS itu membawa ambulan menembus malam menjemput jenazah Covid-19 di Rumah Sakit Islam (RSI) dan diantarkan ke pemakaman Tegal Binangun, Klaten. Aksi ibu dua anak itu tak ayal membuat para relawan bersemangat meski harus bekerja di malam hari.

“Situasinya memang mendadak. Tim kekurangan sopir saat harus melaksanakan tugas. Saya pun menawarkan diri. Mereka malah kaget tetapi senang ada orang kelurahan yang bersedia terjun langsung mengantarkan jenazah di malam hari,” kata Dewi.

Dirinya tak terbebani dengan tugas itu meski harus bekerja sampai tengah malam. “Saya seorang pegawai negeri yang mengabdi dan melayani masyarakat. Bila dibutuhkan, saya selalu siap,” ujarnya.

Menurut Dewi ini justru menjadi pengalaman yang penuh tantangan. Apalagi, dia seorang perempuan yang memberanikan diri membawa ambulan.

“Hanya tubuh saya yang mungil ini bisa bikin kaget orang. Mereka mengira ambulan jalan sendiri di malam hari dengan bunyi sirine karena sopirnya tidak terlihat,” kata Dewi tertawa.

Kelurahan atau desa berperan penting dalam penanganan pandemi Covid-19. Mereka berhadapan langsung dengan masyarakat yang terdampak pandemi.

Untuk penanganan pandemi, Kelurahan Kabupaten membentuk Relawan TKC. Mereka yang selalu sigap dan siaga saat ada panggilan atau warga di Kabupaten yang harus dibawa ke rumah sakit untuk penanganan Covid-19. Hanya tidak semua kelurahan atau desa memiliki tim tersebut.

“Tidak semua desa atau kelurahan memiliki tim relawan. Ini inisiatif warga dan kelurahan mengakomodasi dengan membentuk tim,” kata Dewi. Begitulah TKC bergerak membantu penanganan Covid-19 di Kelurahan Kabupaten. Warga pun sangat terbantu.(HS)

Share This

Komunitas Pramuka Ma’arif NU Banyumas Lakukan Giat Bakti Tanam Pohon

Prakiraan Cuaca Semarang Dan Sekitarnya, Senin (16/8/2021)