Kisah Dokter Tatang Harus Isolasi Mandiri Setelah Tangani Pasien Covid-19

Dr Tatang menyampaikan informasi dalam konferensi pers penanganan pandemi Covid-19, di Ruang Command Center, Setda Kabupaten Magelang. (Foto: jatengprov.go.id)

 

HALO MAGELANG – Dalam perang melawan pandemi Covid-19, para tenaga kesehatan bagaikan tentara yang berada di garis depan untuk menghalau musuh. Karena itulah mereka rentan ikut menjadi korban keganasan penyakit akibat virus SARSCoV2 ini.

Itu pula yang dialami oleh para tenaga kesehatan di RSUD Merah Putih, sebuah rumah sakit yang menjadi rujukan pasien Covid-19.

Salah satu nakes yang pernah berhadapan langsung dengan pasien covid-19 tersebut adalah drTatang Kurniawan, Sp.An, seorang dokter ahli anestesi. Seperti dirilis jatengprov.go.id, Senin (12/10) Tatang menceritakan dirinya pernah mengalami kecolongan pasien Covid-19.

Saat itu dia mendapati pasien yang menunjukkan gagal nafas. “Pada waktu itu datang seorang pasien yang mengalami gagal nafas. Spontan saya mencoba membantu memberikan pertolongan,” kata dia.

Tetapi ketika memberikan pertolongan saat itu, dia tak mengenakan alat pelindung diri (APD). Ternyata setelah hasil rontgennya keluar, pasien tersebut diduga kuat positif Covid.

Ternyata setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, diketahui pasien tersebut memang postif Covid.

“Sontak saya langsung lemas saat mendengarnya. Saya juga langsung ditetapkan menjadi suspek Covid-19,” ujar Tatang.

Dia pun kemudian harus menjalani isolasi mandiri selama 14 hari sambil menunggu hasil swab. Beruntung, hasil swabnya negatif Covid-19.

“Dari pengalaman inilah, saya juga mengimbau para tenaga kesehatan sebagai garda terdepan yang sangat rentan akan penularan Covid-19, untuk selalu mengedepankan protokol Covid-19. Jangan menganggap remeh, selalu gunakan APD saat merawat pasien, dan harus tahu cara melepaskan APD dengan benar dan membuang limbahnya,” kata dia.

Menurutnya, kesalahan dalam melepaskan APD dapat mengakibatkan tenaga kesehatan tertular covid-19. Karena itulah mereka harus benar-benar memahami urutan penggunaan dan melepaskan APD.

“Banyak dokter dan perawat tertular covid-19, karena salah dalam pelepasan APD,” ungkap dokter anestesi RSUD Merah Putih, drTatang Kurniawan, Sp.An, dalam konferensi pers penanganan pandemi Covid-19, di Ruang Command Center, Setda Kabupaten Magelang, Jumat (9/10).

Tatang mengatakan saat melepas APD ada urut-urutan yang harus dilakukan para nakes dengan benar. Tidak semata-mata melepaskannya dan kemudian membuang atau memusnahkannya. Apabila hal tersebut sampai terjadi, bisa saja APD tersebut malah menjadi salah satu sumber penularan Covid-19.

“Misalnya, setelah melepaskan sarung tangan, nakes harus segera mencuci tangan. Nah, untungnya para nakes di RSUD Merah Putih ini sudah dibekali dengan pengetahuan tersebut sebelum (RS itu) ditunjuk menjadi RSUD rujukan Covid-19 di Magelang. Mereka sudah diajari menggunakan APD, melepaskannya, serta membuang limbah kesehatan (bahan berbahaya dan beracun/B3) dengan sangat baik,” jelasnya.

Ditambahkan, urut-urutan cara melepaskan APD dengan benar dimulai dari mengganti sarung tangan, melepas pakaian pelindung, kemudian melepas kacamata pelindung, melepas masker, melepas topi, dan terakhir melepas sarung tangan, dengan catatan setiap usai melepas satu perlengkapan, harus mencuci tangan dengan sabun.(HS-08)

Dr Tatang menyampaikan informasi dalam konferensi pers penanganan pandemi Covid-19, di Ruang Command Center, Setda Kabupaten Magelang. (Foto: jatengprov.go.id)
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.