Kisah Anak Gangguan Jiwa Dipasung 7 Tahun di Salatiga, Ibundanya Lumpuh Akibat Polio

Tim MRI-ACT melepas tali kain yang selama ini mengikat kaki Yehezkiel Eka Putra, warga RT 2/RW 10, Kelurahan Noborejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga.

 

NAMANYA Yehezkiel Eka Putra, warga RT 2/RW 10, Kelurahan Noborejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. Anak 15 tahun itu kedua kakinya diikat menggunakan kain selama hampir 7 tahun di dalam rumahnya.

Namun sekarang Kiki, begitu anak tersebut akrab disapa, sudah dapat bergerak bebas setelah Tim Masyarakat Relawan Indonesia – Aksi Cepat Tanggap (MRI-ACT) Jawa Tengah mendatangi rumahnya.

“Alhamdulillah kemarin (22/7/2020) tim melakukan silaturahmi ke rumahnya, kemudian memberikan pengertian kepada pihak keluarga. Kiki saat ini sudah tidak dipasung dan terlihat lebih senang,” ungkap Ardian Kurniawan Santoso, perwakilan MRI Jawa Tengah saat dikonfirmasi media (23/7/2020).

Lanjut Ardian, ibunda Kiki yang bernama Jumirah (45) merupakan seorang janda dan sudah lama menderita sakit polio. Karena sakitnya tersebut menyebabkan kaki dan tangan Jumirah tidak berfungsi dengan normal, seperti orang yang terkena stroke.

Setelah melakukan diskusi dengan ibu dan keluarga Kiki, Ardian bersama tim memutuskan untuk mengevakuasi Kiki agar dibawa ke rumah sakit jiwa.

“Apa yang dilakukan oleh Jumirah adalah rasa kasih sayang terhadap anaknya. Karena keterbatasan fisik Jumirah yang mengalami lumpuh sebelah, menjadikan dirinya tak mampu mengawasi Kiki jika keluar rumah dan kadang mengamuk,” kata Ardian.

Diungkapkan oleh Jumirah, pernah suatu hari anaknya pergi dari rumah dengan perilakunya yang terkadang di luar kendali, dan menyebabkan Kiki hampir tertabrak truk di jalan raya.

“Akhirnya keluarga bersama tim relawan sepakat untuk membawa Kiki ke Rumah Sakit Jiwa di Magelang, agar mendapatkan rehabilitasi,” tambah Ardian.

Heru Tri Suseno (48) selaku kakak Ipar Jumirah menjelaskan, bantuan pernah didapatkan kakaknya terakhir tahun 2010 sebesar Rp 20 juta.

“Setelah itu tak ada bantuan dana maupun sembako yang didapatkan oleh Bu Jumirah. Sementara untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari biasanya diberi oleh sanak keluarga atau tetangga terdekat,” katanya.

Heru juga bercerita kondisi rumah Jumirah pernah dilakukan survei Dinas Sosial Kota Salatiga pada tahun 2018.

“Pernah dapat bantuan untuk membangun rumah tetapi hanya berupa material, sedangkan biaya tukang ditanggung sendiri oleh keluarga,” imbuh Heru.

Melihat kondisi ekonomi yang memprihatinkan, akhirnya tim MRI-ACT bersama komunitas Seri dari Salatiga, membawa Jumirah untuk dititipkan ke Yayasan Sosial Terang Bangsa, di Dusun Randu Ares, Kelurahan Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga.

“Semoga apa yang kami lakukan ini bermanfaat untuk sesama. Tidak ada niat apa-apa kecuali ingin memanusiakan manusia,” pungkas Ardian.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.