in

Kini Jadi Salah Satu Wilayah Strategis, Kampung Kali Semarang Dulunya Persawahan dan Kebun Sayur

Wilayah Kampung Kali Semarang.

PERKEMBANGAN kota yang masif, seperti di Kota Semarang akan memberikan keuntungan tersendiri namun juga tak kepas dari dampak sosial yang terjadi. Seperti pembangunan bangunan baru yang menghilangkan wilayah sebelumnya yang sudah dihuni oleh komunitas atau masyarakat yang hidup dari pertanian penghasil komoditas sayur mayur.

Salah satunya di wilayah Kampung Kali Semarang, yang dulunya adalah kebun sayur dan sawah. Daerah ini kini menjadi salah satu wilayah strategis di Kota Semarang. Menurut pencerita Sejarah Semarang, Jongkie Tio, awal mula dinamakan Kampung Kali karena di daerah tersebut berdiri sebuah perkampungan dengan kalinya yang membentang, dan mengalir ke Pecinan hingga Kali Semarang.

Sebelum berkembang pesat seperti saat ini, lanjut dia, daerah yang bernama Kampung Kali, seperti yang ditulis oleh seorang etnis Tionghoa, Biauw Tjuan dalam buku “Kota Semarang dalam Kenangan”, artinya adalah kebun sebelah timur. Lalu lantas dia mengembangkan daerah tersebut.

“Kampung Kali dulunya sempat berganti nama menjadi Jalan Be Biauw Tjuan. Sekarang kampung itu berada di Jalan DI Panjaitan,” kata Jongkie Tio, belum lama ini.

Dan salah satu lokasi area persawahan dan kebun sayur di Kampung Kali sekarang ini sudah berdiri hotel megah di Jalan Gajah Mada Semarang. Sebelumnya kawasan ini juga sempat digunakan untuk Food Court Manggala.

“Kampung Kali dulu banyak dihuni oleh warga etnis Jawa dan Tionghoa dengan mata percaharian hidup berkebun. Di mana sawah dan kebun warga terhampar luas dengan bayam dan kangkung yang jadi tanaman andalan, sehingga tenar dengan julukan kebun sayur,” imbuhnya.

Dibangun Taman

Pada kampung itu, papar dia, terbentang sebuah kali atau sungai kecil yang saat ini telah menjadi drainase atau saluran air yang berfungsi sebagai pengairan ke areal persawahan dan kebun warga.

“Daerah tersebut merupakan penghasil sayur mayur. Bakul dan tengkulak pun membeli sayur dari wilayah tersebut sebelum akhirnya dijual ke Pasar Kemuning dan Peterongan di Jalan MT Haryono, Semarang,” katanya.

Sebenarnya pada perkembangannya, sejarah Kota Semarang, tercatat memiliki banyak kampung-kampung kuno yang merupakan embrio perkembangan kota. Nama kampung-kampung kuno ini disesuaikan dengan kelompok etnis, pekerjaan atau kondisi dan situasi yang pernah terjadi di kampung tersebut. Seperti Kampung Pecinan, Kampung Melayu, Kampung Kauman, Kampung Batik, Kampung Kulitan, dan lain sebagainya.

Salah satu warga Karangwulan Sari, Semarang atau wilayah Kampung Kali, Sigit Purnama menambahkan, setahu dia dari cerita orang tuanya, dulu wilayah sekitar adalah kebun sayur. Salah satu tempat di wilayah Kampung Kali beberapa tahun lalu masih ada food court Manggala, dulunya area persawahan.

“Sekarang sudah dibeli dan dibangun sebuah hotel. Saat ini wilayah ini sudah tumbuh pesat dengan padat rumah penduduk dan bangunan baru seperti untuk pelaku usaha kuliner,” jelasnya.

Sigit menyampaikan, jika wilayah Kampung Kali tersebut di atas saluran air telah ditingkatkan dan dibangun taman. Sekarang makin rapi dan cantik ditanami bunga, bisa untuk aktivitas santai warga dan menikmati suasana kota saat waktu luang.

“Kini bisa dimanfaatkan warga, dulu berfungsi pengairan sawah dan kebun berubah fungsi untuk ruang terbuka hijau (RTLH) masyarakat,” pungkasnya.(HS)

Dukung Kemajuan Kota, Mbak Ita Tekankan Pentingnya Sinergitas Pengelolaan Transportasi Publik

Isi Liburan Semester, Mahasiswa PPIA Renovasi Ruang Kelas SD di Kendal