in

Kini Hanya Bisa Duduk Di Kursi Roda, Korban Kecelakaan di Jalan Pandanaran Minta Keadilan

Kecelakaan lalu lintas di Jalan Pandanaran, Simpang Jalan Pekunden, Kota Semarang, Selasa (16/3/2021) yang terekam CCTV.

 

HALO SEMARANG – Korban kecelakaan lalu lintas bernama Hokie Budiyanto (32) warga Tlogomulyo, Pedurungan, Kota Semarang kini hanya bisa duduk di kursi roda.

Pria yang bekerja sebagai sales oli tersebut mengalami luka parah pada bagian kaki kiri setelah mengalami kecelakaan di Jalan Pandanaran, Simpang Jalan Pekunden, Kota Semarang, Selasa (16/3/2021) sekitar pukul 17.21 WIB.

Korban juga mengalami luka pada bagian tubuh lainnya mulai dari kepala, punggung, dan pantat.

“Saya juga kehilangan pekerjaan akibat kecelakaan ini,” kata Hokie, Senin  (26/4/2021).

Akibat kejadian itu, dia dan adiknya yang berboncengan sepada motor terpental. Badan Hokie terlempar ke atas kap mobil yang menabraknya dan terseret sepanjang kurang lebih 15 meter, sehingga menyebabkan dia tak sadarkan diri.

“Mobil itu melaju kencang tanpa mengerem sedikit pun. Di tempat kejadian tidak ada garis bekas rem mobil, selain itu tak ada suara klakson yang terdengar,” terangnya.

“Saya memang tak sadarkan diri setelah ditabrak mobil itu. Tetapi saya masih teringat betul sebelum saya ditabrak sempat melihat pengemudi seorang perempuan,” tambahnya.

Dia mengungkapkan, masih ingat dengan kejadian kecelakaan yang menimpanya.

Saat itu dia naik sepeda motor Revo memboncengkan adiknya yang bernama Bella Bunga Wahono (23). Mereka pulang kerja dari kawasan Industri Candi Kota Semarang.

Seperti biasa, tiap mereka pulang melintasi Jalan Pandanaran simpang Jalan Pekunden, Kota Semarang.

Nahas, sore itu setiba di lokasi kejadian mereka diterjang mobil Ayla bernomor polisi H-9497-QE yang saat itu dikemudikan Lili Koeswati.

Mobil melaju dari arah Tugu Muda menuju Simpanglima seharusnya berhenti lantaran traffic light menyala merah.

Kendaraan lainnya yang searah dengan pengemudi mobil tersebut juga berhenti sesuai nyala lampu traffic light.

Namun mobil Ayla itu diduga menyerobot dengan melaju kencang yang langsung menghantam motornya yang melaju dari arah selatan ke utara.

Dia berharap, kasus kecelakaan yang menimpanya dapat segera ditangani oleh pihak kepolisian dengan baik. Pasalnya dia butuh keadilan dari kejadian ini.

Penabrak selama ini dinilai tak kooperatif kepadanya sebagai korban, sehingga memilih untuk membawa kasus ini ke pihak jalur hukum.

Apalagi selama dirawat di rumah sakit hingga pulang ke rumah, pengemudi mobil yang menabraknya tak pernah menjenguk.

“Harapannya pihak Satlantas Polrestabes Semarang dapat menyelesaikan kasus ini tanpa pandang bulu dengan seadil-adilnya,” ucapnya.

Dia melanjutkan, selepas kecelakaan tersadar sudah dirawat di RSUP Kariadi Semarang dengan sejumlah luka.

Di antaranya luka robek pada betis kaki kiri, tulang kaki kiri patah, jari telunjuk kaki kiri putus, kepala robek, punggung belakang luka-luka. Kaki kirinya juga dipasang pen lantaran luka parah.

Akibat luka itu dia mengalami 14  jahitan di kepala, kaki 8 jahitan, dan belasan luka jahitan lainnya.

Dia dirawat di rumah sakit selama enam hari sehingga kini belum dapat beraktivitas kembali seperti sediakala.

“Kata dokter butuh proses penyembuhan berbulan-bulan. Untuk lepas pen nanti butuh waktu satu tahun itu pun kalau lancar,” katanya.

Dia mengaku, akibat kejadian ini kehidupannya berubah drastis. Selain tak bisa beraktivitas, dia juga tak mampu menghidupi keluarga kecilnya.

Apalagi istrinya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Sedangkan dia masih memiliki anak semata wayang berusia 18 bulan.

Kondisi ekonominya kian tak stabil karena harus kontrol rutin ke rumah sakit.

“Sempat terpikir juga jualan es untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebab saya sakit tak ada pemasukan, lalu pekerjaan juga hilang karena kena pemutusan hubungan kerja,” jelasnya.

Sementara paman korban Mikhel menjelaskan, keluarga korban sebelumnya telah membuka ruang mediasi kasus kecelakaan tersebut.

Pasalnya dari awal pelaku memohon menempuh kasus itu secara kekeluargaan. Pelaku menyanggupi untuk menanggung biaya pengobatan korban.

Pihak polisi juga mempersilakan kedua belah pihak untuk saling mediasi.

“Lima kali mediasi tersangka tak menepati janjinya. Dia sempat bawa pengacara dan segala macam. Dalam perjalannya tiga pengacara tersangka juga mundur karena sikap kliennya yang mangkir,” katanya.

Dia berharap, polisi bisa menegakan hukum dalam kasus ini. Menurutnya, kejadian tersebut juga sempat menjadi perbincangan publik di media sosial. Banyak saksi yang melihat bahwa memang mobil tersebut bersalah.

Beberapa netizen mengomentari kejadian tersebut dan ada beberapa yang melihat langsung di tempat kejadian.

Dia berharap untuk pihak terkait dari mulai kepolisian hingga pengadilan memberikan hukuman yang setimpal dan harus menegakkan hukum seadil-adilnya tanpa memihak salah satu pihak tertentu demi rasa kemanusiaan yang ada.

Sementara itu Kasatlantas Polrestabes Semarang, AKBP Sigit mengatakan, kasus tersebut memang sebelumnya dilakukan mediasi namun proses hukumnya dilanjutkan lantaran tak ada titik temu dari kedua belah pihak.

Selepas dimintai konfirmasi lebih detail terkait kejadian tersebut dia belum dapat memberikan jawaban pasti.

“Perkembangan dalam proses penyidikan nanti kami sampaikan,” imbuhnya.(HS)

Seminar Banggar: Peran Pemuda Dalam Mewujudkan Kerukunan Antar-Umat Beragama

Kisah Gelang Berwarna, ‘Zero’ Toleran dan ‘Zero’ Kasus di Piala Menpora 2021