in

Kini Dibangun Landmark, Titik Nol Kilometer Semarang Dulunya Pusat Kantor Pemerintahan dan Jalur Perdagangan

Landmark Taman Nol Kilometer yang berada di Kawasan Kotalama Semarang diresmikan oleh Walikota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, baru-baru ini.

TITIK Nol Kilometer yang berada di Kawasan Kotalama Semarang, tentunya memiliki arti atau makna tersendiri bagi perkembangan sebuah kota, khususnya Semarang. Dulunya, titik nol kilometer sebelum dilakukan pembangunan oleh Pemerintah Kota Semarang menjadi sebuah taman kota atau Ruang Terbuka Hijau (RTH) seperti sekarang ini, diketahui adalah merupakan pusat pemerintahan dan keramaian. Meski belum ada arsip atau sumber primer ditemukan yang membahas mengenai sejarah titik nol kilometer Semarang, namun dari literatur yang ada, memang awalnya di dekat titik nol kilometer ada sebuah gedung yang populer dengan nama Gedung Papag pada tahun 1954 atau abad 20, dan sempat dipakai sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang sekarang menjadi Gedung Keuangan Negara. Namun, Kantor Provinsi Jawa Tengah tersebut mengalami musibah kebakaran pada tahun 1930, sehingga arsip dan dokumen banyak yang terbakar habis. Akibatnya membuat informasi penting mengenai sejarah Kota Semarang menjadi hilang.

Menurut Arkeolog Semarang, Tri Subekso menjelaskan, penentuan titik nol kilometer di Kotalama Semarang, selain menandai adanya pusat pemerintahan pada saat itu, juga terbangun dari seiiring berjalannya atau perkembangan suatu kota itu sendiri. Selain berkenaan dengan pusat pemerintahan semasa Pemerintahan Hindia Belanda, juga menandai keramaian atau aktivitas perekonomian atau jalur perdagangan masyarakat tempo dulu.

“Karena di titik ini juga menghubungkan Jalan Raya Pos Daendles (Jalan Anyer-Panarukan), yang melewati kawasan dekat Jembatan Berok, Pasar Johar dan Kawasan Pecinan dan lainnya. Disana merupakan titik simpul atau simbol bertemunya dari beberapa peradaban dari mulai bangsa Eropa, muslim di Kampung Melayu serta jalur perdagangan komersil seperti aktivitas ekonomi di Pasar Johar. Bukan hanya pusat pemerintahan saja, namun menjadi titik simpul peradaban dan simbol penyatu kemajemukan di Kota Semarang, sehingga yang terlihat sekarang ini menjadi sebuah kota metropolitan,” paparnya, Selasa (9/5/2023).

Seperti diketahui, Pemkot Semarang berupaya membangun titik nol kilometer seperti sekarang ini dengan pembangunan landmark taman nol kilometer yang baru-baru ini diresmikan. Tri Subekso pun berharap, dengan dibangun landmark baru nantinya bisa dijadikan tempat jujugan masyarakat yang ingin mengetahui lebih banyak tentang sejarah nol kilometer Semarang.

“Namun, seharusnya Pemkot juga melengkapi taman ini dengan pemberian narasi titik nol kilometer, menggali lebih banyak maknanya. Dan sejarah seperti apa bagi Kota Semarang. Salah satunya, yang saya usulkan pembangunan monumen atau landmark ini dimaknai merupakan titik pertemuan budaya berbeda, sehingga bisa ditindaklanjuti dengan pemberian narasi, agar terbentuk pengetahuan sejarah kolektif masyarakat tentang Kota Semarang,” imbuhnya.

Kedepan, taman nol kilometer yang sudah dibangun dengan ikon atau landmark, bisa melengkapi wisata historis atau edukasi di Kota Semarang.

“Tentunya, fasilitas pendukung juga dibuatkan seperti pembanguann pedestrian yang ramah untuk pejalan kaki, dan rekayasa lalu lintas sehingga pengunjung mudah mengakses ke titik nol kilometer. Nyaman ketika pengunjung akan menyeberang mendekat ke taman nol kilometer,” katanya.

Apalagi, di kawasan Kotalama banyak bangunan bersejarah yang bisa digali sejarahnya.

“Selain Gedung Papag yang sekarang sudah direkondisi dan digunakan untuk Gedung Keuangan Negara. Dan saat ini kawasan ini sebagai pusat perdagangan, dengan adanya pasar Johar, Masjid Kauman dan gedung atau bangunan sisa peninggalan kolonial Hindia Belanda lainnya,” pungkasnya.

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu menjelaskan, sejarah titik nol kilometer Kotalama Semarang ini merupakan pertemuan wilayah Semarang lama dan modern. Dimana dulunya, titik nol kilometer ini ditinggali banyak etnis dan budaya yang berbeda.

“Pertama berdiri Kampung Kauman, di sana dikenal merupakan kaum cendekiawan, sehingga banyak orang belajar disana karena menuntut ilmu di Ponpes. Banyak juga orang yang naik haji, salah satu akses atau transportasi saat itu hanya melalui pelabuhan jalur laut, yang namanya pelabuhan Tanjung Emas. Dulu, kan butuh waktu lama untuk sampai ke tanah suci, sebulan berangkat, dan butuh sebulan lagi untuk pulang,” terangnya.

Sehingga di sekitar pelabuhan atau di Kotalama ini banyak perdagangan dan keramaian masyarakat.

“Bangsa dari negara lain, dan masyarakat dari suku bugis dan banjar, orang gujarat datang ke kampung Melayu. Saat di Kotalama itu karena ramai datang lagi bangsa Tiongkok, buktinya ada bangunan Masjid Layur dan Kelenteng Dewa Bumi. Pada waktu itu, semua budaya hidup berdampingan, maka keluar warak ngendog,” sambung Mbak Ita, sapaaan akrab Heveraita G Rahayu.

Jadi cikal bakal Kota Semarang, lanjut Mbak Ita, dari kawasan Kotalama.

“Kemudian, baru datang VOC yang tahu disini ada gudang rempah-rempah, mereka merapat sehingga menggeser bangsa China pindah ke dalam. Dan di sinilah tempat atau di Kotalama untuk pertama kalinya Kota Semarang itu menggeliat,” pungkasnya. (HS-06)

 

Pemprov Jateng Salurkan Santunan Teknisi yang Meninggal Terjepit di Lift

Peringati HUT ke-122, Pegadaian Kanwil XI Semarang Gelar Donor Darah