Khamzat Chimaev, “Monster” Baru di Ajang UFC

Khamzat Chimaev (foto dari Instagram pribadi @chimaev_khamzat).

 

HALO SPORT – Namanya mungkin belum setenar Khabib Nurmagomedov, Conor McGregor, atau Israel Adesanya. Namun banyak yang memprediksi, petarung asal Swedia kelahiran Rusia, Khamzat Chimaev akan menjadi “monster” baru di ajang seni bela diri campuran UFC.

Namanya kini sedang naik daun setelah UFC menuntaskan hajatannya di Fight Island, Abu Dhabi, pada bulan ini.

Khamzat Chimaev mencatatkan dua kemenangan beruntun dalam waktu pertandingan yang hanya selang 10 hari. Uniknya lagi, dua kemenangan ini diraih dalam kelas yang berbeda.

Padahal, penampilannya di Fight Island adalah debut petarung kelahiran 1 Mei 1994 ini di bawah bendera UFC.

Pada 15 Juli, dia menentang John Phillips dalam duel kelas menengah di ronde kedua. Kemudian pada 25 Juli, Chimaev menaklukkan Rhys McKee di kelas welter dengan KO pada ronde pertama.

Khamzat Chimaev kini mendapat kemenangan beruntun dalam 8 pertarungan di MMA.

Tidak ada kemenangannya yang diraih lewat angka, semua melalui penghentian karena kuncian atau KO.

Banyak pihak yang kemudian membandingkan sepak terjang Chimaev dengan juara kelas ringan UFC, Khabib Nurmagomedov.

Salah satu petarung paling top di UFC saat ini, Khabib Nurmagomedov juga tak terkalahkan dalam 28 pertandingannya di atas oktagon.

Chimaev semakin mirip dengan Khabib karena latar belakangnya. Chimaev lahir di Rusia, sama seperti Khabib, kendati kemudian pindah ke Swedia.

Banyak orang sekarang menyebut Khamzat Chimaev sebagai Khabib Nurmagomedov 2.0.

Ada juga sebutan KhaBig, karena Chimaev berpostur lebih besar 188 cm, 77 kg, sedangkan Khabib 178 cm, 70 kg.

Chimaev sadar betul, banyak orang yang kemudian mulai membandingkan dirinya dengan Khabib yang lebih dulu ngetop di ajang UFC.

Hal ini tidak menjadi masalah penting baginya.

“Saya suka Khabib. Orang ini nomor 1 dalam pound-for-pound. Saya pikir dia nomor 1 dalam pound-for-pound, 28 kali menang,” katanya dikutip dari beberapa sumber.

“Tapi, aku segera akan menjadi nomor 1 dalam pound-for-pound. Aku akan menjadi juara. Aku memenangkan pertarungan, penghentian. Aku akan melakukan,” tegasnya.

Chimaev juga menyatakan bahwa dia siap mengobrak-abrik kelas menengah dan welter UFC.

“Lawan-lawan yang sudah saya hadapi lebih mudah, tidak berada di level saya. Beri saya juara di kelas 77 kg (welter) dan 84 kg (menengah). Saya akan menghancurkan mereka di hari yang sama,” tukas Chimaev.

Kiprah Chimaev ini juga mendapat tanggapan dari salah satu legenda UFC, Chael Sonnen.

Chael Sonnen yang tampil sejak 1997, memang tidak hanya hebat di dalam oktagon, kharismanya juga membuat dia bertransformasi menjadi mantan petarung yang dihormati seantero UFC.

Kini segala komentarnya banyak dinilai membawa pengaruh bagi kemajuan ajang ini.

Dirinya sekarang aktif mengomentari peristiwa-peristiwa yang tengah hangat, dan salah satunya perihal Chimaev sang Khabib 2.0 ini.

Menurutnya, Chimaev yang masih bergelar debutan, nyatanya tampil bak monster yang tidak membutuhkan waktu rehat saat harus tampil kembali hanya dalam 10 hari.

Lebih mengerikan, Chimaev tampil dalam waktu yang mepet dalam dua kelas yang berbeda.

Berasal dari negeri Tirai Besi, layaknya sang juara UFC, Khabib, Chimaev nyatanya memang menunjukkan gaya pertarungan bawah yang tak kalah mempesona.

Sonnen menilai, publik harusnya tidak memberikan Chimaev julukan Khabib 2.0.

“Khamzat Chimaev, wow. Orang bilang dirinya adalah Khabib 2.0, menurut saya itu adalah nama yang lucu,” ungkap Sonnen dalam acara podcastnya.

“Saya rasa dia sekarang harus dikenal sebagai Khamzat Chimaev. Dia mendapatkan nama tersebut dengan gayanya sendiri,” imbuhnya.

Mengesampingkan pendapat orang-orang yang menilai Chmaev dapat julukan Khabib 2.0 hanya dari gaya potongan rambut yang ada, Sonnen selanjutnya membedah kenapa Chimaev berhak dapatkan namanya sendiri.

Menurut Sonnen, Chimaev tampil di oktagon UFC dengan gayanya sendiri yang sama sekali tidak seperti Khabib.

Sonnen menjelaskan, gaya tersebut adalah cara Chimaev mengalahkan lawannya dengan menghujani pukulan untuk membuat KO lawan, hal tersebut jarang dilakukan oleh Khabib.

Khabib memang memiliki kebiasaan menghajar lawannya hanya untuk menggeser ke arah pagar dan melakukan takedown bukan untuk membuat lawannya KO.

“Gaya bertarung Khabib sangat berat, penuh dengan tekanan, mendorong anda ke pagar. Semua serangan di luar hanya untuk membawa anda ke pagar,” imbuhnya.

Sedangkan Chimaev diceritakan Sonnen punya gaya bertarung yang mendominasi lawannya.

Chimaev juga punya ketangguhan untuk menyelesaikan lawannya hanya dalam satu ronde saja.

Hal tersebut bahkan dinilai Sonnen tidak dimiliki petarung UFC lain, yang akhirnya membuat Chimaev layak mendapatkan julukan untuk namanya sendiri.

“Fakta bahwa dia berhasil memenangkan pertarungan dengan TKO dalam satu ronde, beritahu saya petarung yang pernah melakukannya,” ungkapnya.

“Untuk melakukan serangan yang sangat mendominasi lawannya, itu adalah hal yang mengejutkan. Untuk melakukan aksi dominasi yang luar biasa hanya dalam waktu 10 hari dan dalam dua divisi yang berbeda, itu juga hal yang luar biasa,” imbuhnya.

Terlepas dari perdebatan tersebut, Chimaev memang telah berhasil menunjukkan eksistensinya di UFC.
Seusai duelnya kemarin (26/7/2020), dirinya bahkan menebar teror bakal segera mengamuk dan menjadi petarung nomor satu di kelasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.