Khafidin, Penjual Tiram Bakar Di Pantai Ngebum Dengan Omzet Rp 1 Juta Sekali Jualan

Khafidin mengolah tiram dagangannya di objek wisata Pantai Ngebum Desa Mororejo Kaliwungu, Kendal.

 

HALO KENDAL – Berbicara soal kuliner seafood, tiram mungkin menjadi salah satu olahan masakan yang sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan masyarakat.

Ya Tiram, satu di antara jenis biota laut kategori kerang ini nampaknya cukup terkenal di kalangan masyarakat pesisir seperti di wilayah Kendal.

Meski bentuk luarnya tak beraturan seperti batu karang, namun tiram mengandung nutrisi yang cukup tinggi. Daging tiram sendiri bisa saja dimakan langsung mentah-mentah, tanpa tersentuh api atau panas.

Di salah satu objek wisata Pantai Ngebum Desa Mororejo Kaliwungu, Kendal, terdapat pedagang menu khas tiram, yang hanya berjualan di akhir pekan dan mungkin hanya satu-satunya di sana.

Sang pedagang, Khafidin, penduduk asli Mororejo, selama dua tahun berjualan, hanya fokus dengan bisnisnya sebagai penjual jajanan tiram, yang ia olah dengan cara dibakar.

Berbekal alat capit, pisau dan tungku panggangan, pria 33 tahun ini cekatan mengolah tiramnya agar bisa dikonsumsi. Biasanya, Khafidin sudah mangkal di posnya tak jauh dari pintu masuk pantai setiap Minggu pagi pukul 05.30 – 17.00 WIB.

“Saya mulai jualan sejak akhir 2018 lalu. Namun saat itu masih sepi pembelinya, mungkin karena tampilan luarnya yang kurang menarik,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, tiram bakar buatannya mulai laris. Menurutnya, kebanyakan konsumen tertarik karena rasa penasaran dengan apa yang ia jual.
“Kalau ada wisatawan yang bertanya ya saya jelaskan, tentang khasiat-khasiat tiram saat dikonsumsi. Biar tidak penasaran,” kata Khafidin.

Soal harga, menurutnya cukup bersahabat dan ramah di kantong. Satu porsi tiram bakar dibandrol Rp 25.000.

Setiap porsinya berisi 16-18 item tiram yang disajikan dalam nampan kayu lengkap dengan saos dan kecap.

“Kebanyakan orang memakannya dengan cara mencocol daging tiram dengan saos dan kecap yang dicampur minyak wijen dan lemon,” ujar Khafidin.

Akan tetapi, lanjutnya, untuk menikmati makanan yang satu ini, calon konsumen harus rela antre hanya untuk menikmati jajanan tiram. Karena proses pembakaran tiram yang memerlukan waktu.

“Ya memang harus dibakar dulu sampai matang. Butuh waktu dan kesabaran. Belum kalau banyak yang pesan, mau nggak mau harus antre,” terangnya.

Khafidin menjelaskan, tiram-tiram tersebut didapatkan dari berburu di konservasi tiram Kalikawak perairan Mororejo, Kendal. Awalnya, dia bersama teman lain mencarinya setiap Kamis-Sabtu.

“Stok yang dihasilkan kemudian saya bersihkan, dan saya biiarkan terendam dalam air asin guna menjaga agar tiram tetap hidup dan bersih dari lumpur. Kalau sekarang, saya tinggal menerima pasokan tiram setiap minggunya untuk dijualkan setiap akhir pekan,” ungkapnya.

Diakui, dalam beberapa waktu terakhir tiram bakar bikinannya mulai digemari banyak orang. Setiap harinya ia bisa menghabiskan 18 keranjang tiram atau 50 porsi tiram bakar. Omzetnya pun cukup menjanjikan.

“Saat ramai pembeli, Alhamdulillah omzet saya bisa mencapai Rp 1 juta dalam sehari. Keuntungannya pun mencapai 100 persen dari modal yang saya keluarkan,” ungkap Khafidin.

Hal tersebut didukung dengan tidak adanya penjual tiram lain di wilayah Pantai Ngebum. Meski sebagian pedagang, ada yang menjual masakan kerang seperti kerang hijau maupun jenis kerang lainnya.

Sebelum menjadi penjual tiram bakar, Khafidin yang juga bekerja di Kawasan Industri Kendal (KIK), memiliki prinsip jualan yang cukup unik.

Yakni, ia hanya ingin berjualan makanan yang jarang dijual oleh pedagang umumnya.

“Saya ingin memberikan kesan khusus dagangan saya kepada masyarakat, tanpa harus meniru-niru pedagang lain. Saya juga tidak mau berdagang di suatu tempat, yang sudah ada penjual makanan yang sama dengan yang saya jual,” tandasnya.

Menurutnya, itu adalah prinsip yang dia pegang selama ini. Jadi tidak mau berdagang dengan mematikan pasaran pedagang lain dan berusaha beda dengan rejeki masing-masing.

Khafidin juga mengaku, guna pengembangan bisnis, dirinya masih mencari tempat yang strategis untuk membuka cabang. Namun, saat ini ia masih ingin fokus mengembangkan bisnis tiram bakarnya yang ada di lokasi Pantai Ngebum.

“Sebenarnya saya pernah coba jualan di Kaliwungu Kota, namun sepi karena mungkin suasananya, berbeda dengan saat di pantai. Saat ini fokus yang di sini dulu, kita kenalkan kepada banyak orang tentang rasa gurih tiram bakar,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.