Ketika Covid-19 Memukul Pariwisata, WCC Kampanyekan Wisata Bali

Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Kudus Dr. Hartopo saat menyambut WCC Indonesia di Kedai Dede. (Foto : Kuduskab.go.id)

 

HALO KUDUS – “Sekarang serba berat Mas. Dulu kami bisa menjual apa saja di Bali. Pembelinya adalah wisatawan. Sekarang, ketika wisatawan manca tak datang, pendapatan kami jauh merosot,” tutur Dian, seorang pengusaha di Denpasar, Bali.

Dia menuturkan, dulu ketika para wisatawan mancanegara masih banyak yang datang, perekonomian di Bali berjalan dengan baik. “Saya bisa berjualan apa saja. Mulai dari kerajinan hingga makanan,’’ kata dia.

Dia menuturkan, makanan yang dia jual di warungnya, justru bukan hanya kuliner khas Bali, melainkan masakan Jawa. Sayur sop, sayur asem, bandeng goreng, dan mie, dan kering tempe adalah sebagian yang disajikan untuk para pelanggan.

“Kami sengaja menyediakan masakan Jawa, untuk melayani para wisatawan dan pendatang dari Jawa,” tuturnya.

Tetapi pandemi Covid-19 telah menghancurkan segalanya. Ketika wisatawan tak lagi datang dan industri pariwisata berhenti, semua sektor kehidupan juga kena dampaknya. Kini dia hanya bisa menjual sekitar 50 persen, dibanding sebelum pandemi.

Pukulan berat pandemi Covid-19 pada sektor pariwisata, juga diiyakan oleh Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace).

Menurut dia, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali, terjun bebas hingga 99,97 persen pada Mei 2020. Akibatnya Bali mengalami kerugian sekitar Rp 9,7 triliun setiap bulan dari sektor pariwisata saja.

Hancurnya sektor pariwisata ini, membuat enam perempuan anggota  Women Cycling Community (WCC) Bali untuk berbuat sesuatu. Mereka pun bersepeda dari Jakarta ke Denpasar, dalam kegiatan bertajuk 1.000 Km for Bali Pulih.

Mereka bersepeda mulai 1 November lalu dari Jakarta, melalui berbagai kota, antara lain Bandung, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Kudus, Tuban, Surabaya, Probolinggo, Situbondo, Gilimanuk, dan berakhir di Denpasar.

Para srikandi sepeda, terdiri atas Lara, Ocha, Riris, Mahayanthi, Gita dan Kasih itu, memang harus menyiapkan banyak tenaga untuk bisa sampai di titik akhir. Bagi orang yang bukan dari kalangan atlet sepeda, perjalanan tersebut sungguh tak ringan.

“Selamat datang di Kudus. Kudus sangat terbuka untuk para tamu maupun wisatawan dari berbagai wilayah di Indonesia. Kami menyambut baik kegiatan ini,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Kudus Dr. Hartopo, saat menyambut WCC Indonesia di Kedai Dede, Minggu (8/11).

Momen tersebut juga dimanfaatkan oleh Plt. Bupati Kudus untuk mengenalkan potensi wisata di Kota Kretek. Harapannya, setelah kegiatan tour sepeda tersebut selesai, mereka dapat menjadikan Kudus sebagai tujuan berwisata.

“Kudus kaya akan potensi wisata. Ada kopi Muria, soto, sate kerbau, dan berbagai kuliner lainnya. Tak kalah, wisata religi Sunan Kudus dan Sunan Muria. Alam Kudus yakni keindahan dan potensi Gunung Muria pun cukup menjanjikan,” ujarnya.

Hartopo juga menawarkan investasi kepada peserta WCC. Pihaknya mengatakan, Kudus sangat terbuka dan mendukung iklim investasi yang sehat dan mudah.

“Monggo, bagi yang ingin berinvestasi di Kudus kami persilakan. Kami pastikan kemudahan dan iklim investasi yanh sehat ada di sini,” imbuhnya.

Terakhir, Plt. Bupati Kudus mengingatkan pentingnya penerapan protokol kesehatan secara disiplin. Selain itu, pihaknya mendoakan agar kegiatan WCC berjalan lancar dan sukses.

“Jangan lupa untuk terus disiplin protokol kesehatan. Terakhir, saya doakan kegiatan ini sukses dan selalu jaga keselamatan,” kata dia.

Para wanita tangguh ini, Minggu pagi kemarin singgah sejenak di Kota Semarang. Ketua WCC Nusantara, Trilara Prasetya Rina, mengatakan bahwa pandemi Covid19 sangat berdampak pada sektor pariwisata.

Pandemi membuat Sektor pariwisata lumpuh, karena sejak awal pandemi harus ditutup untuk menekan penularan covid-19. Padahal, 90 persen pendapatan masyarakat Bali adalah dari sektor pariwisata.

“Pandemi telah membuat Bali menjadi sepi. Kampanye Bali Pulih ini, menjadi awal untuk menuju perubahan tatanan kehidupan di sektor wisata Bali di era kenormalan baru,” ungkapnya.

Ia pun juga mengajak para kaum perempuan untuk ikut aktif berpartisipasi menyebarkan pesan positif, tentang protokol kesehatan di segala kegiatan.

Sehingga pada saat pariwisata kembali dibuka, bukan hanya pengelola pariwisata yang menerapkan protokol kesehatan, masyarakat pun melakukan hal serupa.

“Tetap memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak, sebagai penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 ketika berwisata,” tuturnya.

Direncanakan para pesepeda ini akan tiba di Bali, 14 November 2020. Selama singgah di beberapa kota mereka mendapatkan sambutan hangat dari komunitas sepeda setempat. Di Kota Semarang pun mereka juga disambut hangat oleh para komunitas sepeda di Semarang. Mereka pun berangkat dari Semarang dilepas oleh para ketua WWC dari lima regional di Jawa tengah. Mereka berangkat dari Balai Kota Semarang pada Minggu (8/11) pagi.

Dampak Signifikan

Sebelumnya, Koordinator Staf Khusus Presiden AAGn Ari Dwipayana, mengatakan  berdasarkan data, pandemi Covid-19 telah memberikan dampak cukup signifikan pada Bali.

Pertumbuhan ekonomi terkontraksi cukup dalam pada kuartal-II 2020, yaitu -10.98%.

Walaupun demikian penanganan Covid-19 di Bali cukup terkendali dengan angka positivity rate lebih rendah dibanding rerata nasional dan tingkat kesembuhan yang lebih tinggi dibanding rerata nasional. Fatality rate atau tingkat kematian akibat Covid-19 di Bali juga bisa ditekan hingga hanya 1,6%.

Menurut Ari, berdasarkan data tersebut, pemulihan sektor pariwisata di Bali akan memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata Indonesia secara keseluruhan.

“Untuk itu berbagai persiapan untuk memulihkan kepercayaaan dan membuat wisatawan merasa aman untuk datang ke Bali kembali sangat diperlukan,” kata Ari dalam pertemuan dengan Gubernur Bali I Wayan Koster dan Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Bali Dewa Made Indra di Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu.

Ari mengingatkan, perlunya kebijakan Safe Travel untuk mendorong wisatawan kembali mengunjungi tempat wisata. Terlebih, saat ini kalangan kelas menengah dinilai masih ragu untuk bepergian, karena masih adanya pandemi Covid-19.

Karena itu, semua pelaku pariwisata harus menekankan kesehatan dan keamanan wisatawan menjadi prioritas. Protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan lingkungan atau Clean, Healty, Safety, Environment (CHSE) di di hotel, area fasilitas umum, transportasi serta destinasi wisata harus betul-betul berjalan.

“Pemerintah Provinsi Bali juga perlu terus melakukan simulasi, pengecekan dan supervisi agar kegiatan wisata berjalan sesuai protokol kesehatan,” ujarnya.. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.