Ketat, Protokol Kesehatan Pemungutan Suara di Pekalongan

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pekalongan  Rahmi Rosyada Thoha. (Foto : Jatengprov.go.id)

 

HALO PEKALONGAN – Pilkada serentak tidak akan menimbulkan klaster penularan baru Covid-19, asalkan protokol kesehatan dilaksanakan secara ketat. Dengan demikian masyarakat tidak perlu ragu-ragu untuk melaksanakan hak pilihnya, dalam hajatan demokrasi tersebut.

Penekanan tentang pentingnya protokol kesehatan saat pencoblosan tersebut, antara lain ditegaskan oleh Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pekalongan, Rahmi Rosyada Thoha, seperti dirilis jatengprov.go.id, Sabtu (14/11).

Menurutnya, protokol kesehatan pemungutan suara oleh PPK, PPS, dan masyarakat harus dipatuhi. Ketika berada di tempat pemungutan suara, semuanya perlu mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Penyelenggara pungutan suara juga harus melakukan beberapa langkah preventif, yakni penyemprotan berkala di seluruh TPS dengan cairan disinfektan

“Sebelum pencoblosan, semua lokasi TPS disemprot (dengan) disinfektan secara berkala, untuk memastikan benar-benar bersih, serta jumlah pemilih di TPS juga dibatasi hanya 500 orang dari sebelumnya yang mencapai 800 orang,” beber Rahmi.

Seluruh petugas juga dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) lengkap, mulai dari masker, sarung tangan lateks, dan face shield.

Mereka juga wajib menjalani tes cepat (rapid test) terlebih dahulu. Hanya yang benar-benar sehat, yang bisa melaksanakan tugas.

Pemilih yang datang ke TPS, juga wajib mengenakan masker. Panitia juga menyiapkan stok masker serta tempat cuci tangan yang dilengkapi dengan sabun dan tisu. Sarana tersebut disediakan secara gratis.

“Namun apabila ada yang tidak menggunakan masker, panitia telah menyediakan masker untuk diberikan kepada pemilih. Penerapan physical distancing atau jaga jarak minimal satu meter akan dilakukan di TPS, pengecekan suhu tubuh akan dilakukan saat memasuki TPS, sebelum dan sesudah mencoblos tersedia tempat cuci tangan untuk melakukan sterilisasi tangan dan dikeringkan dengan tisu,” ujar Rahmi.

Rahmi mengungkapkan, dalam Pasal 71 ayat (3) PKPU Nomor 6 Tahun 2020, disebutkan pemilih dengan suhu tubuh 37,30 derajat celcius atau lebih, harus mendapatkan perlakuan khusus. Pemilih bersangkutan akan diarahkan ke tempat khusus yang disediakan di luar TPS (bilik khusus) dan terpisah dengan pemilih lainnya.

Menurutnya, saat hendak mencoblos, pemilih diberikan sarung tangan sekali pakai untuk menghindari penularan Covid-19. Lalu, panitia akan meneteskan tinta dengan pipet pada ruas jari setiap pemilih usai mencoblos.

“Panitia telah menentukan jam (waktu) kedatangan ke TPS. Hal ini dilakukan, untuk meminimalisasi adanya kerumunan, dan agar tetap jaga jarak. Jadwal kedatangan pemilih diatur dalam pemberitahuan lembar C6, sehingga tidak serta merta pemilih itu dari jam tujuh (pukul 07.00) sampai jam satu (pukul 13.00) hadir, tetapi kita jadwal,” kata Rahmi. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.