Keripik Pare Weleri, Tembus Pasaran Hingga Natuna

Istikharoh menunjukkan berbagai sertifikat dan penghargaan atas usahanya membuat keripik, Senin (26/10/2020).

 

HALO KENDAL – Berawal dari melayani pesanan tetangga, untuk diminta dibuatkan jajanan keripik, membuat Istikharoh memberanikan diri untuk membuat aneka keripik sendiri dengan tujuan diperdagangkan.

Warga Desa Ngasinan, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal ini mengatakan, tahun 2016 menjadi awal dari usaha kecil yang dibangun Istikharoh dengan membuat jajanan keripik dari kacang ijo, pare, dan mlinjo.

“Pada awal setelah mendapat pesanan dan mendapat respon positif dari tetangga, kemudian saya memberanikan diri untuk bermodal dalam berjualan jajanan keripik ini,” kata Istikharoh, Senin (26/10/2020).

Setelah itu, kemudian dilanjut dengan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Dinperinkop).

“Dulu memang dari pesanan awal, katanya enak. Terus saya coba untuk berani membuat dan dijual. Setelah itu juga saya beranikan diri untuk ikut pelatihan tentang Tata Boga,” terang Istikharoh.

Usai mengikuti pelatihan, dirinya mulai yakin dan terus mengembangkan pemasaran ke berbagai warung dengan cara menitipkan, termasuk penjualan pesanan lain.

Lantaran pesanan yang diterimanya mulai mengalami peningkatan, pada tahun 2019 Istikharoh kembali mengikuti pelatihan tentang pengemasan (packaging).

“Awal usaha hanya mampu manghabiskan setidaknya 1-2 kilogram tepung dalam sehari, dan Alhamdulillah saat ini telah meningkat menjadi 5 hingga 10 Kilogram tepung dalam waktu sehari,” jelasnya.

Keripik dengan label “Berkah” kini telah menembus pasar nasional, bahkan sampai ke wilayah luar Jawa.

”Saat ini penjualan juga dari online, pernah juga pesanan keripik sampai ke Natuna, khususnya keripik Pare,” imbuh Istikharoh.

Dijelaskan, untuk keripik yang menjadi penjualan terbaik adalah keripik pare, kemudian keripik kacang ijo. Keripik pare ini memang dibuat dengan bahan baku pare, yang memiliki sita rasa pahit.

Namun dengan kemampuannya mengolah pare, keripik yang dihasilkannya tidak sedikit pun meninggalkan rasa pahit.

“Untuk keripik pare memiliki rasa tersendiri dari keripik pare lainnya. Menurut pengakuan dari para pelanggan, jika keripik pare kami tidak memiliki rasa pahit,” ungkapnya.

Terkait harga jual keripik buatanya, menurut Istikharoh dijual dengan harga terjangkau, yaitu dengan harga Rp 10.000 untuk keripik melinjo, kacang ijo (tumpi) dan keripik pisang dengan kemasan 2 ons, dan harga Rp 15.000 untuk keripik pare.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.