Kemlu Investigasi Dugaan Penghinaan Raja Malaysia

Juru Bicara  Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Teuku Faizasyah (Foto: Kemlu)

 

HALO SEMARANG – Dalam beberapa hari terakhir ini, Kementerian Luar Negeri Indonesia disibukkan oleh unggahan-unggahan provokatif, yang bisa merusak hubungan baik Indonesia dan Malaysia.

Setelah sebelumnya lagu parodi ‘Indonesia Raya’, kini muncul unggahan foto di Instagram yang menghina Raja Malaysia, Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah.

Juru Bicara  Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Teuku Faizasyah mengatakan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Malaysia, sedang melakukan investigasi terkait unggahan di media sosial  yang diduga menghina Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah.

“KBRI KL sudah memberikan laporan awal atas kejadian ini dan saat ini sedang diinvestigasi. Saya tidak tahu keberadaan terduga pelaku,” kata Faizasyah dalam keterangannya, Sabtu (2/1).

Faizayah menegaskan hubungan dan komunikasi pemerintah Indonesia dan Malaysia terjalin dengan baik. Tetapi dengan adanya unggahan macam ini, dapat akan mengganggu hubungan antarmasyarakat.

“Hubungan dan komunikasi antarpemerintah telah berjalan dengan baik. Hubungan antarmasyarakat yang rentan terganggu apabila ada perilaku tidak terpuji serupa ini,” katanya.

Karena itu dia mengimbau masyarakat, untuk menghindari perilaku tidak terpuji yang dampaknya bisa mengganggu hubungan baik antar kedua negara. Faizasyah juga mengingatkan setiap pelanggaran hukum ada sanksinya.

Sebelumnya, akun media sosial @bukan_bangjago mengunggah foto Raja Malaysia yang sudah diedit sedemikian rupa, secara tidak pantas.

Menanggapi kasus itu, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) juga sedang memburu pelaku penghinaan tersebut. Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Rusdi Hartono mengatakan sedang menyelidiki kasus ini.

Tak menutup kemungkinan, jika pelakunya ada di Indonesia, pihaknya melakukan tindakan tegas.

Parodi

Sebelumnya, Polri bersama Polisi Diraja Malaysia juga berhasil mengungkap Kasus video penghinaan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Seperti dirilis Tribratanews.polri.go.id, pada kasus ini Dittipidsiber Bareskrim Polri menangkap MDF (16) di Cianjur, Jawa Barat, yang merupakan pembuat akun yang menyebarkan sekaligus pembuat video pelecehan lagu kebangsaan tersebut.

Polisi Diraja Malaysia juga menangkap NJ (11), WNI yang mengikuti orang tuanya bekerja di Sabah, Malaysia sebagai TKI. NJ turut berperan membuat kanal YouTube, yang berisi video penghinaan lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang disebar oleh MDF.

Selain membuat kanal YouTube, NJ juga turut mengedit video tersebut dengan menambahkan gambar hewan babi.

Kadiv Humas Polri Irjen Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono SIK MSi  mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan Polri, keduanya berteman di dunia maya dan sering berkomunikasi.

Namun dari NJ dan MDF terjadi pertengkaran, sehingga MDF membuat video parodi Indonesia Raya tersebut dengan mengganti lirik lagu dengan nama NJ.

“Hasil pemeriksaan bahwa NJ dan MDF berteman di dunia maya, keduanya sering berkomunikasi. Tapi terjadi pertengkaran, sehingga MDF membuat video parodi instrumental dan lirik video Indonesia Raya dengan nama NJ beserta nomor telepon dan tag lokasi di Malaysia, sehingga yang dituduh adalah NJ,” ucap Kadiv Humas Polri saat konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (1/1).

Polri kemudian melakukan pendalaman dan ditemukan bahwa NJ turut membuat kanal YouTube dan membuat video kemudian disebar. Sehingga Polri menetapkan bahwa keduanya sama-sama membuat video.

Dittipidsiber Bareskrim Polri turut mengamankan barang bukti berupa handphone, SIM card, perangkat PC, akta kelahiran, dan KK dari tersangka MDF yang berada di Cianjur.

“Barang bukti yang diamankan berupa HP, SIM card, akta kelahiran, dan KK dari MDF. Yang bersangkutan sudah berada di Bareskrim Polri, sedangkan NJ masih berada di Malaysia,” ujar Kadiv Humas Polri.

MDF kini telah ditetapkan sebagai tersangka, dan karena masih berada di bawah umur, sehingga Polri menggunakan UU Anak. Namun Polri terus melakukan pendalaman terhadap motif keduanya. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.