in

Kementerian LH, Pemkab Rembang dan Ponpes Nurul Mustofa Sepakat Lestarikan Hutan Gunung Lasem

Kementerian LH, Pondok Pesantren Nurul Mustofa, dan Pemkab Rembang berfoto bersama dalam acara penandatanganan kerja sama pelestarian Hutan Gunung Lasem, menjadi hutan serbamanfaat. (Foto : Rembangkab.go.id)

 

HALO REMBANG – Pondok Pesantren Nurul Mustofa di Rembang, berkomitmen untuk ikut melestarikan flora dan fauna Hutan Gunung Lasem, sebagai “paru-paru” wilayah Lasem dan sekitarnya. Terlebih lokasi pondok pesantren tersebut berada di tengah hutan.

Komitmen itu disampaikan pengasuh Ponpes Nurul Mustofa, Saifullah Abdullah, atau akrab disapa Gus Saiful, dalam acara penandatanganan memorandum of understanding, dengan Kementerian Lingkungan Hidup, Pemkab Rembang, dan sejumlah pihak terkait.

Dia mengatakan setelah adanya MoU ini, pihaknya akan menindaklanjuti upaya perlindungan satwa dan flora di gunung Lasem ini, sekaligus menjadikan Hutan Gunung Lasem, sebagai kawasan yang memberikan banyak manfaat untuk masyarakat.

“Kami bersama santri, nantinya ikut menjaga satwa, termasuk dalam hal penghijauannya. Agar di sini bisa menjadi paru-paru pesisir pantai utara,” kata dia, seperti dirilis Rembangkab.go.id.

Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang, Fahruddin menyampaikan potensi sumber daya hutan, sangat penting untuk dipertahankan keberadaannya, eksploitasi yang bijaksana dengan mempertahankan prinsip-prinsip kelestarian, menjadi tanggung jawab bersama dalam mewujudkan tata kelola hutan yang baik.

Sekda mengatakan perlunya mempertahankan keberadaan hutan, karena luas kawasan hutan di Kebonharjo mencapai 17.734,6 hektare. Khusus bagian Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Gunung Lasem, seluas 2.640,84 hektare, mayoritas jenis tanaman rimba hutan campuran (RBC) kelas hutan alam sekunder (HAS).

“Kawasan Hutan Kebonharjo meliputi 3 kabupaten, yaitu Tuban  3.054,44 hektare, Blora   1.589,08 hektare dan Rembang  13.088,08 hektare,” imbuhnya.

Sekda menambahkan sebagian besar wilayah Gunung Lasem, berada di Kecamatan Lasem. Walaupun demikian ada beberapa bagian yang juga masuk ke kecamatan lain, seperti Kecamatan Sluke, Kecamatan Sedan, Kecamatan Kragan, Kecamatan Pamotan, dan Kecamatan Pancur.

Di mana puncak tertinggi dari Gunung Lasem adalah Puncak Argopuro, yang berada di ketinggian 806 meter di atas permukaan laut (MDPL).

Sekda menyebutkan Untuk flora mayoritas di Gunung Lasem, yaitu segawe, alpukat, sukun, johar, sonokeling, weru, kemiri, dan jaranan.

Sekda menerangkan Satwa yang ada mayoritas burung trucukan, ciblek, kutilang, kera ekor panjang, sirtu, perkutut, dan biawak. Juga ada informasi, bahwa pada blok hutan Gunung Lasem dan sekitarnya, kadang muncul macan tutul (Panthera pardus). Sehingga perlu mendapat perhatian dan ditindaklanjuti dengan pemasangan kamera trap.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup, Wiratno menyampaikan pihaknya datang ke Rembang juga ingin mempertahankan fauna di Gunung Lasem, yang mulai kekeringan di musim kemarau. Sehingga pihaknya bekerja sama dengan Pondok Pesantren Nurul Musthofa akan menanami pohon di bawah hutan tegakan.

“Seperti yang termaktub di dalam Quran Surat Ar-Rum ayat 41 bahwa manusia yang berbuat kerusakan manusialah yang harus memperbaiki bumi itu sendiri, ” imbuhnya.

Ke depan di sana juga akan ditanami pohon randu. Setelah itu bisa dikembangkan budi daya lebah, yang nantinya bisa menghasilkan madu.

“Hubungannya juga dengan SMK ini (budidaya lebah-red), di sini ada SMK kehutanan. Gedungnya rencana dibangun di sini, SMK Rimba Taruna,” ungkapnya.

Sebelum kegiatan yang dimulai di wilayah Ponpes Nurul Mustofa, Dirjen LH Wiratno berkesempatan bertemu Bupati Rembang H Abdul Hafidz di Rumah Dinas Bupati. Di sana Wiratno memberikan buku yang ditulisnya. (HS-08)

Share This

Cegah Korupsi, Bupati Pati Siap Terapkan MCP dari KPK

Satlantas Polres Boyolali Bakal Segera Gelar Operasi Patuh