Kemenag: Bangunkan Sahur Secara Santun

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kementerian Agama, Mohammad Agus Salim

 

HALO SEMARANG – Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kementerian Agama, Mohammad Agus Salim, mengatakan tradisi membangunkan sahur harus disampaikan dengan cara-cara yang santun, baik, dan sopan, agar keutamaan dan keberkahan tetap terjaga.

“Membangunkan sahur itu adalah perbuatan baik. Tetapi juga perlu dilakukan dengan cara yang santun dan baik, untuk menambah kualitas kebaikan itu sendiri,” ujar Mohammad Agus Salim, di Tangerang, seperti dirilis Kemenag.go.id, Sabtu (24/4).

Ketika membangunkan orang untuk makan sahur, juga harus memperhatikan hak kepentingan pribadi orang lain. Jangan sampai mengganggu hak-hak orang lain. Misalnya orang yang sedang sakit, punya bayi atau anak kecil, atau pun warga non muslim.

Hal ini menurut Agus Salim, sejalan dengan semangat moderasi beragama yang dalam beberapa tahun terakhir didengungkan Kemenag. “Bahkan dalam diskursus moderasi agama tentu saja tidak hanya milik tradisi Islam, tapi juga untuk agama lainnya,” tutur Agus.

Dia mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Karena itu moderasi beragama menjadi penting untuk diimplementasikan, untuk merawat harmoni antaragama dan tradisi kebudayaan masyarakat setempat.

Sementara itu, Pelaksana Subdirektorat Kemasjidan Fakhry Affan mengungkapkan, sejak tahun 1978 Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, telah mengeluarkan tuntunan penggunaan pengeras suara.

Intruksi tersebut tertuang dalam KEP/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar dan Musalla.

“Takmir masjid juga harus tegas mengatur penggunaan alat pengeras suara atau Toa masjid, misalnya untuk membangunkan sahur pada pukul 02.30 – 03.00 dan 03.30, durasi penggunaannya cukup satu menit, dengan suara yang baik dan cara yang baik,” ujarnya

Menurut Fakhry, di sinilah pentingnya mengimplementasikan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin di tengah kompleksitas kehidupan keagamaan baik masyarakat perdesaan maupun perkotaan, sebagai jalan moderat yang diejawantahkan dalam Pancasila sebagai nilai-nilai moral publik.

Pertanyakan Etika

Sebelumnya, jagad dunia maya diramaikan oleh unggahan Zaskia Adya Mecca, yang mempertanyakan etika membangunkan sahur dengan menggunakan pengeras suara.

Menurutnya, cara membangunkan orang seperti itu cukup mengganggu, apalagi bagi mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa.

“Cuma mau nanya ini, bangunin model gini lagi hits katanya?! Terus etis enggak pake toa masjid bangunin model gini? Apalagi kita tinggal di Indonesia yang agamanya pun beragam. Apa iya dengan begini jadi tidak menganggu yang tidak menjalankan sahur!” tulis Zaskia di Instagram, Kamis (22/4). (HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.