Kemenag Akselerasikan Peningkatan Kapasitas PTKIN dengan RAISE University

Foto : kemenag.go.id

HALO SEMARANG – Kementerian Agama akan mengakselerasi peningkatan kapasitas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), secara berkelanjutan mulai 2021.

Dirjen Pendidikan Islam (Pendis), Muhammad Ali Ramdhani mengatakan, ada lima upaya peningkatan kualitas institusi pendidikan, semuanya terangkum dalam Responsibility, Accountability, Integritas, Sustainability, dan Empower (RAISE) University.

“Secara prinsip, apa yang kita canangkan sesungguhnya sudah melampaui ekspektasi. Ketika membangun pilar-pilar penting dalam penyelenggaraan pendidikan, perlu dilakukan peningkatan kapasitas berkelanjutan sebuah institusi, melalui model RAISE University,” ungkap Ali Ramdhani dalam Rapat Koordinasi PMU-PIU Project Four in One The Islamic Development Bank UIN Mataram 2020 di Mataram, Lombok, baru-baru ini.

“RAISE secara terminologi adalah sebuah keinginan besar jajarannya agar institusi dapat tumbuh berkembang berkelanjutan,” kata pria yang akrab disapa Dhani ini.

Pertama, penguatan responsibility. Apapun yang dilakukan hari ini harus dipertanggungjawabkan dengan baik dan harus dituangkan dalam bentuk formal sebagai laporan. Tanggung jawab adalah muara dari sebuah kepercayaan dan kehidupan ini amat bergantung dengan sebuah kepercayaan. Maka, wujud nyata dari tanggung jawab adalah kepercayaan.

“Dan tanggung jawab ini bukan hanya bersifat duniawi, namun juga tanggung jawab yang bersifat transendental,” imbuh Dhani.

Kedua, peningkatan accountability. Yaitu, mekanisme laporan yang memenuhi kaidah-kaidah yang dapat dipahami orang lain. Dalam ruang accountability, kebaikan jika tidak dibingkai dengan administrasi yang baik, bisa dipandang sebagai kejahatan. Sebaliknya, kejahatan apabila dibingkai dengan pola administrasi yang baik, bisa jadi dipandang sebagai sebuah kebaikan.

“Kinerja dan kebaikan yang kita lakukan harus didukung tata administrasi yang baik sehingga akuntabel,” jelasnya.

Ketiga, peneguhan integritas. Akuntabilitas harus beriringan dengan integritas. Kejujuran harus jadi mainstream dengan apapun yang dilakukan. “Tanggung jawab harus diberikan ruang-ruang accountability dan dikawal oleh orang-orang yang berintegritas,” pesannya.

Keempat, kepastian sustainability. Kalau hari ini, ruang-ruang yang sifatnya fisikal sudah diselesaikan, maka sesuatu yang intangible akan hadir melengkapi kebutuhan business process dalam meneguhkan tridharma perguruan tinggi.

“Pekerjaan kita belum selesai, masih banyak hal yang perlu kita improve kembali, terutama pada ruang-ruang yang intangible. Apa yang hari ini dicanangkan perlu dirumuskan kembali tentang capaian-capaian di masa depan, akreditas institusi harus A (unggul),” ujar Dhani.

Kelima adalah empowering. Dirjen Pendis berharap, keberhasilan yang telah dicapai dapat ditularkan ke seluruh mitra, baik ke junior maupun sejawat. Kemampuan menangani persoalan, serta tekanan dari masyarakat harus menjadi bagian penting untuk ditularkan ke yang lain hingga lahir generasi tangguh di masa mendatang, sehingga organisasi tidak pernah mati.

“Seperti apapun, kita akan semakin menua, waktu pengabdian kita akan selesai. Tapi kita berkewajiban membangun kader-kader yang kita harap memiliki kapasitas yang lebih baik dari kita. The best teacher is experiences, guru terbaik adalah pengalaman,” tukas Dhani.

Dhani mengajak civitas akademika PTKIN untuk bersama melakukan empowering dengan memperkokoh kebersamaan, tumbuh, maju dan berkembang dengan pendekatan yang harmoni.

“Tidak ada satupun manusia yang mampu maju di dalam ruang bebas, tanpa menyelesaikan harmoni di lingkungannya. Apabila universitas sudah selesai dengan ruang domestiknya, maka dia akan berlari kencang. Karena tantangan kita bukan tantangan domestik, melainkan tantangan yang jauh lebih besar. Mari berkarya dan mengabdi untuk kemajuan republik yang kita cintai,” tutupnya. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.