Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Keluhan Pelayanan BRT Paling Banyak Komplain Terkait Kru Sopir dan Kondisi Armada

Kepala Badan Layanan Umum Unit Pelaksana Teknis Dinas Trans Semarang, Ade Bhakti Ariawan.

 

HALO SEMARANG – Hingga Senin, 14 Oktober 2019, BRT Trans Semarang telah menerima sebanyak 467 keluhan dan saran dari masyarakat pengguna BRT. Jumlah keluhan tersebut menurun jika dibandingkan pada tahun 2018 lalu, sebanyak 756 keluhan yang diterima baik melalui Call center 1-5000-94, media sosial Facebook, Twitter, dan Instagram @Transsemarang, juga melalui aplikasi lapor Hendi.

Keluhan yang masuk ini terbagi menjadi 15 kategori. Dan yang terbanyak terkait pelayanan sopir bus BRT sebanyak 94 keluhan, dan kondisi armada sebanyak 94 keluhan, serta pelayanan petugas tiketing armada dan lain-lain.

Kepala Badan Layanan Umum Unit Pelaksana Teknis Dinas Trans Semarang, Ade Bhakti Ariawan megatakan, sejak bergabung dengan Trans Semarang pada Januari 2017, keluhan dan saran mulai dimasukkan sebagai prioritas. Dia ingin mengetahui pelayanan BRT Trans Semarang dari sisi pengguna, dan keluhan serta saran akan digunakan untuk memperbaiki pelayanan yang masih dirasa kurang.

“Sejak dibuka layanan pengaduan, masyarakat bisa menyampaikan kejadian terkait pelayanan yang dianggap masih kurang. Kami jadikan sebagai motivasi untuk terus memperbaiki pelayanan sesuai dengan hastag Trans Semarang yakni #TerusBerbenah,” ungkapnya, Rabu (16/10/2019).

Ade menyebutkan, di tahun 2017 menerima 670 keluhan, kemudian di tahun 2018 sebanyak 756 keluhan, dan hingga Oktober 2019 keluhan yang masuk sebanyak 467 laporan. Pembenahan dan inovasi dilakukan guna meningkatkan jumlah penumpang. Dan hasilnya di tahun 2019, pengguna jasa Trans Semarang setiap hari mencapai 33.000 orang.

“Dibandingkan periode yang sama tahun 2018, keluhan cenderung menurun. Keluhan yang turun paling drastis adalah keluhan terkait sopir. Tahun 2019 sebanyak 94 keluhan, sedangkan hingga Oktober 2018 sebanyak 150 keluhan,” terangnya.

Ada keluhan yang justru naik dibanding tahun lalu, yakni keluhan kondisi armada. Pada bulan Oktober tahun 2018 sebanyak 75 keluhan diterima, dan hingga Oktober tahun 2019 sebanyak 94 keluhan. Hal ini dikarenakan beberapa armada di koridor 3 dan 4 habis masa usia kendaraan dan saat ini tengah diremajakan.

“Saat ini BRT Trans Semarang telah memiliki 7 koridor dan rute bandara malam. Trans Semarang berencana menambah satu koridor, yakni koridor ke-8 tahun ini. Saat ini segala persiapan tengah dilakukan, termasuk perekrutan calon karyawan,” katanya.

“Dibukanya koridor 8 dengan rute tersebut sesuai dengan harapan masyarakat Kota Semarang agar transportasi massal BRT Trans Semarang dapat menjangkau hingga ke daerah pinggiran kota,” tambahnya.

Untuk pembukaan Koridor 8 akan dioperasionalkan 20 armada, dengan 2 armada cadangan. Ukuran bus yang digunakan adalah jenis armada sedang (medium) berkapasitas 42 penumpang.

“Tarif yang digunakan untuk Koridor 1 hingga 8 juga tetap, tidak mengalami perubahan. Tarif BRT Trans Semarang untuk Umum Rp 3500 dan pelajar/mahasiswa/KIA Rp 1.000,” jelas Ade.

Tak cuma itu, demi menjangkau hingga akses jalan yg relatif kecil, BLU UPTD Trans Semarang juga menyiapkan feeder sebagai sarana transportasi.

Tiap Rute feeder akan dioperasionalkan 22 unit menggunakan armada ELF (Long chassis), direncanakan hingga 2021 sudah empat rute feeder berjalan.
Keberadaan empat rute feeder ini diharapkan bisa melayani transportasi masyarakat di berbagai wilayah permukiman.

“Banyak wilayah perkampungan maupun perumahan yang tidak mempunyai kualitas lebar jalan yang memenuhi syarat untuk dilewati armada kami, sehingga kami berencana mengembangkan feeder,” tambah Ade.

Feeder adalah armada pengumpan bagi BRT Trans Semarang. Agar bisa menjangkau lokasi yang tidak bisa dimasuki BRT Trans Semarang, maka digunakan unit Elf Long chasis.

“Total 8 Koridor dan 4 rute feeder telah kami siapkan untuk dioperasionalkan hingga 2021,” tandasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang