Keluarga Penumpang Pesawat Yang Jatuh Asal Kendal Mengaku Pasrah

Ibunda korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, Sa’adah warga Desa Taman Gede, Kecamatan Gemuh, saat menunjukkan foto anaknya, Senin (11/1/2021).

 

HALO KENDAL – Kabar jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air rute penerbangan Jakarta – Pontianak di Kepulauan Seribu, membawa duka bagi keluarga penumpang pesawat.

Tak terkecuali, keluarga Kolisun, asal Desa Taman Gede, Kecamatan Gemuh.

Kolisun merupakan salah satu dari 62 penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta-Pontianak yang dikabarkan jatuh, Sabtu (9/1/2021) lalu.

Menurut pengakuan ibu korban, Sa’adah saat ditemui di kediamannya di Desa Taman Gede RT 05 RW 01, Kecamatan Gemuh, dia mengetahui anaknya, Kolisun turut menjadi korban pesawat Sriwijaya setelah diberitahui melalui telepon oleh menantunya yang berada di Sambas, Kalimantan Barat.

“Kolisun sudah 15 tahun bersama istri dan anaknya menetap di Desa Semparuk, Sembangkau RT 39 RW 12 Kecamatan Semparuk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat,” ungkap Sa’adah, kepada halosemarang.id, Senin (11/1/2021).

Dirinya mengaku, setelah mendapat kabar dari menantunya bahwa anak sulungnya turut menjadi korban kecelakan pesawat Sriwijaya Air tersebut, dirinya hanya bisa bersedih dan pasrah.

“Saya pasrah saja dan saya sangat berharap jasad anak saya segera bisa ditemukan dan bisa dikebumikan di sini,” ujar Sa’adah.

Lebih lanjut dia menceritakan, anaknya yang turut menjadi korban kecelakan pesawat berprofesi sebagai pedagang.

“Anak saya itu pedagang. Dia ke Solo dalam rangka belanja sejumlah barang dagangan. Berupa pakaian dan alat-alat dapur dari Solo, kemudian dijual di Kalimantan,” terangnya.

Sa’adah pun mengaku, sejak tanggal 7 Januari 2021, Kolisun setiap hari sering menelponnya.

“Bahkan rencananya dalam waktu dekat, anak saya itu ingin mengirim anaknya mondok di salah satu pondok pesantren di Jawa Timur. Namun sempat saya cegah. Saya minta, cucu saya dipondokkan dekat-dekat sini saja biar saya biasa ikut rawat dan menjaganya,” tutur Sa’adah sambil berlinang airmata.

Sementara itu Kepala Desa Taman Gede, Munadi mengatakan, korban memang awalnya adalah warga Taman Gede, namun sudah lama pindah domisili.

“Korban lahir dan besar di Taman Gede, kemudian merantau dan dapat istri orang Sambah. Korban akhirnya pindah domisi dan menetap disana bersama anak dan istrinya di Kalimantan,” terangnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.