Kelengkeng Kateki Jadi Primadona Di Borobudur

Foto : Magelangkab.go.id

 

HALO MAGELANG – Dinas Pertanian dan Pangan Pemerintah Kabupaten Magelang, didukung Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, membuka Kawasan Kelengkeng varietas kateki, di Kecamatan Borobudur seluas 20 hektare.

Kawasan ini diproyeksikan sebagai ikon eduwisata baru di Jawa Tengah, seperti di Batu, Jawa Timur. Untuk mendukung pengembangan kawasan kawasan Borobudur tersebut, pemerintah memberikan bantuan 4.000 batang bibit kelengkeng.

Tujuan dari pengembangan kelengkeng ini, seperti dirilis Magelangkab.go.id, adalah untuk memperluas dan meningkatkan keberhasilan dan keberlangsungan komoditas unggulan.

- Advertisement -

Pencanganan secara simbolis dilakukan Ketua TP PKK Kabupaten Magelang, Tanti Zaenal Arifin, di lahan sekitar kawasan Balkondes Ngargogondo.

Dalam acara itu, dia didampingi Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Ade Sri Kuncoro, serta Koordinator BPP Kecamatan Borobudur, pemdes setempat dan kelompok penerima bantuan.

Dalam sambutannya, Tanti Zaenal Arifin memberikan apresiasi tinggi atas peran serta semua pihak, yang mendukung program pengembangan tanaman kelengkeng di kawasan Borobudur.

Dia berharap, tanaman kelengkeng ini, mampu menjadi primadona bagi wisatawan, sebagai salah satu tujuan kunjungan wisatawan.

“Dan kelengkeng nantinya akan jadi buah tangan khas Borobudur, yang akan dibawa oleh wisatawan,” ujar Tanti.

Tanti juga berharap banyak tanaman kelengkeng varietas Kateki, yang mampu memberikan kontribusi pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani dan masyarakat Borobudur.

“Sekaligus menjadi salah satu tujuan kunjungan wisatawan,” harapnya.

Kabid TPH Distanpangan Kabupaten Magelang, Ade Sri Kuncoro mengungkapkan pengembangan tanaman kelengkeng seluas 20 ha yang dikembangkan tersebut diharapkan mampu mendukung agro wisata Borobudur sekaligus meningkatkan hasil dan pendapatan petani buah.

“Pengembangan agro eduwisata Borobudur yang berbasis pada tanaman buah memang menjadi salah satu daya tarik yang perlu terus dioptimalkan karena melihat selama ini Borobudur terkenal dengan buah-buah andalan seperti kelengkeng, rambutan, pepaya, mangga dan lain sebagainya,” ujar Ade.

Kelengkeng selama ini menjadi salah satu buah yang masuk kategori eksklusif karena rasanya manis, legit, kenyal dan dapat dinikmati oleh banyak orang.

Tanaman kelengkeng mampu dikembangkan di lahan tegalan sebagai tanaman konversi tanaman, yang selama ini hasilnya tidak maksimal. Dengan demikian kelengkeng akan mampu menjadi komoditas optimalisasi lahan, bagi petani untuk menjadi sumber mata pencaharian yang andal.

Oleh karena itu untuk mewujudkan hal tersebut perlu kekompakan dan sinergisitas semua pihak baik pemerintah, petani, kelompok tani dan kelembagaan tani lain agar satu langkah mewujudkan Borobudur yang gumegrah dan santun.

Buah kelengkeng varietas Kateki yang eksotis dapat dinikmati langsung wisatawan di kawasan sekitar Borobudur, baik di toko buah, pasar tradisonal maupun di kebun kelengkeng.

Beberapa lokasi pengembangan kelengkeng seperti di Desa Borobudur, Wanurejo, Ngargogondo, Sambeng, Tuksongo dan Wringinputih.

Ada beberapa lokasi yang menawarkan model wisata petik langsung buah kelengkeng dari pohonnya, sembari memandang perbukitan Menoreh yang indah dan cantik, terasa asri dan sejuk. Ditambah dapat juga memandang stupa Candi Borobudur yang menjulang tinggi. Di samping itu wisatawan juga bisa belajar tentang budidadaya yang ditawarkan oleh kebun kelengkeng Bumdes Borobudur di Dusun Jagan.

Daya tarik kelengkeng khususnya varietas Kateki pemeliharaannya tidak begitu rumit, perkembangan tanaman cepat, daging buahnya manis legit, enak. Buah kelengkeng menjadi perburuan konsumen utama wisatawan yang datang ke kawasan Borobudur sebagai oleh-oleh. Luas tanaman kelengkeng saat ini hampir mencapai 25 ha yang terdiri tanaman tua dan muda.

Kebijakan pengembangan tanaman buah di kawasan Borobudur tetap melihat potensi lahan yang ada. Tanaman kelengkeng sekarang menjadi primadona dan sudah banyak dikembangkan oleh warga masyarakat maupun kelompok-kelompok tani dan badan usaha desa / Bumdes. (HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.