Kegiatan Sosial Antar-Masyarakat Jadi Pertahanan Nasional Hadapi Dampak Pandemi Covid-19

Foto Ilustrasi magelangkab.go.id

 

HALO SEMARANG – Satu tahun pandemi Covid-19 menerjang tanah air. Hal itu memberikan dampak negatif yang sangat besar, salah satunya perekonomian yang berujung krisis sosial.

Wakil Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, Abdul Aziz mengakui persoalan tersebut. Namun menurutnya, saat ini perlahan sudah terlihat perubahan. Perekonomian mulai merangkak naik, masyarakat beradaptasi dengan kondisi pandemi Covid-19.

“Sebenarnya sudah mulai menggeliat perekonomian kita, ya ini muncul keseimbangan baru pasca satu tahun pandemi berlangsung,” kata Abdul saat dihubungi halosemarang.id melalui telepon, Selasa (23//2/2021).

- Advertisement -

Titik keseimbangan baru ini, lanjut Abdul, masyarakat sudah menyesuaikan secara langsung dengan kondisi yang ada. Misalnya pelaku usaha yang beradaptasi dengan mengurangi produksi, serta melakukan penghematan selama ini.

Masyarakat pun mulai akrab dengan masker ataupun cuci tangan secara rutin. Selain itu, dasar dari masyarakat Indonesia kuat untuk bertahan dalam tempaan.

“Jadi memang, bassic (dasar) masyarakat itu seperti kunci stang, ya bertahan. Daya tampung hidupnya, secara alamiah akan muncul. Masyarakat pasti akan menghitung kebutuhan-kebutuhan yang tidak perlu. Karena kebutuhan pokok saat itu belum terjangkau dan sulit didapatkan,” imbuhnya.

Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menambahkan, di masa sulit yang sudah dilalui setahun, menurutnya dengan gotong royong akan mengurangi dampak sosial yang negatif. Apalagi masyarakat terbentuk saling membantu.

“Gotong royong adalah bagian dari kebudayaan, kemarin sudah dituangkan dalam kebijakan Jogo Tonggo yang sebenarnya sudah hidup di tengah masyarakat dengan saling membantu sesama tetangga,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang (Unnes) Dr Moh Solehatul Mustofa, MA, mengatakan, kekuatan sistem masyarakat berdasar sikap gotong royong. Hal ini terlihat dari kondisi sosial masyarakat yang masih kondusif meski Covid-19 melemahkan perekonomian.

Mustofa menjelaskan, sejak pandemi Covid-19, beberapa sektor ekonomi mengalami penurunan. Di sisi lain, peningkatan angka kriminalitas dan dampak psikologis masyarakat perlu diwaspadai.

“PKL, pengusaha hotel, wisata dan banyak sektor kan pendapatannya menurun. Jika terus menerus seperti ini, orang bisa nekat berbuat kriminal, atau bisa stres,” ucapnya, Selasa (23/2/2021).

Dengan demikian dia menilai, Indonesia kuat di masa pandemi Covid-19 karena masyarakat memiliki sistem atau kebudayaan untuk tolong menolong. Bahkan, oleh pemerintah dibingkai melalui program “Jogo Tonggo”.

“Kemarin ada program dari pemerintah Jogo Tonggo ya Jogo Konco. Itu kan sebenarnya sistem masyarakat kita yang sudah terbentuk sejak lama. Saling berbagi, saling membantu antartetangga, teman dan di masa pandemi saat ini perlu digerakkan lagi,” tutur Mustofa.

Terlebih, setelah berdampak pada ekonomi kata dia efek Covid -19 akan berlanjut pada sosial masyarakat. Berkurangnya bahkan kehilangan pekerjaan mengancam keharmonisan keluarga.

“Wisata, usaha dan lain-lain dibatasi, ekonomi menurun. Dampaknya pada keharmonisan keluarga, kan gitu,” imbuhnya.

Kegiatan sosial antarmasyarakat, lanjutnya, harus terus digerakkan sebagai sistem pertahanan nasional dari dampak pandemi Covid-19. Di sisi lain, pemerintah, pengusaha, dan perguruan tinggi perlu bersinergi agar kebersamaan terus terjalin.

“Jika dibanding negara lain, Indonesia masih kuat karena kebudayaan masyarakat yang paguyuban. Tapi pemerintah juga harus terus berupaya menjaga perekomian tetap stabil, seperti membuka lapangan pekerjaan, menjamin harga sembako tetap stabil,” pungkasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.