in

Kedung Pengilon Potensi Wisata Kendal Yang Mangkrak Akibat Pandemi

Kedung Pengilon.

 

DESTINASI wisata Kedung Pengilon Kendal, saat ini kondisinya memprihatinkan. Bahkan, objek wisata yang dulu pernah ramai dikunjungi wisatawan, sekarang menjadi lokasi yang tak terawat dan terdapat sejumlah fasilitas yang rusak.

Mengenai fakta Kedung Pengilon yang kini kurang terawat dijelaskan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat, Joko, yang juga menjadi Ketua Pengelola Kedung Pengilon area Desa Tunggulsari, Kecamatan Brangsong.

Menurutnya, beberapa tahun yang lalu, Kedung Pengilon Kendal telah dijadikan lokasi wisata yang dirias indah. Namun, saat ini yang terlihat justru adanya kerusakan di berbagai fasilitas.

“Kedung Pengilon Kendal merupakan tempat wisata yang terbagi di dua desa, yaitu Desa Tunggulsari, Kecamatan Brangsong dan Desa Jatirejo, Kecamatan Ngampel. Sebenarnya potensinya sangat besar, namun kurang terawat dengan baik,” ungkap Joko memulai perbincangan dengan halosemarang.id, Minggu (11/7/2021).

Jika masuk ke Kedung Pengilon melalui Desa Jatirejo Kecamatan Ngampel, terlihat dari lahan parkir yang dulunya bersih, kini dipenuhi oleh ranting pohon mengering yang berserakan.

Selain itu, warung usaha milik warga setempat juga mangkrak tak lagi diuganakan.

Fasilitas lain seperti tempat duduk yang terbuat dari kayu dan bambu itu kini juga lapuk dimakan usia. Lalu, sebuah WC umum yang dahulunya berfungsi dan terawat, kini terlantar dan kotor.

Jika mendekat di area jembatan, sebuah taman yang dulunya indah dengan warna warni, kini redup dan tak terawat. Jembatan dicat warna-warni yang selama ini menjadi ikon Kedung Pengilon Kendal, kini berubah warna menjadi biru polos.

“Padahal, ketika tengah menjadi lokasi wisata, jembatan tersebut indah, estetik, unik dan banyak buat selfie para pengunjung,” tutur Joko.

Gapura Taman Bungasari yang kini tak terawat.

Tak Terawat

Berdasarkan pantauan, air terjun mini yang berasal dari sebuah bendungan dan dihias oleh bebatuan alam itu, kini banyak dimanfaatkan para pemancing untuk berburu ikan.

“Bahkan, jika kita menyeberangi jembatan dan beralih ke sisi sebelah, terdapat sebuah taman yang kini kondisinya sudah tidak terawat. Di situ terdapat sebuah pamflet bersejarah yang dulunya pernah bersinggah, yaitu suatu nama komunitas sepeda mini,” imbuh Joko.

Beralih di sebuah bukit, yang dulunya juga ada sebuah tempat selfi, saat ini tempat itu tak terlihat. Ditambah dengan jalur pendakian yang longsor, tempat ini sementara belum bisa diakses.

Tak hanya itu, sebuah Taman Bunga Asri, hanya tersisa sebuah gerbangnya saja, di mana di dalamnya sudah dipenuhi oleh rerumputan dan tanaman liar.

Terdapat juga beberapa jembatan yang terlihat rapuh di sebuah aliran sungai yang mengarah ke bumi perkemahan. Beberapa fasilitas hiasan untuk tempat berfoto dan selfie pun juga nampak tak terawat.

Pun juga ketika memasuki bumi perkemahan, di dalamnya telah banyak ditumbuhi oleh rerumputan yang cukup tinggi.

Tak hanya itu, Kedung Pengilon Kendal saat ini juga tak pernah dikunjungi oleh wisatawan. Kendati demikian, lanjut Joko, biasanya ada sejumlah warga sekitar yang beraktivitas di sana.

Ia menuturkan bahwa pada mulanya, Kedung Pengilon dibuka sebagai tempat wisata di bulan Maret tahun 2018 dan berjalan baik, serta dikembangkan hingga banyak pengunjung.

“Semenjak ada pandemi corona yang melanda, wisata Kedung Pengilon kita tutup. Kemudian sekarang malah tambah ada PPKM Darurat, ya semakin lama kita tutup,” tuturnya.

Saat ditanya apakah pernah buka di masa pandemi, Joko mengaku pernah membukanya namun hanya sebentar. Karena pada saat itu ada komunitas sepeda yang ingin menggunakan Kedung Pengilon sebagai titik kumpul.

Namun, saat awal pandemi Covid-19, justru ada peningkatan jumlah pengunjung, yang akhirnya membuat pariwisata Kedung Pengilon ditutup kembali.

Meski begitu, Joko mengaku bahwa pengelolaan Kedung Pengilon masih terus berjalan.

“Karena ada kendala pandemi Covid-19, dari Disporapar Kendal meminta kita menutup, ya kita manut, lalu kita tutup. Kalau sudah diizinkan dibuka ya kami siap membukanya dan membersihkan kembali,” tandasnya.

Selaku Ketua Pokdarwis Kedung Pengilon, Joko menjelaskan bahwa area wisata Kedung Pengilon yang terbagi menjadi dua daerah. Pembagian wilayahnya yakni berpatokan kepada jembatan bendungan itu ada di tengah-tengah.

“Sebagian ikut Desa Jatirejo, Kecamatan Ngampel, sebagian lagi ikut Desa Tunggulsari, Kecamatan Brangsong,” jelasnya.

Terkait soal dana wisata, menurut Joko, Pokdarwis Kedung Pengilon Brangsong pernah mengajukan proposal dan dana akan turun untuk proses pembenahan.

“Sebenarnya akan cair. Namun karena Covid-19 dana tersebut tak kunjung cair. Bahkan, proposalnya pun sudah kami ajukan untuk pembangunan aula. Namun karena tidak jadi cair ya aulanya belum dibangun,” ucapnya.

Sementara terkait perubahan warna cat pada jembatan dari yang warna warni menjadi biru lagi Joko menjelaskan, bahwa hal itu merupakan perintah dari Dinas Pengairan.

“Lahan Ini kan tempatnya Dinas Pengairan. Jadi, cat dan warnanya mengikuti dari dinas. Kalau sudah diizinkan buka dan aktif kembali, ya bisa kita warnai jadi warna-warni lagi,” ujar Joko.

Fasilitas di Kedung Pengilon.

Sejarah Kedung Pengilon

Disinggung soal awal dibuatnya Kedung Pengilon, ia pun menjelaskan, bahwa perngelolaan wisata itu bermula dari gerakan generasi Karang Taruna Desa Tunggulsari, Brangsong.

“Karang Taruna tersebut menginginkan Kedung Pengilon dijadikan sebuah destinasi pariwisata. Kemudian mereka menggandeng Karang Taruna Desa Jatirejo, Kecamatan Ngampel untuk bekerja sama dalam pengembangan Kedung Pengilon,” jelas Joko.

Kemudian dibangunlah sejumlah tempat seperti swafoto atau selfie dan taman, juga merias berbagai sudut Kedung Pengilon, usai mendapatkan izin dari Dinas Pengairan.

Sejarah nama Kedung Pengilon sendiri menurut Joko, terkait dengan kondisi bendungan pada zaman dahulu. Menurutnya, karena saking jernihnya air seperti pengilon (kaca cermin).

“Kedung kan artinya bendungan, pengilon itu artinya kaca cermin. Jadi karena airnya bersih seperti kaca, makanya itu dinamai Kedung Pengilon atau Bendungan Kaca Cermin, ya seperti itulah kurang lebihnya,” jelas Joko.

Selain itu, Kedung Pengilon juga terdaftar sebagai wisata realigi. Lantaran terdapat makam atau petilasan, sebagai tempat peristirahatan para leluhur.

“Tadi kan ada undak-undakan ke arah bukit. Kalau kita masuk dari arah Ngampel, itu kalau ke atas ya ke arah petilasan milik Pangeran Pitono. Makam atau petilasan itu dikelola oleh Pokdarwis Jatirejo Ngampel,” imbuhnya.

Joko berharap, jika pandemi Covid-19 sudah berakhir dan kembali seperti semula, ia ingin Kedung Pengilon dibangun kembali.

“Sekarang ini kalau mau ngundang para pengunjung itu mudah. Kita tinggal bangun hal baru, kemudian kita unggah di internet. Gak lama pasti para pengunjung langsung datang,” pungkasnya.(HS)

Share This

Indonesia Turun Kelas, Kebijakan Ekonomi Perlu Dievaluasi

Cedera Kaki, McGregor Ditaklukkan Dustin Poirier