in

Kearifan Lokal Blora : Nasi Tumpeng dan Berkat Dibungkus Daun Jati

Nasi tumpeng di atas tampah dengan alas daun jati. (Foto : Blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Setiap kali menyebut kata Blora, salah satu citra yang muncul adalah sebuah wilayah pebatasan Jateng dan Jatim, yang menjadi menjadi penghasil kayu jati.

Bahkan seperti disebutkan laman resmi Perhutani, wilayah ini merupakan penghasil kayu jati terbaik di dunia. Itu pula yang membuat kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat Blora, tak bisa dijauhkan dengan keberadaan pohon-pohon jati di wilayah itu.

Hal ini seperti yang tampak pada peristiwa hajatan sebagian warga, yang masih menyertakan unsur jati, yakni ketika menyajikan tumpeng beserta lauk pauknya, pada saat menggelar hajatan, seperti pernikahan, melahirkan, atau khitanan.

Tumpeng beserta lauk pauknya yang ditata sedemikian rupa, di atas nyiru atau tampah beralaskan daun jati, merupakan pemandangan biasa di Blora, khususnya di wilayah pedesaan.

Daun jati juga menjadi bungkus nasi atau lauk tumpeng, yang dibagikan kepada warga dalam acara-acara hajatan itu.

“Daun jati itu mudah diperoleh,” kata Slamet, warga Dusun Dumpul, Desa Kamolan, Kecamatan Blora, Sabtu (25/9).

Untuk mendapatkan daun jati di Blora memang tidak terlalu sulit. Sebagian pekarangan warga di pedesaan masih ditumbuhi tanaman itu. Atau bisa pula pesan dari para pedagang di pasar.

Dalam acara kenduri ketika ada hajatan, warga terbiasa membentuk kelompok-kelompok kecil, yang mengelilingi tampah berisi tumpeng dengan alas daun jati. Baru setelah doa hajatan selesai, salah seorang dari kelompok kecil itu kemudian membagikan nasi beserta lauk yang diambil dari tumpeng, kepada warga lainnya.

Para calon penerima nasi pun, sebelumnya sudah menyiapkan dua atau tiga lembar daun jati, untuk membungkus jatah makanan yang akan diterima. Biasanya, warga yang hadir memang sudah terbiasa membungkus makanan tersebut dengan daun jati.

Tetapi jika memang ada yang kesulitan, maka warga lain pun akan membantu, walaupun kadang-kadang sambil melontarkan sindiran. Menurut Slamet, sindiran tersebut sebenarnya merupakan candaan, sekaligus memotivasi agar warga yang dibantu mau berlatih membungkus makanan dengan daun jati.

Demikianlah, tradisi menggunakan daun jati sebagai pembungkus makanan, tetap dipertahankan dan secara turun menurun diikuti dari generasi ke generasi.

Sutikno, warga Dusun Dumpul, usai mengikuti hajatan di rumah saudaranya, menuturkan penggunaan dauh jati sebagai pembungkus, juga merupakan cara warga untuk melestarikan lingkungan.

“Selain mudah diperoleh, daun jati juga tidak mencemari lingkungan dibandingkan penggunaan bungkus atau wadah dari plastik,” kata dia.

Gandi, warga lain menuturkan memakan nasi yang dibungkus daun jati, memberikan sensasi berbeda.

“Saya merasa ada kenikmatan makan nasi berkat yang dibungkus daun jati. Menjadi lebih gurih, mungkin karena aroma daun jati dan doa. Atau istilahnya, mambu donga (barokah doa),” kata dia. (HS-08)

Share This

Pensiunan Polri Terjaring Satpol PP Semarang Saat Menjadi Manusia Silver

Vaksinasi Covid Desa Tegalgiri: Babinsa Bantu Lansia dan Disabilitas