in

Kasus Pelecehan Seksual Balita di Banyumas Jadi Sorotan KPAI RI

Wakil Ketua KPAI RI, Rita Pranawati.

 

HALO SEMARANG – Kasus pelecehan seksual terhadap balita yang terjadi di Kabipaten Banyumas beberapa waktu lalu, mendapat sorotan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) RI.

Menurut sumber Kepolisian Banyumas, pelecehan seksual dialami NY (3), warga Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Yang memperihatinkan, pelakunya WS, juga masih di bawah umur.

Tidak terima anak diperlakukan tidak senonoh, DN, orang tua NY, langsung melaporkan WS (16) kepada pihak berwajib.

Saat itu polisi langsung mengamankan pelaku berinisial WS remaja asal Kalibagor, Kabupaten Banyumas yang berbuat tidak senonoh terhadap gadis cilik tersebut.

Pelaku melakukan aksinya saat korban bermain ke rumah neneknya yang berdekatan dengan tempat tinggal pelaku.

Wakil Ketua KPAI RI, Rita Pranawati yang mengetahui kasus ini mengaku prihatin karena usia korban yang masih 3 tahun dan pelaku masih berstatus pelajar SMA.

“Kasus pelecehan seksual yang menimpa balita di Banyumas ini sangat memperihatinkan, apalagi dilakukan oleh pelajar berusia 16 tahun,” ujarnya, dalam rilis yang diterima halosemarang.id, Sabtu (11/9/2021).

Rita juga prihatin karena perbuatan tidak senonoh terhadap balita ini terjadi dalam satu lingkungan bermain korban.

“Tempat tinggal pelaku, diketahui tidak begitu jauh dari balita yang menjadi korban,” ungkap Rita.

Ia menambahkan, korban mungkin belum mengerti betul apa yang terjadi. Sehingga menurut Rita, perlu mendapat dukungan dan rehabilitasi agar masa depan korban tidak dihantui trauma masa lalunya.

“Ini tidak mudah bagi korban karena masih anak kecil belum mengerti apa yang terjadi. Dan lebih pada situasi, yang ketahuan pertama adalah kekerasan fisik dialami. Dia merasakan secara fisik, dan dampaknya tentu bisa ke psikologis. Bagaimana kemudian anak nanti bisa tumbuh dengan baik,” jelas Rita.

Kasus pelecehan seksual yang memprihatinkan ini masih dalam proses plersidangan di Pengadilan Negeri (PN) Banyumas.

Rita mengimbau, proses peradilan harus diperhatikan sesuai UU sistem peradilan pidana anak.

“Pelaku ini sebenarnya berusia lebih dari 14 tahun, tetapi masih usia anak. Maka dari itu proses hukumnya harus sesuai dengan UU sistem peradilan pidana anak,” tukasnya.

Sementara orang tua korban DN, merasa sedih. Dirinya berharap agar kejadian yang menimpa putrinya tidak terjadi kepada yang lain. Sehingga Ia ingin agar pelaku mendapat ganjaran yang setimpal.

“Saya ingin, hal seperti ini jangan terjadi lagi di Banyumas. Jadi saya ingin pelaku diberi ganjaran yang setimpal, karena membuat anak jadi takut dan trauma,” ungkapny.(HS).

Share This

Pengerjaan Saluran Air Baku Bagi Kawasan Industri di Kendal Ditarget Selesai Desember

Panglima TNI Tinjau Vaksinasi Pelajar Dan Santri Di Malang