in

Kampung Kebo, Sentra Kerbau Di Semarang yang Kini Tak Diminati Generasi Penerus

Unarti, peternak kerbau dari Kampung Kebo Sodong, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Mijen saat memberi makan hewan ternaknya.

 

PATUNG anak bermain suling di atas kerbau menjadi pertanda bahwa di wilayah itu dulunya merupakan sentra peternakan kerbau (Kampung Kebo-Bahasa Jawa), sebutan bagi Kampung Sodong, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Di dalam wilayah tersebut ada satu tempat khusus yang digunakan untuk beternak kerbau bagi masyarakat, dan terpisah dari permukiman warga.

Tak heran deretan kandang, kubangan, tumpukan jerami, dan tumpukan kotoran kerbau sangat mudah dijumpai di tempat tersebut.
Sekitar tahun 1985 hingga era 1990-an, di kampung ini ada banyak kandang kerbau yang dikelola masyarakat, untuk memelihara dan berternak kerbau.

Sayangnya, saat ini kandang-kandang itu mulai tak berisi. Tempat itu kini dialihfungsikan untuk beternak sapi dan unggas seperti ayam, bebek, dan itik.

“Peternak kerbau hilang bukan karena gak untung lagi. Lebih disebabkan karena tidak ada lagi generasi penerus peternak kerbau di kampung ini,” ujar seksi Agro Industri di Organisasi Perkumpulan Tani Mbangun Karso, Rohyadi belum lama ini.

Dia menjelaskan, Kampung Kebo dulu dikelola oleh sekelompok tani dari Mahesa Kredo Kota Semarang. Kelompok tani itu bahkan sempat menyabet lomba juara kebersihan kandang kerbau tingkat Nasional pada tahun 90an.

Kampung Kebo ini, kata dia, berada di atas tanah milik Pemkot Semarang yang diresmiman berdiri pada tahun 1985.

Berdirinya kampung itu berawal dari kesadaran warga untuk menjaga kebersihan, sehingga kandang kerbau tak menyatu lagi dengan rumah.

“Dulu kerbau memang masih menjadi salah satu binatang ternak bagi masyarakat Kota Semarang. Namun saat ini di banyak daerah sangat jarang warga yang berternak kerbau,” katanya.

Dulu terdapat 47 rumah kandang yang dihuni 167 ekor kerbau milik warga Kelurahan Purwosari. Dengan setiap orang memiliki satu rumah yang akan diisi kerbau peliharaan mereka.

Menurut Rohyani, kondisi Kampung Kebo kini sudah berbeda jauh. Hal itu bisa dilihat dari jumlah kandang dan peternak yang sangat jauh berkurang.

Sampai saat ini, lanjut dia, kandang kerbau tersisa 22 kandang, jumlah peternak hanya 16 orang dengan jumlah kerbau peliharaan 30 ekor.

“Banyak peternak yang sudah capek karena tua, ada yang meninggal dunia tanpa generasi penerus. Apalagi anak sekarang maunya jual saja tanpa mau merawat,” katanya.

Dia menambahkan, bahwa peternak di kandang wilayah tersebut dulunya wajib memelihara hewan kerbau dan tak boleh jenis peliharaan lain.

Kini hewan apa pun bisa dirawat oleh warga di sana. Tak heran sekarang di Kampung Kebo juga ada sapi, ayam, bebek, dan itik.

“Sekarang mau ternak hewan selain kerbau bisa. Dulu dilarang,” ujarnya.

Sementara peternak lain, Tukimah (60) menjelaskan, peternak saat ini juga semakin kesulitan untuk mendapatkan pakan.

Banyak lahan persawahan dialihfungsikan menjadi kawasan perumahan. Hal itu juga berpengaruh pada kawasan hutan karet, yang dulunya merupakan sumber memperoleh pakan ternak.

“Peternak makin sulit cari pakan. Kalau ada sawah dan hutan bisa jadi sumber jerami dan rumput,” terangnya.

Melihat kondisi tersebut, kata dia, Kampung Kebo memang sudah tak cocok lagi disebut sebagai sentra kerbau.

Apalagi kondisi juga diperparah tak ada lagi generasi penerus yang menjadi petani atau peternak kerbau.

“Sekarang generasi muda lebih senang kerja di pabrik dan tidak mau kerja kotor-kotor seperti petani atau peternak,” bebernya.(HS)

Share This

Dikebut: Pembangunan Pasar Sementara Weleri Capai 82 Persen

Berharap Pandemi Berakhir, Pemkab Kendal Gelar Gema Bersholawat