in

Kadisdik: PTM, Jam Pelajaran di Sekolah Tidak Boleh Lebih dari Empat Jam

Siswa SMPN 13 Kota Semarang mengikuti pembelajaran tatap muka hari pertama, Senin (30/8/2021).

 

HALO SEMARANG – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang meminta sekolah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) sesuai dengan aturan. Serta meminta orang tua bisa melakukan antar jemput sementara waktu selama anak mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah. Hal ini guna meminimalkan anak keluyuran setelah pulang sekolah.

“Harapan kami sementara diantar jemput. Kalau tidak bisa, kami sekarang akan kerja sama dengan pihak tranaportasi online atau bagaimana, tapi ini belum kami lakukan,” terang Kepala Disdik Kota Semarang, Gunawan Saptogiri, Senin (30/8/2021).

Menurut dia, tugas sekolah yakni memberikan pemahaman kepada peserta didik untuk menerapkan protokol kesehatan di rumah, sekolah, dan saat perjalanan pulang dari sekolah ke rumah. Termasuk tidak diperbolehkan berkumpul serta jajan seusai pulang sekolah. Setiap wali kelas selalu berkomunikasi dengan orang tua sehingga tidak ada siswa yang keluyuran usai pulang sekolah.

“Larangan berjualan hanya di dalam sekolah. Kalau di luar sekolah, kami tahan melalui SOP agar anak tidak keluyuran jajan di luar,” tambahnya.

Gunawan menyebutkan, seluruh sekolah negeri sudah melaksanaan PTM. Sebagian sekolah swasta juga sudah mengajukan izin dan lolos verifikasi. Ada 482 sekolah yang melaksanakan PTM mulai Senin (30/8/2021) ini. Sekolah negeri ada 9 TK, 325 SD, dan 44 SMP. Sedangkan sekolah swasta ada 31 TK, 51 SD, dan 22 SMP.

“Izin sekolah swasta tidak begitu mutlak, tapi sekolah saat melakukan PTM harus menerapkan prokes ketat. Ada hal-hal yang harus dipatuhi. Misal, membuat standar operasional prosedur (SOP), membentuk satgas Covid-19, menyiapkan sarpras untuk prokes ketat. Yakni sehari tidak boleh lebih dari 50 persen, 4 jam pelajaran, dan anak masuk dua atau tiga hari seminggu,” papar Gunawan.

Dia memastikan PTM tidak menimbulkan kerumunan. Jam masuk diatur berbeda antara satu kelas dengan kelas lain. Pada pertemuan pertama, siswa diberikan edukasi supaya sadar dan paham terhadap protokol kesehatan.

“Kami buka kran pelan-pelan. Kami tidak mau masuk bareng semua hingga akhirnya terjadi kerumunan. Kami ingin pelan-pelan, nanti kebuka semua tapi prokes tetap baik,” terangnya.

Hingga saat ini, sebut dia, orang tua siswa dari sekolah negeri yang setuju tatap muka sebanyak 90 persen, sedangkan sekolah swasta baru 50 persen. Dia mengimbau orang tua tidak terlalu khawatir. Dia memastikan, siswa tetap mendapatkan pembelajaran meski melalui online.(HS)

Share This

Polda Jateng Tangkap Pelaku Pencurian Sepeda Motor di Pati

Akan Ada Aplikasi Skrining Syarat Peserta Didik Ikuti PTM Terbatas