Jualan Jamu Tradisional, Solusi Pemenuhan Ekonomi Di Masa Pandemi

Istiqomah, penjual jamu asal Kendal.

 

HALO KENDAL – Masa pandemi ini, semua orang berjuang untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Seperti yang dilakukan oleh Istiqomah, ibu rumah tangga yang tinggal di Perumahan Green Sarirejo Kaliwungu, Kendal, sejak masa pandemi lalu mencoba berwirausaha membuat jamu.

Istiqomah mengaku, ini dilakukan karena dirinya tidak ingin hanya mengandalkan penghasilan suami untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Di rumah pun, ibu rumah tangga bisa berwirausaha untuk menambah penghasilan, dan alhamdulillah suami mendukung” ungkap ibu dengan satu anak, Senin (7/9/2020).

Menurutnya, karena jamu selalu dibutuhkan oleh semua orang, apalagi di masa pandemi saat ini, mengkonsumsi jamu sangat dianjurkan untuk menjaga tubuh tetap prima.

Sehingga, lanjut Istiqomah, tubuh menjadi kebal terhadap virus maupun bakteri yang bisa menyerang kapan pun.

“Sebelum memilih jamu, kami sudah survey di marketplace, ternyata produk yang paling banyak dicari itu jamu tradisional. Kebetulan sejak dulu, nenek sering membuat jamu dari bahan seperti kunyit asem, temulawak dan beras kencur. Seperti yang saya buat ini,” kata Istiqomah.

Dirinya juga mengaku, produk jamunya setelah ditawarkan ke tetangga dan teman-teman juga mendapat respon baik. Untuk memperluas pemasarannya, ia pun promosi lewat media online di grup-grup media sosial.

“Pemasarannya ada yang dtitipkan ke warung-warung dan lewat online, ternyata ada juga yang pesan dari Semarang,” imbuhnya.

Soal harga, Istiqomah menuturkan, jamu kunyit asem dan temulawak yang dikemas dalam botol ukuran 250 mililiter yang dijual Rp 6.000 bisa tahan selama satu minggu.

“Untuk jamu beras kencur hanya bertahan satu hari, sehingga dalam satu hari harus habis terjual,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.