in

Johar Lin Eng Ternyata Pernah Disanksi Seumur Hidup oleh PSSI

Johar Lin Eng

 

SEMARANG – Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Johar Lin Eng, ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan kasus pengaturan skor oleh penyidik kepolisian. Sebelumnya dia ditangkap oleh Satgas Antimafia Sepak Bola pada Kamis (27/12) pagi, di Bandara Halim Perdana Kusuma. Johar dimintai keterangan karena dirinya diduga ikut ambil bagian pada aktivitas mafia sepak bola di kompetisi Indonesia, dalam hal ini kasus pengaturan skor yang terkuak beberapa waktu lalu.

Siapa yang menyangka, sebelum ditangkap oleh polisi, tahun 2012 ternyata Johar Lin Eng pernah dihukum seumur hidup oleh PSSI pimpinan Johar Arifin Husein. Hukuman dijatuhkan kepada Johar lantaran dinilai turut campur mendirikan organisasi ilegal yang secara terang-terangan tak mengakui PSSI kala itu. Organisasi yang dimaksud adalah Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI).

Johar juga dianggap sebagai pentolan Forum Pengprov PSSI (FPP) se-Indonesia. Dia dianggap menghasut pengurus pengprov lain agar mencabut dukungan kepada PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin. “Karena itu, dia harus dihukum,” tandas Ketua Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Bernhard Limbong, saat itu. Johar Lin Eng disanksi seumur hidup atas dasar surat bernomor 03/KEP/KDKHUSUS/III-2012 tanggal 2 Maret 2012 yang ditanda-tangani oleh Ketua Komisi Disiplin PSSI kala itu, Dr Bernhard Limbong, S.Sos, SH, MH. Surat itu berisi keputusan Komdis tentang hukuman kepada Johar Lin Eng. Disebutkan Johar Lin Eng dihukum seumur hidup tak boleh melakukan aktivitas apapun di dalam sepak bola nasional.

Saat itu, Johar Lin Eng atau JLE masih menjabat sebagai Sekum Pengda PSSI Jawa Tengah.
Namun sayangnya, setelah Johar Arifin Husein tak menjabat, Komdis PSSI mengampuni ketua Asprov PSSI Jateng ini, hingga bisa berkecimpung dan terlibat dalam puasaran mafia sepak bola di Indonesia lagi.
Kini JLE, sapaan akrabnya, kembali menjadi buah bibir dalam sepak bola Indonesia. Perannya dalam beberapa kasus pengaturan skor, sedang diselidiki oleh polisi.

Sebelum kasus ini terungkap, nama Johar Lin Eng juga menjadi satu di antara beberapa nama yang disebut oleh mantan Ketua Askab PSSI Banjarnegara, Budhi Sarwono serta putrinya, mantan Manajer Timnas Garuda Putri Lasmi Indaryani saat menyampaikan alasan mundur dari jabatan di PSSI.

Buntutnya, Lasmi melaporkan dua nama dengan panggilan Mbah Pri dan Tika ke Polri atas dugaan penipuan. Lasmi mengaku pihaknya telah keluar banyak uang, sedikitnya Rp 225 juta karena termakan janji manis terlapor untuk naik kasta ke Liga 2.

Lasmi mengaku telah mendengar berita penangkapan Johar Lin Eng oleh polisi. Jujur, dia merasa kaget dengan kabar tersebut.
Pasalnya, saat melapor ke kepolisian, nama Johar Lin Eng tidak tercantum dalam laporannya. Dia hanya melaporkan dua nama, Mbah Pri dan Tika yang dinilai menipu langsung keluarganya.
“Agak kaget karena di luar ekspektasi saya. Karena yang kami laporkan yang menipu langsung kami sekeluarga, adalah Mbah Pri dan Mbak Tika,” katanya.

Identitas Palsu

Tetapi bukan tidak mungkin, dalam penyelidikan oleh kepolisian terhadap kasus yang dilaporkannya, polisi membidik nama-nama lain yang ikut terjerat kasus itu berdasarkan pertimbangan hukum.

Lasmi pun menaruh harapan besar kepada aparat berwajib untuk mengusut tuntas kasus mafia bola demi kemajuan sepak bola di Indonesia. “Semoga mafia bola cepat diusut tuntas agar sepakbola (Indonesia) maju,” katanya
Terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono menceritakan, saat ditangkap Johar Lin Eng kedapatan menggunakan identitas palsu.

“Untuk tersangka J ini dia terbang dari Solo menuju Jakarta tapi setelah kita cek boarding passnya namanya beda, namanya menggunakan Jasmani,” kata Argo di Polda Metro Jaya, Kamis (27/12).

Dalam pernyataan tersebut, Argo juga membeberkan bahwa status Johar sudah ditetapkan sebagai tersangka. “(Status) sudah tersangka. Sudah kami tangkap berarti tersangka,” ujarnya.(Halo Semarang)

Target Pajak Sarang Burung Walet Tak Pernah Tercapai

Pemkot Pun Kini Gencar Tanam Tabebuya