Jelang Pilkada Serentak 2020, Bambang Soesatyo Ingatkan Kembali Tentang Netralitas ASN

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo.

 

HALO SEMARANG – Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo mengingatkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia yang berjumlah 4,2 juta orang, untuk menjaga netralitas dalam Pilkada Serentak 2020 yang akan diselenggarakan di 270 daerah.

Pilkada serentak 2020 akan dilaksanakan di 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota.

Meskipun dari aspek legalitas, netralitas ASN telah diatur UU No.5/2014 tentang ASN, UU No. 30/2014 tentang Administrasi Pemerintahan, PP No 37/2004 tentang Larangan Pegawai Negeri Sipil Menjadi Anggota Parpol, dan PP No 53/2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil yang melarang ASN berpolitik, namun menurutnya masih saja ditemukan kasus keterlibatan ASN dalam aktivitas politik praktis.

“Dalam konsepsi negara demokrasi, netralitas ASN adalah salah satu prasyarat mutlak mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih. Apalagi ASN adalah abdi negara yang tugas pokok utamanya adalah melayani masyarakat. Hal ini dimaknai bahwa netralitas ASN berkaitan erat dengan kepentingan dan hajat hidup orang banyak,” ujarnya dalam kampanye virtual Gerakan Nasional Netralitas ASN, dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2020).

Turut hadir secara virtual antara lain Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) Prof Agus Pramusinto, Wakil Ketua KASN Tasdik Kinanto, Komisioner KASN Dr Arie Budiman, Ketua Bawaslu Abhan, dan Pelaksana Tugas Deputi Bidang SDM Aparatur Kementerian Pendayagunaan Aparatur dan Reformasi Birokrasi, Teguh Widjinarko.

Bambang Soesatyo memaparkan, merujuk data Badan Kepegawaian Negara (BKN), pada periode Januari 2018-Juni 2019, sebanyak 991 ASN dinyatakan terlibat dalam kasus pelanggaran netralitas ASN.

Sedangkan catatan Bawaslu, jelang penyelenggaraan Pilkada Serentak 2020, ditemukan indikasi 427 kasus ketidaknetralan ASN.

KASN juga mengindikasikan pada periode Januari-Juni 2020, dari 369 kasus pelanggaran netralitas ASN, 27 persen di antaranya dilakukan melalui kampanye di media sosial.

“Ketidaknetralan ASN tidak hanya berpengaruh pada optimalisasi tugas pelayanan publik, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai konsekuensi negatif. Di antaranya polarisasi ASN ke dalam kutub-kutub kepentingan politik praktis, yang dapat memicu timbulnya benturan dan konflik kepentingan antar-ASN, yang pada akhirnya menyebabkan terganggunya pelayanan publik. Keberpihakan dan keterlibatan ASN pada kegiatan politik praktis juga sangat berpotensi melahirkan praktik koruptif, di mana ASN memanfaatkan fasilitas negara untuk memberikan dukungan politik,” paparnya.

Salah satu penyebab maraknya ketidaknetralan ASN, lanjutnya, lantaran lemahnya pengawasan karena kewenangan KASN terbatas pada memberikan rekomendasi.

Sementara keputusan berada di tangan kepala daerah yang notabene adalah pihak yang didukung oleh ASN yang tidak netral tersebut.

Bisa dilihat pada penyelenggaraan Pilkada tahun 2018, rekomendasi pemberian sanksi yang diajukan KASN kepada kepala daerah, hanya 15 persen yang ditindaklanjuti.

Di sisi lain, mentalitas birokrasi juga belum sepenuhnya mengimplementasikan semangat reformasi birokrasi, yang semestinya mengedepankan profesionalisme kepada kepentingan publik. Bukan kepada atasan atau pejabat politik lokal.

“Kondisi ini biasanya terkait ambisi mendapatkan jabatan tertentu sebagai timbal balik dari dukungan politik yang diberikan kepada calon kepala daerah. Bentuk pelanggaran seperti itu tidak hanya melanggar netralitas ASN, tetapi berpotensi menjadi bentuk kezaliman terhadap ASN lain yang berprestasi dan profesional, namun mesti tersingkir justru karena mempertahankan netralitasnya,” ujarnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.