in

Jelang Lebaran, Omzet Penjualan Kerupuk Rambak Khas Kendal Meningkat

Salah satu produk kerupuk rambak khas Kendal dari Pegandon, Kabupaten Kendal.

HALO KENDAL – Kerupuk rambak, merupakan salah satu kuliner khas Kabupaten Kendal. Camilan berbahan dasar dari kulit sapi atau kerbau, ini kerap dicari pemudik sebagai oleh-oleh. Menjelang Lebaran 2023, kerupuk yang rasanya gurih tersebut laris manis diburu pembeli.

Bahkan, omzet penjualan kerupuk rambak asal Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal pada moment Ramadan dan Lebaran kali ini, naik dua kali lipat dari hari biasa.

Ramainya pembelian kerupuk rambak tersebut, membuat para pembuatnya meningkatkan jumlah produksinya dan terus dikebut.

Produk kerupuk rambak biasanya dikemas dalam kardus besar dan kardus kecil, serta kemasan bungkus plastik. Harga mulai Rp 21 ribu sampai Rp 85 ribu per kemasan. Untuk pemasarannya kebanyakan di wilayah Kendal, dan sebagian di wilayah Semarang.

Namun banyak pula pembeli yang datang langsung dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan lainnya. Pembeli dari luar kota, selain ramai pada Ramadan dan Lebaran, juga pada hari libur nasional dan tiap akhir pekan.

Salah seorang pembuat kerupuk rambak di Kecamatan Pegandon, Kendal, Saeful Amar mengungkapkan, omzet penjualan kerupuk rambak pada moment Ramadan dan Lebaran 2023 naik dua kali lipat dari hari biasanya

Khusus menghadapi bulan Ramadan dan Lebaran ini, dirinya telah menyediakan dua ton kerupuk kulit kering dari kulit sapi dan kerbau yang siap goreng.

Bahkan menurut Saeful, dibandingkan dengan hari biasa, kapasitas produksi naik dua kali lipat. Oleh karena itu, lanjutnya, sejak awal Ramadan, pihaknya sudah menambah tenaga untuk membantu pengolahan produksi kerupuk rambak. Dari yang semula hanya tiga orang, kini menjadi enam orang.

“Alhamdulillah, omzet naiknya dua kali lipat. Jadi sejak awal Ramadan sudah menambah tiga pekerja. Yang semula cuma tiga orang menjadi enam orang,” ujarnya, Selasa (18/4/2023).

Dijelaskan, para pekerja ada yang bertugas pengeringan, mengawasi tingkat kematangan kerupuk saat digoreng, dan ada yang memindahkan kerupuk setengah matang ke wajan untuk tahap akhir.

Menurut Saeful, sapi yang diambil kulitnya haruslah yang berumur satu tahun agar menghasilkan rambak yang gurih.

“Pertama-tama, kulit sapi yang telah dilepaskan dari daging sapi, disiram dengan air panas agar lunak dan terbebas dari kotoran. Kulit lalu dipotong memancang kecil-kecil. Kemudian direbus selama satu setengah jam. Kemudian setelah itu, kulit diangkat untuk menuju tahap penjemuran,” jelasnya.

Saeful mengaku, dirinya mengutamakan proses penirisan air yang terkandung di kulit sapi saat dipanaskan di terik matahari selama dua hari.

“Apabila cuaca tidak mendukung, barulah ia memakai oven untuk mengeringkan kulit sapi,” imbuhnya.

Saeful juga mengungkapkan, kerupuk rambak produksinya merupakan generasi ketiga. Dijelaskan, usaha kerupuk rambaknya merupakan yang pertama ada di Pegandon, yang dirintis oleh Asnawi, kakeknya pada tahun 1980.

Menurut cerita yang ia dapat, semula kakek Asnawi bekerja sebagai tukang jagal di pemotongan sapi.

“Melihat banyaknya kulit sapi, akhirnya kakek saya mencoba membuat kerupuk rambak. Kakek saya itu belajar membuat kerupuk rambak sendiri, dulu awalnya rambak yang untuk sayur itu,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang penjual kerupuk rambak di Kendal, Sodikin mengatakan, dirinya hanya menjual kerupuk rambak produksi saudaranya.

“Saya hanya menjual kerupuk rambak buatan saudara di toko dan menerima pesanan dari pembeli di wilayah Kendal. Alhamdulillah di bulan Ramadan dan jelang Lebaran penjualannya meningkat,” katanya.(HS)

Ganjar dan Menteri PUPR Ngabuburit di Rest Area Jalur Mudik

Buka Musrenbang RKPD 2024, Wali Kota Semarang Siap Wujudkan Target Pembangunan