Jelang Lebaran, Jasa Penukaran Uang Baru Mulai Bermunculan

 

Putri (25) menawarkan jasa penukaran uang baru menjelang Lebaran di Jalan Pahlawan Kota Semarang, Minggu (2/5/2021).

 

HALO SEMARANG – Lapak dadakan jasa penukaran uang baru mulai marak di sejumlah titik jalan protokol Kota Semarang. Seperti biasa, sepanjang Jalan Pahlawan menjadi salah satu lokasi yang dipilih para pelapak menjajakan jasa penukaran uang baru.

Para pelapak mulai terlihat berderet menyediakan jasa penukaran uang sejak dua pekan sebelum Lebaran. Namun, tahun ini jasa penukaran uang baru di Kota Semarang tidak marak seperti tahun-tahun sebelumnya.

- Advertisement -

“Tahun ini sepi, lebih mending tahun lalu,” ungkap Putri ditemui halosemarang.id di depan gedung Telkom Jalan Pahlawan Semarang, Minggu (2/5/2021).

Putri (25), mengaku sudah sepuluh tahun menekuni usaha ini. Dalam kurun waktu itu, dikatakan Putri, Ramadan tahun ini adalah yang paling sepi.

“Dulu saya ikut Ibu. Dari SMP sampai sekarang sekitar sudah sepuluh tahun, buat tambah-tambah kebutuhan saat Lebaran,” kata Putri.

Perempuan yang sehari-sehari sebagai ibu rumah tangga ini menerangkan, dalam menjalankan usahanya ini membutuhkan modal awal yang tidak sedikit. Puluhan juta rupiah adalah modal awal yang harus dilakukan.

Putri mengaku tidak memiliki modal untuk usaha tersebut, namun hal itu tidak menghalangi dirinya untuk terjun melayani penukaran uang baru, karena sekarang ada pengepul yang siap memberikan modal.

Keuntungan yang didapatnya sebesar sepuluh persen. Dipotong lima persen untuk membayar pengepul uang baru.

“Kalau ikut orang kan fivety-fivety, misal aku jual sepuluh persen yang punya uang lima persen, aku lima persen,” terangnya.

Dikenakan biaya sepuluh persen, lanjut Putri, maksimal penukaran uang Rp 100 ribu. Biaya penukaran bertambah apabila terdapat penukaran uang lebih dari nominal tersebut.

“Sekali tukar Rp 100 ribu dikenakan biaya Rp 10 ribu, Rp 200 ribu ya kena Rp 20 ribu,” imbuh ibu satu anak ini.

Dirinya mulai melayani penukaran uang baru sejak pagi hingga menjelang berbuka puasa. Menjawab stigma uang palsu pada jasa penukaran uang di pinggiran jalan, dengan keras Putri tidak membenarkannya.

Putri memastikan uang yang digunakan untuk penukaran uang baru asli langsung dari bank.

“Enggak, ini uang asli ditukarkan di bank langsung. Malah yang tuker kadang bawa uang palsu,” tegasnya.
Dirinya tidak memaksa diri saat bekerja. Dia akan libur jika tubuhnya capek. Hal itu karena dirinya pernah menjadi korban salah satu kejahatan penipuan uang palsu oleh pelanggannya.

“Saya pernah kena Rp 500 ribu uang palsu. Saya juga pernah kena hipnotis, kena tiga juta rupiah,” ungkapnya.

Mulai saat itu, dirinya berhati-hati. Jika mulai capek yang mengakibatkan kurang fokus, dirinya memilih untuk istirahat.

Ditemui di tempat yang sama, Doni (36) salah satu pengguna jasa penukaran uang baru menuturkan, dirinya lebih memilih menukarkan uang baru di pinggir jalan dibandingkan datang ke bank.

“Lebih cepat tukar, tidak ada antre. Kalau di bank antre panjang sekali,” tuturnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.