in

Jelang KTT G7 yang Dihadiri Jokowi, Konflik Rusia dan Ukraina Kian Memanas

Foto : Tribratanews.polri.go.id

 

HALO SEMARANG – Menjelang konferensi tingkat tinggi (KTT) G7 di Pegunungan Alpen Bavaria, Jerman, Minggu (26/6/2022), situasi konflik Rusia dan Ukraina kian mengkhwatirkan.

Presiden Rusia Vladimir Putin, mengatakan bakal mengirim rudal yang punya kemampuan membawa hulu nuklir ke Belarus, selama beberapa bulan ke depan.

Dia mengatakan itu ketika menerima pemimpin Belarus, Alexander Lukashenko.

“Dalam beberapa bulan, kami akan transfer ke Belarus sistem rudal taktis Iskander-M, yang bisa menggunakan rudal balistik atau jelajah, dalam versi konvensional dan nuklir,” kata Putin, ketika disiarkan televisi Rusia seperti disampaikan AFP dan Tribratanews.polri.go.id, Sabtu (25/6).

Dia juga menawarkan meningkatkan pesawat tempur Belarus untuk membuatnya bisa mengangkut senjata nuklir.

“Banyak Su-25 sedang beroperasi dengan militer Belarus. Itu bisa ditingkatkan dengan cara yang tepat,” ujar Putin.

Menurut dia, modernisasi ini harus dilakukan di pabrik-pabrik pesawat di Rusia dan pelatihan personel harus dimulai untuk menyesuaikan ini.

“Kami akan menyepakati bagaimana mencapai ini,” kata pemimpin Rusia itu.

Pernyataan Putin ini menambah ketegangan dengan negara barat yang sedang berupaya meningkatkan sanksi atas invasi Ukraina.

Putin telah beberapa kali menyinggung soal senjata nuklir sejak menginvasi Ukraina mulai 24 Februari. Ini menjadi sinyal kuat bagi negara barat agar tidak ikut campur secara langsung dalam pertempuran dengan Ukraina.

Lukashenko mengatakan pada bulan lalu negaranya telah membeli Iskander dan sistem rudal antipesawat dan antirudal S-400 dari Rusia.

Sementara itu, berkaitan dengan invasi Rusia ke Ukraina, Wali Kota Severodonetsk, Ukraina mengatakan bahwa Rusia pada akhirnya telah menguasai kotanya, usai pertempuran selama berminggu-minggu. Ini menjadi titik penting dalam strategi kemenangan Rusia, untuk menguasai bagian timur Ukraina.

Sebelumnya, pada Jumat (24/06/22), militer Ukraina mengaku kalah persenjataan dan terpaksa mundur ke garis pertahanan terbaik di Lysychansk, kota dekat Severodonetsk.

“Kota ini telah sepenuhnya dikuasai Rusia,” kata Wali Kota Oleksandr Striuk, Sabtu (25/06/22).

Beberapa jam sebelum pernyataan itu, separatis pro-Rusia mengatakan pasukan Rusia dan sekutunya telah masuk ke Lysychansk yang berada di seberang sungai berhadapan dengan Severodonetsk.

“Pertarungan di jalanan kini sedang terjadi,” kata representatif dari separatis Andrei Marochko di Telegram.

Rusia telah menginvasi Ukraina selama empat bulan, mereka telah mengubah fokus ke timur di regional Donbas lalu perlahan memenangkan pertarungan dengan para pembela negara Ukraina.

Jika Lysychansk juga dikuasai, maka Rusia bisa fokus ke Kramatorsk dan Slovyansk yang ada di barat untuk kemudian menguasai Donbas.

Rusia kemungkinan akan mendapatkan sanksi dari negara barat lebih berat dari sekarang. Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah terbang ke Eropa untuk pertemuan G7 yang dimulai pekan depan, kemudian juga akan berbicara bersama NATO.

Negara barat kini sedang mempertimbangkan menambah sanksi dan juga bantuan tambahan buat Ukraina. Selain itu mereka juga telah merancang rencana jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan dari Rusia.

Sementara itu para pemimpin dari tujuh negara terkaya di dunia, bertemu pada KTT G7 tahun ini, di Pegunungan Alpen Bavaria Jerman, Minggu untuk membahas masalah paling mendesak di dunia.

Agenda pada acara 26-28 Juni adalah invasi Rusia ke Ukraina, krisis ekonomi global yang diperburuk oleh perang, pemerataan vaksin, dan darurat iklim.

Kanselir Jerman Olaf Scholz , yang merupakan ketua G7 tahun ini, sebelumnya mengatakan pada KTT Solusi Global di Berlin pada bulan Maret bahwa perang di Ukraina tidak boleh membuat negara-negara G7 mengabaikan tanggung jawab untuk mengatasi tantangan global, seperti krisis iklim atau pandemi.

Sementara itu dalam KTT G7 tersebut, Presiden RI Joko Widodo akan hadir sebagai partner country.

“Saya dan rombongan terbatas akan berangkat untuk berkunjung ke beberapa negara. Yang pertama, akan ke Jerman untuk menghadiri KTT G7, di mana kita di sini adalah sebagai partner country dari G7, dan juga diundang untuk menghadiri KTT G7 ini sebagai ketua/presidensi G20,” ujar Presiden dalam keterangan persnya sebelum keberangkatan.

Presiden mengungkapkan, dalam forum tersebut Indonesia akan mengangkat isu perdamaian di Ukraina, serta upaya untuk mengatasi krisis pangan dan energi global.

“Kita akan mendorong, mengajak negara-negara G7, untuk bersama-sama mengupayakan perdamaian di Ukraina dan juga secepat-cepatnya mencari solusi dalam menghadapi krisis pangan, krisis energi yang sedang melanda dunia. Memang upaya ini tidak mudah, tapi kita, Indonesia, akan terus berupaya,” kata dia, seperti dirilis setkab.go.id.

Setelah dari Jerman, Kepala Negara akan melanjutkan kunjungan kerja ke Ukraina. Presiden Jokowi akan mengadakan pertemuan dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.

“Misinya adalah mengajak Presiden Ukraina, Zelenskyy untuk membuka ruang dialog dalam rangka perdamaian, untuk membangun perdamaian, karena perang memang harus dihentikan, dan juga yang berkaitan dengan rantai pasok pangan harus diaktifkan kembali,” ucapnya.

Dengan misi yang sama, Kepala Negara akan melanjutkan kunjungan kerjanya ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

“Dari Ukraina saya akan menuju ke Rusia untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin. Sekali lagi, dengan misi yang sama saya akan mengajak presiden Putin untuk membuka ruang dialog dan sesegera mungkin untuk melakukan gencatan senjata dan menghentikan perang,” kata Presiden. (HS-08)

Kemenkes RI – Inggris Jajaki Kerja Sama Penanganan Stroke

Peringatan HANI 2022, Pramono Anung Ajak Perangi Narkoba