Jelajah Borobudur Strategi Bank Jateng Bangkitkan UMKM

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo dan Dirut Bank Jateng Supriyatno saat memperkenalkan program Jelajah Borobudur, baru-baru ini.

 

HALO BISNIS – Bank Jateng menyiapkan sejumlah strategi untuk mendukung geliat perekonomian Jawa Tengah, khususnya yang menyasar para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Direktur Utama Bank Jateng, Supriyatno menilai, UMKM perlu terus diperkuat, karena saat ini peran para penggerak ekonomi rakyat ini sudah tidak lagi dipandang sebagai alternatif pendorong kegiatan ekonomi.

Melainkan sebagai tulang punggung atau pondasi ekonomi negara.

“Dukungan Bank Jateng kepada UMKM sudah lama diwujudkan dalam bentuk penyediaan akses pembiayaan maupun pendampingan untuk mengelola dan mengembangkan usaha,” ungkap Supriyatno, Minggu (30/8/2020).

Kini, dukungan itu kian diperkuat dengan sejumlah inisiatif baru, yang bertujuan membantu pemulihan perekonomian khususnya bagi para pelaku usaha kecil.

“Wabah Covid-19 telah membuat banyak pelaku UMKM kelimpungan menghadapi bisnisnya yang terhambat. Dalam kondisi seperti ini, UMKM perlu terus diperkuat,” jelasnya.

Dikatakan oleh Supriyatno, Bank Jateng memperkenalkan program Jelajah Borobudur.

Jelajah Borobudur merupakan program pemberdayaan untuk nasabah dan non-nasabah Bank Jateng, yang bertujuan meningkatkan kapasitas para pelaku usaha kecil, baik secara personal maupun kelompok.

“Program ini didesain untuk memadukan potensi pariwisata di wilayah Candi Borobudur dengan potensi ekonomi masyarakat yang ada di kawasan wisata candi terbesar di Indonesia tersebut,” ujarnya.

Jelajah Borobudur bertema “Noto Ati Bangun Deso” mengusung misi, menjadikan kawasan wisata Candi Borobudur dan lingkungan sekitarnya agar dapat tumbuh bersamaan dari sisi ekonomi, budaya, serta kearifan lokal masyarakat.

Menurut Supriyatno, ada tiga program yang dirancang unuk menjalankan kegiatan pemberdayaan masyarakat, yaitu bangun cerita, bangun komunitas, bangun usaha.

“Ketiga program tersebut diharapkan menjadi inisiatif bagi seluruh masyarakat serta pemangku kepentingan, untuk bersama-sama memberikan kontribusi dalam peningkatan ekonomi kerakyatan yang kuat,” imbuhnya.

Dalam rangkaian Jelajah Borobudur, diperkenalkan pula Taman Pangan Keluarga, yang merupakan buah kerja sama antara Bank Jateng dengan Fakultas Pertanian Universitas Tidar Magelang.

“Wujud konkretnya berupa proyek pembuatan Taman Agroponik yang membudi dayakan berbagai tanaman pangan dan ikan air tawar serta unggas,” ucap Supriyanto.

Dijelaskan, prinsip utama Taman Pangan Keluarga adalah memanfaatkan lahan pekarangan rumah penduduk dan bertujuan memenuhi kebutuhan pangan lokal.

“Hasil panen dari taman akan dipasok kepada penginapan, homestay, guesthouse, dan hotel di sekitar kawasan Candi Borobudur. Selain itu, keberadaan taman itu sendiri dapat dikemas menjadi wisata agro dengan menargetkan para pengunjung candi,” terang Supriyatno.

Masih dalam rangkaian Jelajah Borobudur, ada satu lagi inisiatif yang dilakukan Bank Jateng untuk menggerakkan UMKM, yakni menyediakan marketplace digital utuk mewadahi para pelaku UMKM di Jawa Tengah.

“Bank Jateng sudah meluncurkan Bimart (Bima Market), yang diproyeksikan akan mampu bersanding dengan e-commerce raksasa yang sudah dikenal di Indonesia,” kata Supriyatno.

Di sisi lain, Bank Jateng juga turut berperan aktif dalam mendukung implementasi Peraturan Pemerintah (PP) No 23/2020 tentang Program Pemulihan Ekonomi Nasional.

Lebih jauh dikatakan, dalam poin restrukturisasi kredit dampak Covid-19, Bank Jateng telah menyelesaikan program restruktrusisasi kepada 15.433 debitur terdampak pandemi, dengan total outstanding senilai Rp 4,4 triliun.

“Program Subsidi Tambahan KUR juga telah diberikan kepada 13.945 debitur Bank Jateng dengan nilai outstanding Rp 1,4 triliun. Program Subsidi UMKM telah terlaksana di Bank Jateng dengan total debitur 32.758 dan outstanding Rp 4,09 miliar,” ungkap Supriyatno.

Program Penjaminan Asuransi di Bank Jateng kini telah sampai pada tahap finalisasi Standard Operating Procedure (SOP). Adapun, terkait Penempatan Uang Negara (PUN) senilai Rp 2 triliun di Bank Jateng, manajemen telah menyiapkan sejumlah strategi untuk melakukan leverage dalam bentuk kredit senilai Rp 5 triliun.

“Sejauh ini, penyaluran PUN non suku bunga khusus telah terealisasi di Bank Jateng sebanyak 2.071 debitur dengan nilai outstanding Rp 267 miliar,” pungkas Supriyatno.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.