in

Jasa Penjamasan Keris di Bulan Sura Banjir Order

Ndaru Handoko Aji saat melakukan penjamasan benda pusaka keris.

 

HALO SEMARANG – Setiap bulan Sura, masyarakat Jawa biasa melakoni tradisi pencucian atau penjamasan benda pusaka seperti keris. Pada Tahun Baru Sura Alip 1955 ini, jasa penjamasan benda pusaka di Kota Semarang mengalami kebanjiran order.

Seperti yang diakui Ndaru Handoko Aji (51). Bulan Sura bagi sebagian orang dianggap sebagai bulan yang suci dan dimanfaatkan untuk menjamas benda pusaka milik mereka. Total tahun bulan SUro ini, dia menerima sekitar 500 pesanan benda pusaka yang akan dijamas.

“Jenisnya bermacam-macam, ada keris, pedang, dan tombak. Tradisi menjamas pusaka ini biasa dilaksanakan saat Suro, menurut kepercayaan tradisi Jawa. Termasuk bagi sebagian warga di Solo, Yogyakarta, dan wilayah Jateng lainnya,” tutur Ndaru saat ditemui halosemarang.id di kediamannya di Jalan Batan Timur Raya Nomor 44, Miroto, Semarang Tengah, Selasa (10/8/2021).

Jumlah pemesan benda pusaka yang hendak dijamas tersebut mengalami peningkatan yang signifikan. Tahun lalu, ia hanya menerima sekitar 200 hingga 300 benda pusaka.

“Sampai bulan September nanti mungkin hampir lebih 500 keris. Mungkin kalau orang Jawa untuk mengusir korona,” jelasnya sambil menunjukkan ratusan keris yang akan dijamas.

Pemakai jasa penjamasan benda pusaka Ndaru merupakan pelanggan yang turun temurun. Datang dari berbagai daerah bahkan hingga luar Jawa. Meski kadang pengagum baru benda pusaka juga menggunakan jasanya.

“Banyak yang sudah menjadi langganan, mulai dari bapaknya sampai ke anaknya. Mereka ada dari Demak, Grobogan, Kendal, Tegal, Jepara dan lain-lain. Luar Jawa, Kalimantan juga ada,” ujarnya sembari menunjukkan bentuk-bentuk keris yang hendak dijamas.

Dikatakannya, dari ratusan benda pusaka yang diterima untuk dijamas, keris yang mendominasi. Prosesi penjamasan dilakukan dengan membuka warangka atau wadah keris dari pegangannya. Baru kemudian, untuk membersihkan karat, keris direndam dalam air kelapa, jeruk nipis, dan sabun.

Setelah pamor atau identitas dari empunya terlihat, keris akan dibilas dengan air kembang untuk selanjutnya dikeringkan. Ia mematok harga untuk sekali penjamasan benda pusaka mulai dari Rp 50 ribu, tergantung kesulitan yang ditangani.

“Prosesnya tidak gampang. Pemiliknya kadang tidak tahu. Kalau karatnya tebal memerlukan waktu penjamasan tiga hingga empat hari,” katanya sambil melakukan penjamasan keris.

Pada hari-hari biasa, ia menerima jasa perawatan, perbaikan, pembuatan warangka, hingga jasa konsultasi benda pusaka. Ia menggeluti profesi ini dari turunan ayahnya.

“Saya merupakan generasi kedua. Dulu ini profesi ayah saya. Jika tidak bulan Sura saya juga menerima. Kalau bulan Sura banyak repot, karena pesanan banyak,” paparnya.(HS)

Share This

Lapas Semarang Siap Menuju Wilayah Bebas Korupsi

Ganjar Semangati Atlet Pelatda PON Jateng di Kompleks Jatidiri