Jamin Akurasi, BMKG Rutin Kalibrasi Peralatan

 

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat meninjau kegiatan kalibrasi alat intensitymeter di Kecamatan Pundong, Bantul, Rabu (4/11). (Foto: bmkg.go.id)

 

HALO SEMARANG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, selalu menjamin akurasi dan ketepatan peralatan yang dimiliki, dengan melaksanakan proses kalibrasi.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat meninjau kegiatan kalibrasi alat intensitymeter di Kecamatan Pundong, Bantul, Rabu (4/11).

“Peralatan kami dikalibrasi secara rutin, agar pengukurannya valid dan akurat. Kalibrasi rutin diperlukan untuk mengukur penyimpangan data yang dihasilkan oleh alat tersebut. Kemudian akan dilakukan proses koreksi secara algoritmik untuk mengembalikan alat ke kondisi semula,” jelas Dwikorita, seperti dirilis bmkg.go.id, Kamis (4/11).

Intensitymeter merupakan alat yang berfungsi untuk mengukur intensitas gempabumi, di lokasi alat tersebut terpasang.

Dwikorita menyebutkan, saat ini BMKG telah mampu merekayasa secara mandiri alat intensitymeter.

“Alat ini 90% merupakan karya insan BMKG. Sistemnya telah dibuat secara mandiri oleh Pusat Instrumentasi Kalibrasi dan Rekayasa. Hanya memang utuk sensor, kami masih belum dapat memproduksi secara mandiri sehingga tetap harus mendatangkan dari luar negeri,” lanjutnya.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Pusat Instrumentasi, Kalibrasi, dan Rekayasa BMKG, Hanif Andi Nugraha.

Hanif menyebutkan, BMKG akan terus berupaya merekayasa peralatan secara mandiri dan laik operasi.

“Sesuai UU No. 31 Tahun 2009, alat disebut laik operasi harus memiliki 2 ketentuan, yaitu beroperasi dan terkalibrasi. Saat ini, Bidang Kalibrasi Peralatan Geofisika kami telah mampu membuat satu metode yang bisa untuk melakukan proses kalibrasi terhadap peralatan yang telah kami buat sendiri,” ungkap Hanif.

Dia menambahkan hasil pengukuran intensitymeter hasil rekayasa ini relatif sama dengan pengukuran intensitas gempa yang dilakukan oleh Pusat Gempa Nasional. Data yang dihasilkan juga telah terkoneksi dengan server di BMKG dan mampu mengirimkan data secara realtime.

“Saat ini BMKG sudah memasang intensitymeter rekayasa di 11 lokasi yg tersebar di beberapa wilayah Indonesia dan 1 di kantor pusat sejak tahun 2010 dan datanya telah terhubung ke server kami secara realtime. Selain intensitymeter, kami juga telah berhasil membuat AWOS yg saat ini dipasang di runway 3 Bandara Soekarno Hatta. Dalam waktu dekat, BMKG juga akan melakukan pemasangan 17 ARG (Automatic Rain Gauge) rekayasa di sepanjang DAS di Jabar, Jateng dan Jatim untuk mendukung antisipasi bencana hidrometeorologi. Selain itu, juga telah dihasilkan sirine yang dalam waktu dekat akan digunakan dalam kegiatan Presiden di Labuan Bajo,” tambah Hanif.

Selain intensitymeter, Dwikorita juga meninjau alat prekursor gempabumi di Stasiun Prekursor Gempabumi Kecamatan Pundong yang dipasang oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) BMKG. Alat ini dipasang untuk kepentingan studi prekursor gempabumi atau untuk studi tanda-tanda sebelum kejadian gempabumi.

Alat prekursor gempabumi memiliki 6 sensor yaitu, sensor gas radon, sensor level muka air tanah, sensor suhu bawah permukaan, sensor suhu udara, sensor tekanan udara, dan sensor curah hujan. Untuk sensor gas radon, level muka air tanah, dan suhu bawah permukaan ditempatkan di bawah permukaan tanah melalui lubang bor yg dibuat dengan kedalaman 100 meter untuk merekam data-data level air tanah, gas radon bawah permukaan, dan suhu bawah permukaan.
Saat ini, Puslitbang BMKG memiliki 4 alat prekursor gempabumi.

Dua alat dipasang di Pundong dan Piyungan, Yogyakarta, dan dua alat dipasang di Palu dan Tadulako, Sulawesi Tengah. Untuk sensor gas radon sendiri, Puslitbang BMKG telah memiliki beberapa set peralatan yang ditempatkan di beberapa lokasi patahan untuk keperluan studi, antara lain di Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, dan sesar-sesar sekitar Jabodetabek. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.