Jadi Perhatian, Situs Boto Tumpang Di Kendal Dibahas Dalam FGD

Penemuan Candi Boto Tumpang di Desa Karangsari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal.

 

HALO KENDAL – Penemuan Candi Boto Tumpang di Desa Karangsari, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, menjadi pembuka untuk mengetahui sejarah Kabupaten Kendal sebelum masa Kerajaan Mataram.

Hal ini terungkap dalam Forum Group Diskusi yang diadakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional di salah satu hotel di Kendal (24/4/2021).

Penemuan Candi Boto Tumpang dilakukan oleh Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 2019 dan dilanjutkan kembali tahun 2021.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui awal pengaruh Hindu Buddha India di Pantai Utara Kendal.

Ketua Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Agustijanto Indradjaja mengatakan, dari hasil penggalian kedua kali ini sudah bisa diketahui tentang keberadaan candi yang dibuat dari batu bata.

Dikatakan, Situs Boto Tumpang ini hampir sama dengan Candi Batujaya di Karawang yang merupakan tempat ibadah agama Buddha.

“Hasil penelitian laboratorium di New Zeland dan Perancis menunjukkan bahwa candi tersebut dibangun sekitar abad 7 Masehi. Abad tersebut adalah masa kejayaan Kerajaan Kalingga yang dipimpin Ratu Shima,” terangnya.

Dikatakan, target penelitian selesai selama tiga tahun, sehingga pada penelitian dengan penggalian pada tahun depan sudah bisa diketahui gambaran utuh sebuah bangunan candi.

Hasil dari penelitian ini menjadi rekomendasi bagi Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah untuk bisa melakukan pemugaran candi Boto Tumpang.

“Untuk pelestarian Candi Boto Tumpang sebagai cagar budaya, ini kewenangannya pada Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah yang tentunya harus bekerja sama dengan pemda setempat,” jelasnya.

Anggota DPRD Kendal, Widya Kandi Susanti berharap kepada Pemerintah Daerah Kendal, untuk menindaklanjuti supaya keberadaan situs-situs kuno bisa dilestarikan.

“Dengan adanya penemuan Candi Boto Tumpang dan situs-situs kuno lainnya yang tersebar di beberapa kecamatan, harapannya sejarah Kendal sebelum masa Mataram Kuno bisa diketahui secara ilmiah. Karena selama ini sejarah Kendal yang sudah dibukukan, baru dimulai pada masa Mataram Kuno,” ungkap mantan Bupati Kendal periode 2010-2015 tersebut.

Sebagai anggota dewan, Widya Kandi juga akan mengupayakan ada Perda tentang Cagar Budaya.

“Undang-undang Cagar Budaya kan sudah ada, maka kami di dewan akan mengupayakan supaya dibuat Perda tentang Cagar Budaya. Sehingga peninggalan kuno yang ada bisa terjaga,” tandasnya.

Forum Group Diskusi diikuti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kendal, anggota DPRD Provinsi Jateng dan Kabupaten Kendal dan instansi terkait.

Selain itu juga dihadiri pemerhati budaya, seperti guru sejarah dan Komunitas Budaya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.