in

Ironis, Gara-Gara Batal Jual Tanah, Seorang Kakek Di Semarang Dilaporkan Tetangganya

Ilustrasi Kriminal.

 

HALO SEMARANG – Seorang lanjut usia (lansia) dilaporkan oleh tetangganya sendiri gara-gara membatalkan menjual tanah seluas 2300 meter persegi di wilayah Mangunsari Gunungpati, Kota Semarang.

Diketahui tersangka bernama Suryadi (63) warga Pakintelan RT 05 RW 05, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang dan kini ditahan di Polsek Gunungpati akibat permasalahan tersebut.
Ia dilaporkan oleh tetangganya sendiri yakni S sebagi pembeli dan MD selaku makelar.

Penasehat hukum Suryadi, Yohanes Sugiwiyarno mengatakan, permasalahan bermula ketika harga yang disepakati antara penjual dan pembeli tidak ada kecocokan.

“Penjual mintanya Rp 900 ribu per meter persegi. Tapi pembeli mintanya Rp 900 juta secara keseluruhan. Jika dihitung selisihnya hampir Rp 1,4 miliar dan terjadi perselisihan,” jelasnya, belum lama ini kepada wartawan.

Sebelum adanya kesepakatan harga, kata dia, antara penjual dan pembeli belum pernah bertemu. Jual beli itu, dijembatani oleh makelar atau tetangganya sendiri yang berinisial MD.

“Saat itu Suryadi tidak pernah bertemu dan tawar menawar langsung calon pembeli. Makelar itu mendatangi rumah Suryadi menawar tanah miliknya yang rencanaya akan dibangun gedung haji,” ujarnya.

Dia menerangkan, pertama kali Suryadi menawarkan tanahnya tersebut dengan harga Rp 1 juta per meter persegi yang disaksikan anak istrinya. Namun karena akan dibangun gedung haji tersangka menurunkan harga menjadi Rp 900 ribu per meter persegi dengan niatan ibadah.

“Singkat cerita harga yang ditawarkan penjual pun disepakati,” ujarnya.

Yohanes menuturkan selang beberapa hari, Suryadi didatangi makelar diajak ke rumah pembeli yang merupakan tetangganya. Sesampainya di rumah pembeli, Suryadi diperlihatkan uang Rp 50 juta untuk dijadikan tanda jadi.

“Anehnya uang Rp 50 juta yang diperlihatkan itu, Suryadi hanya diberi Rp 30 juta, sementara Rp 20 juta diambil pembeli dengan alasan untuk keperluan akomodasi,” tuturnya.

Selanjutnya, tersangka diminta menanda tangani kwitansi tanda jadi yang dibuat oleh pembeli. Namun ketika sudah ditanda tangani, copy kwitansi itu tidak diberikan.

“Namun rupanya di dalam kwitansi itu terdapat tambahan klausul jika pembeli membatalkan maka uang tanda jadi hilang. Begitu juga sebaliknya jika penjual batal menjual maka wajib mengembalikan 3 kali sampai dengan 10 kali lipat uang tanda jadi itu,” jelasnya.

Menurutnya, tambahan klausa dalam kwitansi itu tidak dibubuhi paraf tersangka. Pada kuitansi itu hanya bertuliskan nominal tanda jadi Rp 30 juta dan tidak menerangkan harga yang disepakati.

“Tanah itu sebelumnya letter C kemudian diikutkan PTSL. Pada bulan Agustus 2020 PTSL selesai dan keluar sertifikat SHM atas nama tersangka. MD yang saat itu sebagai RW membantu mengambil sertifikat itu. Tersangka menanyakan kelanjutan jual beli tersebut,” paparnya.

Lanjutnya, saat ditanya kelanjutan rupanya pembeli tidak mampu membayar harga yang ditawarkan tersangka yakni Rp 900 ribu per meter persegi. Kemudian makelar itu diduga memutarbalikkan cerita bahwa harga yang ditawarkan tersangka Rp 900 juta secara keseluruhan.

“Saat itulah terjadi perselisihan hingga adu argumen dengan pembeli. Tersangka bersikukuh harga Rp 900 ribu per meter persegi saat penawaran kepada makelar tersebut dan disaksikan istri dan anaknya,” tuturnya.

Rupanya, karena tersangka tidak menjual tanah seharga Rp 900 juta, pembeli mengancam akan melaporkan ke polisi. Tersangka diminta mengembalikan ganti rugi sebesar 10 kali lipat atau Rp 300 juta dari tanda jadi sebesar Ep 30 juta yang tertera di dalam kwitansi.

Ditahan Polsek Gunungpati

Lalu karena merasa keberatan, dilakukan mediasi di kelurahan setempat antara pembeli dan makelar dan hasilnya menurunkan angka ganti rugi yang awalnya Rp 300 juta menjadi Rp 150 juta.

Yohanes mengatakan karena takut dilaporkan polisi akhirnya tersangka dan keluarga menyanggupi membayar 3 kali lipat dari tanda jadi. Tersangka hanya mampu membayar Rp 90 juta setelah ada pembeli baru.

“Penawaran itu ditolak keras oleh pembeli, serta meminta mengganti rugi Rp 150 juta dan harus dibayar hingga akhir bulan,” pungkasnya.

Singkat cerita, ia menuturkan tersangka mendapat panggilan dari polisi. Setelah itu kepolisian langsung menahan tersangka di Polsek Gunungpati.

“Tersangka menjadi tahanan Polsek Gunungpati sejak Senin (26/7/2021).

Kami akan melaporkan ke Propam Polda, hingga mabes Polri. Kami juga akan menempuh praperadilan,” bebernya.

Sementara itu, anak tersangka Muhamad Abdulah menuturkan tanah yang dijual ayahnya adalah tanah waris dari kakeknya. Dia menyebut, awalnya ayahnya tidak pernah melakukan penawaran apapun.

“Tapi waktu ditanya MD mau dijual dijawab dijual. Kalau mau ada yang beli monggo (silakan) kalau tidak ya tidak masalah,” ucapnya.

Menurutnya tawar menawar di rumah ayahnya terjadi tahun 2020. Dirinya mendengarkan percakapan antara ayahnya dan makelar tersebut tanah itu disepakati dijual Rp 900 ribu per meter persegi.

“Waktu itu saya membukakan pintu. Bapak saya dengan pembeli belum bertemu saat itu. Ketemunya hanya sama makelar. Ketemunya  dengan pembeli saat tanda jadi,” jelasnya.

Awalnya, ayahnya tidak mau pembayaran menggunakan tanda jadi. Ayahnya meminta pembayaran dilakukan langsung lunas.

“Tapi makelar itu bilang tidak masalah ini tanda jadi,” ujar dia.

Ia menuturkan kwitansi tanda jadi itu ditunjukkan setelah sertifikat jadi sekitar akhir tahun 2020. Saat itu ayahnya sudah menanyakan kelanjutan jual beli tanah tersebut.

“Bapak saya sudah nanya tiga kali awalnya mengelak, kemudian katanya mau dilunasi, dan akhir tahun akan dilunasi,” ujar dia.

Di sisi lain Kapolsek Gunungpati AKP Agung Yudiawan membenarkan bahwa Suryadi ditahan karena kasus tipu muslihat jual beli tanah. Saat ini kasus tersebut sedang ditangani Polsek Gunungpati. “Kasusnya Suryadi sedang ditangani Polsek Gunungpati,” tuturnya.(HS)

Share This

Mengawali Karir Dari Waiter

Ucapkan Selamat Untuk Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, Ganjar: Hebat Betul