Investasi Singapura di Indonesia Meningkat 50 Persen

Pertemuan bilateral Menteri Luar Negeri Indonesia Retno LP Marsudi dengan Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, untuk membahas kerja sama kedua negara. (Foto : Kemlu.go.id)

 

HALO SEMARANG – Walaupun masih dalam masa pandemi Covid-19, Investasi Singapura di Indonesia, pada 2020 mencapai 9,8 miliar dolar, atau meningkat 50 persen dari tahun sebelumnya.

Indonesia berharap pafa 2021 ini, kerja sama bidang ekonomi ini dapat ditingkatkan. Karena itu kedua negara, saat ini tengah membahas Perjanjian Investasi Bilateral (PIB) yang instrumen ratifikasinya telah disalingtukarkan pada awal Maret 2021 lalu.

“PIB ini diharapkan dapat memperkuat arus investasi masuk dengan menciptakan kepastian dan rasa percaya. PIB ini juga mencerminkan komitmen kuat kami, terhadap kerja sama ekonomi yang terbuka dan adil, dan menandakan penguatan optimisme untuk pemulihan ekonomi sesegera mungkin. Kami berharap Leaders’ Retreat akan semakin mendorong investasi,” ujar Menlu RI, seperti dirilis Kemlu.go.id, Jumat (26/3), berkaitan pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, untuk membahas kerja sama kedua negara.

Terdapat dua agenda utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut, yaitu persiapan petemuan Leaders’ Retreat antara Presiden Jokowi dengan PM Lee Hsien Loong dan saling tukar pandangan terkait isu-isu regional atau internasional.

Leaders’ Retreat dijawalkan diselenggarakan pada semester kedua tahun 2021. Kedua Menlu membahas isu-isu substantif, yang akan dibicarakan dalam pertemuan retreat tersebut, yaitu mencakup kerja sama investasi, persiapan pembangkitan kembali sektor travel dan pariwisata, dan kerja sama ekonomi digital.

Terkait pembangkitan kembali sektor travel dan pariwisata, Menlu RI menggarisbawahi Travel Corridor Arrangement (TCA) Indonesia dan Singapura, yang telah ada.

TCA tersebut memfasilitasi perjalanan resmi dan esensial. Selanjutnya, yang perlu dibahas adalah pembukaan perbatasan untuk tujuan pariwisata.

“Sambil terus memantau perkembangan pandemi, kita mencatat adanya komunikasi terkait kemungkinan proyek percontohan pembukaan kembali perbatasan untuk tujuan pariwisata dengan aman, bertahap, dan sangat hati-hati. Saya ulangi, dengan aman, bertahap, dan sangat hati-hati,” kata Menlu RI.

Retno LP Marsudi juga menyebutkan perkembangan positif vaksinasi di Indonesia, yang telah menjangkau lebih dari 9 juta orang, dengan tingkat vaksinasi 500.000 orang per hari.

Meski demikian, tren yang positif ini tidak membuat Indonesia berpuas diri. Sebaliknya, Indonesia harus terus bekerja lebih keras supaya segera pulih dari pandemi.

Terkait kerja sama ekonomi digital, Menlu RI menggarisbawahi rencana penetapan Nongsa Digital Park (NDP) di Batam, sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK).

Batam akan menjadi pintu masuk bagi perusahaan-perusahaan teknologi informasi internasional, yang akan berinvestasi di Indonesia, termasuk dari Singapura, sehingga diharapkan investasi asing di bidang TI akan semakin meningkat.

“Sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki ekosistem digital yang menjanjikan. Di sisi lain, Singapura memiliki pengalaman dan jejaring untuk mengembangkan sektor ini. Kita harus menjembatani potensi ini,” kata Menlu RI.

Agenda kedua pertemuan kedua Menlu adalah saling tukar pandangan terkait isu-isu regional dan internasional. Isu pertama yang dibahas adalah terkait situasi di Myanmar.

Kedua Menlu menyampaikan keprihatinan terhadap perkembangan situasi di Myanmar dan menyerukan kepada militer Myanmar untuk menghentikan penggunaan kekerasan guna mencegah jatuhnya lebih banyak korban.

Mereka juga mendesak Myanmar, untuk memulai dialog guna menegakkan kembali demokrasi, perdamaian, dan stabilitas. Dalam kaitan ini, Indonesia dan Singapura mendukung inisiatif penyelenggaraan ASEAN Leaders’ Summit.

Isu lain yang juga dibahas kedua Menlu adalah implementasi ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP). Menlu RI menegaskan pentingnya ASEAN membuka kerja sama dengan semua mitra dalam implementasi AOIP. Kerja sama inklusif adalah kunci bagi implementasi AOIP.

“Kita perlu banyak energi positif untuk pulih dari pandemi ini. Hanya dengan kerja sama kita dapat bangkit bersama dan bangkit lebih kuat,” tandas Menlu RI.

Sementara Menlu Singapura menyampaikan bahwa Indonesia dan Singapura telah menunjukkan bahwa keduanya merupakan mitra yang baik dalam situasi yang sulit. Kerja sama tetap terjalin baik meski di tengah pandemi. Kerja sama itu juga akan terus ditingkatkan dalam upaya memastikan pemulihan ekonomi pasca-pandemi.

“Kita telah melewati masa sulit bersama-sama dan kita telah manfaatkan sumber daya yang ada untuk membantu melewati dampak ekononi yang terjadi pada masyarakat kita,” kata Menlu Singapura.

Dia juga menegaskan bahwa Indonesia dan Singapura adalah sahabat yang saling percaya dan memiliki kepentingan strategis yang sama. Dalam isu Myanmar, Singapura sependatap dengan Indonesia terkait perlunya rekonsiliasi nasional untuk menemukan solusi yang efektif bagi Myanmar. Singapura juga sepandangan dengan Indonesai terkait pentingnya sentralitas ASEAN di kawasan. (HS-08)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.