Inovasi Mahasiswa Polines, Ciptakan Mesin ATM Penyedia Beras

Tulisan kiriman Retno Setyowati, mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan, Unnes.

Dua mahasiswa Polines, Muhamad Faris dan Rizki Sofyannanda menunjukkan cara kerja mesin ATM beras, Sabtu (14/12/2019).

 

DUA mahasiswa Polines, Muhamad Faris dan Rizki Sofyannanda merancang pembuatan mesin layanan penyedia beras berupa berbasis Radio Frequency Identification (RFID).

Mesin layanan penyedia beras mandiri dikembangkan guna membantu pemerintah dalam mendistribusikan bantuan beras untuk masyarakat miskin (raskin), dan diharapkan jadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Cara kerjanya, mesin tersebut menyerupai ATM yang dapat mengeluarkan beras dengan menggesek kartu khusus.

Selama ini, kegiatan distribusi bantuan beras kepada masyarakat miskin yang dilakukan oleh pemerintah umumnya masih menggunakan metode konvensional, yaitu dengan cara pemberian langsung kepada masyarakat miskin.

Ide tersebut muncul ketika melihat masyarakat dalam proses distribusi bantuan beras masih menggunakan metode konvensional dan warga harus datang ke balai desa untuk mengantre.

“Distribusi sering terjadi desak-desakan dan ketidak tertiban karena proses distribusi secara langsung membutuhkan waktu lebih lama, karena masyarakat harus mengantre terlebih dulu,” ungkapan Muhamad Faris, Sabtu (14/12/2019).

Proses distribusi tersebut dirasa kurang efektif, sehingga dibuatlah prototype mesin ATM beras. Di mana masyarakat yang berhak menerima bantuan beras akan diberikan sebuah kartu pintar berteknologi RFID. Sehingga distribusi bantuan beras akan lebih mudah dan dapat dilakukan secara langsung oleh penerima, dan pengambilannya sesuai kebutuhan.

Mesin tersebut dapat melakukan pengesetan berat dan menimbang beras secara otomatis, serta dalam proses pengambilannya dapat dilakukan kapan pun, sesuai dengan kebutuhan dari masyarakat miskin tersebut.

Proses pembuatan mesin dirancang di bengkel Polines dengan dibantu dosen pembimbing. Di awal perancangan, ada banyak kendala yang dihadapi Muhamad Faris dan Rizki Sofyannanda.

“Salah satunya membuat jumlah berat beras yang keluar harus presisi seperti saat ditimbang menggunakan timbangan digital. Namun tantangan itu kemudian dapat kami pecahkan,” ungkapan Muhamad Faris.

Mesin ini menurut mereka juga dapat disetting sesuai kapasitas yang di inginkan. Jatah saldo 30 kilogram beras perbulan, batas pengambilan tiap hari sebesar 3 kilogram beras perorang, dan bak penampungan maksimal 50 kilogram beras.

“Pembuatan mesin layanan penyedia beras mandiri berbasis RFID ini menggunakan metode air terjun (waterfall) dalam penakaran dan penimbangan berasnya yang meliputi analisis kebutuhan, desain sistem, pembuatan perangkat keras dan lunak, pengujian, dan penerapan mesin,” kata Rizki Sofyannanda.

Dengan inovasi ini, diharapkan dukungan penuh dari pemerintah agar mahasiswa terus mengembangkan kemampuanya dalam menuangkan ide-ide baru dalam menciptakan inovasi baru.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.