Inilah Sosok Pahlawan Nasional dari Kendal, Namanya KH Ahmad Rifa’i

Sarasehan dan Sosialisasi Pahlawan Nasional KH. Ahmad Rifa’i dalam rangka peringatan Hari Pahlawan Nasional ke-75 Tahun 2020, bertempat di ruang Abdi Praja Kabupaten Kendal, Jumat (13/11/2020).

 

PEMKAB Kendal mengadakan Sarasehan dan Sosialisasi Pahlawan Nasional, KH Ahmad Rifa’i dalam rangka peringatan Hari Pahlawan Nasional ke-75 tahun 2020, di ruang Abdi Praja Kabupaten Kendal, Jumat (13/11/2020).

Kiai Haji Ahmad Rifa’i (lahir di Tempuran, Kendal, Jawa Tengah pada tahun 1787 dan meninggal di Manado, Sulawesi Utara pada tahun 1871) adalah Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Kendal. Beliau juga seorang ulama, penulis buku semangat perjuangan kemerdekaan.

Sang ayah yang merupakam ulama Kendal, KH Muhammad Marhum Bin Abi Sujak, meninggal saat Kiai Rifa’i baru berusia enam tahun.

Sang kiai juga telah memulai jalan dakwah ketika usia muda, dengan menghelat tabligh keliling Kendal. Dakwah Kiai Ahmad Rifa’i terkenal tegas, sehingga Belanda pun mengawasi gerak-geriknya. Belum lagi tulisan-tulisannya yang menyuarakan kemerdekaan Tanah Air dari tangan penjajah.

Dengan sikap patriotik tersebut, Kiai Ahmad Rifa’i sering ditangkap penjajah, di penjara, bahkan diasingkan. Berkali-kali ia keluar masuk penjara di Kendal, Semarang, dan daerah lain.

Dia juga pernah diasingkan di Desa Kalisalak Batang. Saat dipengasingan tersebut, sang kiai justru mendirikan sebuah pondok pesantren.

Kiai Ahmad Rifa’i pun kemudian memutuskan pergi ke Tanah Suci (Arab Saudi). Saat itu, usianya sekitar 30 tahun. Kiai Ahmad Rifa’i ingin menambah ilmu agamanya langsung dari ulama Saudi.

Di sana, dia pun berguru kepada para masyayikh, seperti Syekh Ahmad Ustman, Syekh Is Al -Barawi dan Syekh Abdul Aziz Al Habisyi. Setelah menempa ilmu di Saudi sekitar delapan tahun, Kiai Ahmad Rifa’i melanjutkan belajar ke Mesir.

Saat kembali ke Tanah Air, Kiai Ahmad Rifa’i makin mapan berdakwah. Dia pun kemudian bersama ulama-ulama Tanah Air, mengadakan pertemuan membahas kehidupan Muslimin Indonesia yang masih dekat dengan hal-hal mistis dan kesyirikan.

Sebuah gerakan pembaharuan pun muncul di benak ulama-ulama tersebut.

Dari gerakan pembaruan itulah Kiai Rifa’i kemudian membangun organisasi sosial kemasyarakatan yang disebut Rifa’iyyah.

Organisasi ini bergerak di ranah sosial agama dengan objek pembaruan masyarakat desa. Dalam perkembangannya, gerakan ini menjadi aksi protes penjajahan Belanda dan kaum tradisional.

Alhasil, setiap geraknya selalu diawasi penjajah. Kiai Ahmad Rifa’i sering kali diasingkan ke tempat terpencil.

Di akhir hayatnya, Kiai Ahmad Rifa’i pun meninggal di pengasingan di Tanah Tondano, Minahasa, Manado, Sulawesi Utara.

Bahkan, tanggal kematiannya pun tak ada yang tahu pasti. Ada yang bilang, Kiai Ahmad Rifa’i wafat pada Kamis 25 Rabiul Akhir 1286 H di usia 86 tahun. Sumber lain menyebut kiai wafat pada 1292 H di usia 92 tahun.

Jenazah Kiai Ahmad Rifa’i dimakamkan di kompleks makam pahlawan di Tindano.

Wakil Bupati Kendal, Masrur Masykur menyampaikan, bahwa di bumi Kendal tercinta ini, pernah melahirkan seorang yang pejuang gigih dalam melawan penjajahan Belanda, yaitu bernama KH Ahmad Rifa’i.

“Dalam dakwahnya KH Ahmad Rifa’i tidak hanya menyampaikan masalah-masalah agama, tapi juga sosial kemasyarakatan. Ternyata sikap dan semangat yang diajarkan Kiai Rifa’i itu benar-benar meresap di hati masyarakat. Atas jasa-jasa dan pengorbanannya, pada Tahun 2004 Pemerintah menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada KH Ahmad Rifa’i. Saat itu Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani langsung penganugerahan tersebut. Ini sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan pengorbanan para pahlawan dan perjuangannya,” ungkap Masrur.

Dia juga mengajak kepada seluruh peserta, agar bersama-sama mensosialisasikan kepada masyarakat Kendal tentang Pahlawan Nasional asal Kendal KH Ahmad Rifa’i.

Dan pada tahun ini pencanangan awal proses penambahan nama Jalan Pahlawan menjadi Jalan Pahlawan Nasional KH Ahmad Rifa’i.

“Marilah kita kenali para pendahulu bangsa dan harus mencontoh para pahlawan kita, dengan memberikan penghormatan dan penghargaan bagi para pejuang kita. Dan mari lanjutkan perjuangan pahlawan-pahlawan kita dengan menjadikan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera, serta jadilah pahlawan untuk keluarga dan orang-orang di sekeliling kita,” pungkas Masrur.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.