Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

Inilah Makna Nama Jalan di Kampung Sekayu Semarang, Ternyata Punya Nilai Sejarah

Sebuah gang atau lorong rumah penduduk di Kampung Sekayu, masih mempertahankan nama-nama yang diambil dari tingkatan kepangkatan di kesultanan Demak Bintoro.

 

MEMILIKI masjid kuno At Taqwa, Sekayu adalah kampung bersejarah di Kota Semarang. Masjid berarsitektur Jawa ini memiliki saka (tiang) tunggal penyangga atap model tumpang. Konon, masjid ini dibangun Kiai Kamal sekitar tahun 1413. Bentuk asli masjid tetap dipertahankan, terutama arsitektur bagian dalam, saat direnovasi tahun 2006.

Selain masjid, Kampung Sekayu yang ada tepat di belakang Paragon Mall hingga Balai Kota Semarang, ternyata juga memiliki sejarah lain.

Saat berkeliling di Kampung Sekayu, Kecamatan Semarang Tengah, sekilas seperti gang-gang lingkungan padat penduduk lain yang ada di Kota Semarang. Namun banyak yang tak mengetahui, bahwa nama jalan yang ada di setiap lorong gang masuk kampung, maupun rumah kuno milik warga asli, memiliki arti dan simbol serta sejarah yang melekat masing-masing.

Seperti Jalan Sekayu Tumenggungan, Jalan Sekayu Masjid, dan Jalan Sekayu Kepatihan. Masing-masing jalan tersebut merupakan rumah-rumah dari tokoh maupun seseorang yang memiliki tingkatan atau setrata tertentu pada saat pemerintahan kesultanan Demak Bintoro pada masa silam.

“Di sini masih mempertahankan nama Jalan Sekayu Tumenggungan, dulu rumahnya para tumenggung yang berderet di sepanjang gang tersebut. Lalu, ada Jalan Sekayu Kepatihan, ini rumahnya para patih. Sedangkan di dekat sebelum gang masuk masjid Sekayu Taqwa, nama gangnya Jalan Sekayu Masjid, di mana dulunya itu rumah para prajurit,” terang Ketua Takmir Masjid Taqwa Sekayu, Achmad Arief, belum lama ini.

 

Sebuah gang atau lorong rumah penduduk di Kampung Sekayu.

Sedangkan rumah warga asli yang masih mempertahankan bentuk aslinya, sudah sedikit. Namun pada rumah kuno yang masih ada, bisa dilihat dari pintu rumah yang memiliki ukiran dari kayu jati, dan sekaligus terdapat ukiran dengan simbol kepangkatan seseorang yang meninggalinya. Dan bagian pegangan pintu atau gagang pintunya masih terbuat dari keramik.

“Sekarang rumah yang masih ada ornamennya sudah jarang, tapi saya masih mempertahankan di salah-satu pintu rumah,” katanya.

Ditambahkan dia, selain berada di gang atau lorong masing-masing di rumah sesuai kepangkatan mereka, biasanya terdapat ukiran ornamen pada salah satu bagian pada pintu rumah. Jika rumah Tumenggung, di atas pintu biasanya ada ornamen berbentuk persegi panjang dengan lambang bumi, dikelilingi berjumlah sembilan mata anak panah.

“Yang memiliki arti tugas tumenggung adalah pembantu para wali sembilan, untuk memberikan cahaya dan kedamaian serta menolak kemungkaran di muka bumi ini,” imbuhnya.

Kemudian rumah para patih, di dalam rumah pasti terdapat ornamen anak panah berjumlah empat berukuran panjang, dan lingkaran oval yang digambarkan sebuah lautan luas. Dan anak panah pendek menusuk bulatan. Yang menurut dia, gambar itu maknanya negeri Nuswantoro (Indonesia), walau sejengkal tanah harus dipertahankan kejayaannya.

“Serta ornamen, berupa empat anak panah menembus bumi atau bulatan, yang pada sudutnya terdapat bunga kenanga yang mekar. Menandakan para patih kesultanan Demak, punya tekad yang kuat agar Nuswantoro memiliki nama harum dan besar di dunia Internasional,” ungkapnya.

Sedangkan rumah prajurit, memiliki ornamen pintu rumah berupa sejumlah anak panah menambus lingkaran berbentuk oval, yang menandakan prajurit harus siap berperang membela kedegdayaning Nuswantoro. Dengan berpegang enam garis di dalam lingkaran, punya arti agar rukun iman harus melekat di dalam hati prajurit.

“Namun ornamen-ornamen itu sudah banyak yang hilang dari rumah penduduk. Apalagi sekarang perkampungan ini sudah terdesak pembangunan, banyak wilayah kampung yang jadi bangunan bisnis,” katanya.

Dengan banyaknya nilai sejarah di Kampung Sekayu ini, diharapkan bisa dikembangkan Pemkot Semarang untuk diangkat menjadi salah satu potensi destinasi wisata di Kota Semarang, khususnya wisata religi. Selain, masjid Agung Jawa Tengah, Sam Poo Kong dan Vihara Watu Gong, Masjid Sekayu dan kampungnya juga memiliki nilai sejarah yang perlu diketahui generasi muda kini. “Tahun 2020 nanti, pemkot rencananya akan mengangkat Kampung Sekayu ini untuk dikembangkan jadi destinasi wisata religi,” terangnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang