in

Ini Solusi Penanganan Limbah Minyak Jelantah dari LICIN Indonesia

Pegawai LICIN Indonesia saat mengangkut minyak goreng bekas untuk diolah jadiu biodisel.

 

HALO BISNIS – Minyak jelantah atau minyak goreng bekas pakai, selama ini sering dianggap sebagai limbah. Tak jarang minyak bekas itu dibuang, dan akhirnya malah mencemari lingkungan. Namun kini, sebuah startup lokal, LICIN hadir mengolah limbah minyak goreng dari rumah tangga ataupun sektor F&B untuk diolah menjadi BioDiesel.

Minyak jelantah, baik itu yang bersumber dari limbah rumah tangga, industri rumahan, restoran, hingga usaha-usaha lainnya dapat ditukar dengan berbagai barang bernilai tinggi.

Peluncuran LICIN Indonesia, kata Pimpinan LICIN, Efang Sofian bertepatan dengan HUT ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia.

“LICIN menawarkan solusi yang memberikan keuntungan bagi masyarakat. Melalui layanan ini, minyak goreng bekas pakai dapat ditukarkan dengan uang tunai, produk AMDK Pelangi, hingga emas,” katanya melalui siaran tertulis yang diterima, Sabtu (21/8/2021).

Berdasarkan data dari The International Council on Clean Transportation (ICCT), pada tahun 2019, Indonesia menghasilkan 157 juta liter jelantah yang berasal dari limbah rumah tangga, industri rumahan, restoran, dan hotel.

Dan angka ini diprediksi akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan industri dan jumlah penduduk di Indonesia.
Sayangnya, minyak jelantah yang dapat dikumpulkan di Indonesia baru mencapai angka 3 juta kilo liter atau hanya 18.5% dari total konsumsi minyak goreng sawit nasional.

“Hal ini tentu sangat bermanfaat, mengingat jelantah biasanya hanya akan berakhir di pembuangan dan mencemari aliran air,” ujarnya.

Untuk menukarkan jelantah dengan beberapa produk tersebut, pengguna harus mendaftar melalui laman LICIN yaitu https://licin.love, kemudian melakukan permintaan pengambilan minyak bekas pakai tersebut.

Jelantah yang telah dikumpulkan, akan diolah kembali menjadi BioDiesel. Licin bersama dengan partner juga sudah mendapatkan sertifikasi resmi dari Komisi Eropa (European Comission) melalui “International Sustainability and Carbon Certification”.

“Sejak pertama soft launching hingga proses pengelolaan ini, LICIN telah mengumpulkan (2500 kg) jelantah selama 3 bulan sejak Juni 2021,” kata Efang.

Dengan mengusung tagline “Jelantah Jadi Berkah” dan mengkampanyekan “Bantu Ibu Raih Berkah, Sedekah, dan Amanah”, LICIN juga berkolaborasi dengan Bank Infaq besutan Sandiaga Uno untuk menyediakan program pengumpulan infaq berbasis jelantah.(HS)

Share This

Pandemi Covid-19, Permintaan Susu Sapi di Boyolali Meningkat

Ayo Buktikan, Jangan Cuma Wacana