in

Ini Ketentuan Dispertan Kota Semarang Jika Pemotongan Hewan Kurban Dilaksanakan Di Lingkungan Masjid

Petugas kesehatan dari Dinas Pertanian Kota Semarang memeriksa hewan kurban yang dijual di sekitar Jalan Jolotundo, Semarang, baru-baru ini.

 

HALO SEMARANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Dinas Pertanian (Dispertan) mengimbau masyarakat untuk bisa melakukan penyembelihan hewan kurban di rumah pemotongan hewan (RPH). Imbauan ini dilakukan mengacu pada surat edaran Wali Kota Semarang tentang tata cara penyembelihan hewan kurban di masa pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Semarang, Hernowo Budi Luhur mengatakan, pemotongan hewan kurban di RPH, dilakukan agar bisa meminimalisir adanya penularan virus Covid-19 saat pelaksanaan ibadah kurban.

“Seyogyanya bisa dilakukan di RPH, jadi panitia bisa membagikan hewan kurban ke masyarakat,” katanya, baru-baru ini.

Meski memberikan imbuan untuk bisa disembelih di RPH, Hernowo menjelaskan teknis jika penyembelihan harus dilakukan di masjid ataupun lingkungan masing-masing. Penerpan protokol kesehatan harus dilakukan secara ketat, misalnya masyarakat tidak diperbolehkan menonton agar tidak menimbulkan kerumunan.

“Panitia juga harus dalam kondisi sehat, selain penyembelihan tidak harus pada hari H. Namun bisa dilakukan saat bulan tasrik yakni yakni 11-13 Dzulhijjah. Pembagian pun harus dilakukan secara door to door,” paparnya.

Selain itu, panitia dan petugas penyembelihan hewan kurban wajib memakai alat pelindung diri di antaranya masker dan sarung tangan. Prokes harus dilakukan dengan baik.

Sementara itu, salah satu pedagang hewan kurban di Kota Semarang, Nunung Wijayanti mengeluhkan sepinya pembeli. Pedagang yang memiliki lapak di Jalan Jolotundo tersebut mengaku penjualan hewan kurban sangat sepi pada tahun ini. Dimungkinkan, PPKM berdampak pada keinginan masyarakat untuk membeli hewan kurban.

“Tahun ini berdampak sekali, sepi sekali. Tidak seperti tahun kemarin. Mungkin keinginan berkurban banyak, tapi karena banyak musala atau masjid yang tidak mengadakan kegiatan, masyarakat jadi ragu-ragu,” papar Nunung.

Dia telah membuka lapak di Jolotundo sejak sepuluh hari yang lalu. Dari stok 110 hewan kurban, baru terjual 30 ekor kambing dan 4 ekor sapi. Padahal biasanya penjualan sudah ramai mendekati hari H Moment Idul Adha.

“Biasanya, mendekati gini sudah terjual 80-an ekor. Tahun lalu kami jualan di sini laku sampai 100 ekor lebih. Ini baru berapa yang laku,” ujarnya.(HS)

Share This

Target Vaksinasi Blora 600 Ribu Warga

Dominan, Islam Makhachev Taklukkan Thiago Moises