Ini Alasan Harga Cabai Melambung Tinggi

Salah satu pedagang cabai di Pasar Mangkang melayani pembeli, Rabu (30/12/2020).

 

HALO SEMARANG – Harga bahan pangan stategis seperti cabai, di sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang masih mengalami kenaikan saat Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Seperti dari pantauan di Pasar Mangkang, harga cabai merah mencapai Rp 60 ribu/kg.

Salah satu pedagang pasar Mangkang, Chotimah (51) mengatakan, harga komoditas cabai saat ini terus mengalami kenaikan, hingga harga yang bisa dikatakan melambung. Baik jenis cabai rawit merah, cabai rawit hijau, dan cabai merah keriting, semuanya terus melonjak.

“Harga cabai rawit merah saat ini Rp 60 ribu/kg dari Rp 50 ribu/kg. Harga cabai rawit hijau menjadi Rp 40 ribu/kg dari Rp 30 ribu /kg. Begitu juga harga cabai merah keriting di harga Rp 56 ribu/kg,” ujarnya, Rabu (30/12/2020).

Kenaikan harga cabai, kata dia, sudah terjadi sejak seminggu yang lalu.
Senada Pedagang lainnya, Endah (40) mengatakan, kenaikan harga ini diprediksi akan terus berlangsung hingga awal 2021.

Alasan kenaikan harga komoditas cabai, karena harga sudah tinggi dari pengepul. Sehingga harga disesuaikan tegantung dengan harga pengambilan di tengkulak.

“Apalagi musim hujan seperti sekarang ini menyebabkan stok cabai dari petani juga berkurang, padahal permintaan saat ini tetap,” imbuhnya.

Sedangkan untuk komoditas lainnya, kata dia, seperti kol juga naik menjadi Rp 10 ribu /kg dari Rp 8 ribu/kg.

“Lalu, yang harganya stabil yakni bawang merah berkisar Rp 18 ribu/kg-Rp 20 ribu/kg. Dan harga bawang putih Rp 25 ribu/kg,” terangnya.

Sementara itu, Kabid Pengembangan Perdagangan dan Stabilitas Harga Dinas Perdagangan Kota Semarang,  Sugeng Dilianto mengaku, memang ada kenaikan harga cabai di pasar tradisional saat Natal dan jelang Tahun Baru.

Trend ini menurutnya juga terjadi pada awal tahun 2020. Mengacu harga cabai pada bulan Januari 2020, mencapai Rp 85 ribu/kg. Lonjakan harga cabai di pasar tradisional, menurutnya disebabkan beberapa hal.

Pertama karena pada bulan Maret-September 2020 sempat terjadi penutupan hotel, kafe, dan warung makan, serta restoran. Sehingga membuat permintaan cabai menjadi turun.

“Imbasnya petani yang panen cabai, harga jualnya rendah dan anjlok sehingga mengalami kerugian serta trauma karena gagal panen. Sehingga pada September -Oktober 2020, ini membuat petani enggan untuk tanam cabai, akibatnya pasokan dari petani menipis. Dan akhirnya membuat kelangkaan di pasaran, padahal saat ini permintaan tinggi,” katanya.

Selain itu, lanjut Dili, karena terkendala dengan cuaca ekstrem, karena tanaman rentan rusak akibat curah hujan yang tinggi. Diprediksi harga cabai terus akan naik hingga Januari tahun 2021.

Untuk antisipasi, pihaknya melakukan koordinasi dengan Disperindag Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Perdagangan melakukan monotoring terus di pasar tradisional.

“Memang karena harga cabai dari petani saat ini sudah tinggi,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.