Ingin Tahu Sejarah Nama Kalibanteng? Ini Kata Sejarawan

Taman Kalibanteng Semarang.

 

PENAMAAN perkampungan tradisional di Kota Semarang pada umumnya diberi nama sesuai legenda, profesi mata pencaharian penduduk, keadaan daerah, maupun tokoh masyarakat yang berada di perkampungan tersebut.

Begitu juga dengan sebuah bunderan di kawasan barat Kota Semarang, Bunderan Kalibanteng. Persimpangan yang ada di wilayah Kelurahan Kalibanteng Kulon ini asal muasal penamaannya cukup menarik. Hal itu tentu sangat berkaitan dengan naungan wilayah Kelurahan Kalibanteng Kulon.

Banyak yang beranggapan, nama Kalibanteng ada kaitannya dengan nama sebuah hewan yang sekerabat dengan sapi yang memiliki otot kekar, banteng.

Namun ternyata anggapan itu belum sepenuhnya benar.

Nama Bundaran Kalibanteng Semarang yang merupakan akses menuju Bandara Ahmad Yani (bandara lama), jika ditilik dari sejarah sebetulnya tidak berkorelasi dengan populasi banteng di daerah tersebut.

Melainkan dulu daerah tersebut merupakan benteng pertahanan Belanda pada era sebelum kemerdekaan Indonesia.

Sedangkan benteng yang terbesar didirikan di belakang stasiun poncol. Namun sayangnya, bukti fisik bangunan benteng di kawasan itu sudah tak berjejak.

Sebelum era kemerdekaan Indonesia, bekas benteng tersebut pernah berubah menjadi tanah lapang yang digunakan untuk pacuan kuda.

Lantas dipakai sebagai landasan pesawat terbang pertama kali di Semarang.
Fakta tersebut sesuai dengan hasil reportase Majalah Vokal IKIP PGRI Semarang edisi 33/th.23/2012. Dalam laporan bertajuk “Kota Sejuta Kali” tersebut,  Sejarawan Semarang, Jongkie Tyo menyebut dulu penyebutan kawasan itu adalah Kalibenteng lalu berubah menjadi seperti sekarang yaitu Kalibanteng.

“Tidak ada sumber tertulis mengenai asal usul pemberian nama daerah tersebut. Yang jelas tidak ditemukan populasi banteng di sana, melainkan banyak berdiri benteng,” ujar Jongkie.

Pada tahun 1950-an, daerah Kalibanteng menjadi satu-satunya lapangan terbang pertama di Semarang. Dan percobaan penerbangannya, terletak di belakang Stasiun Poncol.

Kemudian pada tahun 1979, lapangan terbang tersebut resmi menjadi nama Pangkalan Udara Angkatan Darat (PUAD) Ahmad Yani dan era berikutnya pangkalan itu menjadi Bandara Ahmad Yani. Hal itu seperti yang ditulis dalam buku Semarang Juwita karya Amen Budiman.

Namun, kini setelah bandara baru Ahmad Yani mulai beroperasi dan menempati lahan baru, landasan terbang bekas bandara lama digunakan sebagai Pangakalan Udara Utama Angkatan Darat Ahmad Yani.

Saat halosemarang.id menengok di Bunderan Kalibanteng yang terletak di tengah-tengah persimpangan di antara Jalan Siliwangi, Jalan RE Martadinata, Jalan Jenderal Soedirman dan lainnya itu, kini terdapat ruang terbuka hijau atau taman yang dinamakan Taman Kalibanteng. Taman ini yang berada di bawah jembatan jalan fly over yang diresmikan tahun 2014 tersebut ditanami berbagai jenis tanaman bunga.

Sehingga membuat suasana lebih hijau dan teduh sekaligus untuk mempercantik pemandangan di tengah kota.

Sedangkan pada bagian lain dari taman tersebut juga dibangun patung bapak Proklamator RI, Ir Soekarno yang baru ini diresmikan pemkot. Yang sebelumnya, tempat ini adalah bekas pos polisi.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.