Indonesia Bangun Satelit 150 Gbps, Terbesar di Asia

Pemerintah Indonesia membuat Satelit Satria akan berkapasitas 150 Gbps dan akan menjadi satelit mulitfungsi terbesar di Asia untuk keperluan layanan internet. (Foto: Indonesia.go.id)

 

HALO SEMARANG – Indonesia saat ini sedang mempersiapkan satelit terbesar di Asia, dengan kapasitas kecepatan 150 Gbps. Satelit yang nantinya akan ditempatkan di 146 BT (Bujur Timur) ini, dapat meningkatkan kecepatan internet hingga tiga kali lipat di seluruh Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) RI  Johnny G Plate, seperti dirilis Indonesia.go.id, mengatakan kelak daerah-derah blankspot atau tak terjangkau internet, akan dapat terlayani.

Selama ini Indonesia memanfaatkan lima satelit mandiri, dengan kapasitas 30 Gbps. Selain itu juga empat satelit yang disewa dari pihak asing, dengan kapasitas 20 Gbps.

“Beroperasinya Satria dengan kapasitas 150 Gpbs atau tiga kali lipat dari kapasitas sembilan satelit akan memberikan WiFi gratis di 150.000 titik publik di berbagai wilayah nusantara,” tutur Johnny, saat penandatangan kerja sama untuk kontruksi satelit ini, beberapa waktu lalu.

Saat ini, proses produksi Satelit Satria-1 sedang berjalan. Proses tersebut juga pernah tersendat karena pandemi Covid-19.

Pemerintah Indonesia sudah meminta perpanjangan waktu dengan perusahaan pembuatnya, Thales Alenia Space (TAS), dan roket peluncurnya adalah SpaceX Falcon 95500, selama 14 bulan untuk tetap dapat menempatkan satelit Satria-1 di slot orbit 146 BT (Bujur Timur).

Sebagai informasi, satelit ini direncanakan untuk dapat meluncur di orbit pada Maret 2023. Namun karena penundaan ini, satelit tersebut paling cepat baru bisa mencapai orbitnya pada kuartal keempat 2023.

“Dengan demikian, kita semua masih yakin bahwa Satria-1 akan ditempatkan di orbit, sesuai tambahan waktu penempatan yang diminta oleh Indonesia,” tutur Johnny.

Selain meminta perpanjangan waktu, menurut Johnny, pemerintah telah pula mempersiapkan dua langkah alternatif lain untuk memastikan orbit satelit di 146BT tetap bisa digunakan Indonesia.

Langkah lain yang dilakukan pemerintah adalah menyiapkan backup filling satelit, yang sudah didaftarkan di International Telecommunication Union (ITU) sebagai cadangan.

“(Ada) Nusantara PE1-A, apabila filling satelit PSN-146E tidak dapat digunakan lagi. Mudah-mudahan hal ini tetap masih bisa kita gunakan, karena itu biasa terjadi di dalam industri ini,” tutur Johnny pula.

Menteri Johnny juga menjelaskan, proses pendaftaran dan penyelesaian koordinasi sudah dijalankan sejak lama. Masalah koordinasi krusial dengan negara pun banyak yang telah diselesaikan.

Langkah alternatif kedua adalah operator satelit Indonesia menyewa dan menempatkan satellite floater dalam jangka waktu tertentu. Lewat alternatif ini, Indonesia tetap dapat memenuhi kewajiban regulasi ITU untuk menempati slot orbit 146BT.

“Dengan demikian, filling PSN 146 E akan tetap terjaga keberadaannya dan dapat digunakan oleh Satria-1,” ujar Johnny menjelaskan. Lewat tiga langkah itu, maka pengadaan dan penempatan Satria-1 ini dapat berlangsung baik.

Menkominfo mengatakan, proses pembiayaan telah mendapat persetujuan dari lembaga pembiayaan BPI Prancis dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Proses atau kesepakatan preliminary working agreement (PWA) antara PT Satelit Nusantara 3 (SNT) dan Thales Alenia Space (TAS) pun sudah dilakukan dan proses manufacturing sudah dimulai. Selain meminta perpanjangan waktu, menurut Menteri Johnny, Indonesia juga telah mempersiapkan dua langkah alternatif lainnya agar orbit satelit 146BT tetap bisa digunakan Indonesia.

Lanjut dia, dengan lautan yang membentang dan menghubungkan pulau demi pulau, Indonesia membutuhkan internet yang cepat, andal, dan aman. Agar dapat menyatukan seluruh wilayah.

“Pemanfaatan internet dari hulu ke hilir, khususnya kegiatan ekonomi digital untuk mendukung aktivitas ekonomi maritim akan mempercepat perwujudan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia,” kata Menkominfo dalam Peringatan Hari Nusantara 2020 yang berlangsung secara hibrid, beberapa waktu lalu.

Selain telah melakukan pemerataan internet di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), pembangunan BTS dan perluasan jaringan 4G, di 12.548 desa dan kelurahan yang belum terjangkau 4G (blankspot), pun dijadwalkan rampung 2022, Kominfo juga mengoptimalkan satelit. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.