in

Hoax Terkait Vaksin Bermunculan

 

HALO SEMARANG – Sejumlah kabar bohong, misinformasi, dan disinformasi muncul berkaitan dengan vaksinasi Covid-19.

Satgas Covid-19 pun buru-buru meluruskan dan menangkal kabar-kabar menyesatkan tersebut, antara lain melalui laman resmi Covid19.go.id.

Salah satu kabar bohong tersebut, menyebutkan bahwa  Presiden Jokowi bukan menerima suntikan berisi vaksin, namun cairan vitamin B. Pada sumber lain disebutkan Jokowi disuntikan vitamin C ketika siaran langsung di media.

“AU eee Dia bilang Cuma bi Vitamin itu ad kase suntik pa Jokowi..🤣🤣🤣🤣 Supya torang kata mo Suka VAKSIN.🤣🤣🤣🤣 BLUM STAWWW EE pokoknya jang suka au,” demikian narasi yang disampaikan pembuat kabar menyesatkan tersebut.

Dari hasil penelusuran sejumlah pihak, diketahui klaim tersebut tidak benar. Presiden Jokowi diberikan vaksin Covid-19 perdana di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu 13 Januari 2021. Vaksinasi terhadap Jokowi merupakan simbolis dimulainya program vaksinasi Covid-19 di Indonesia.

Proses vaksinasi disiarkan secara langsung di kanal YouTube Sekretariat Presiden RI. Wakil Ketua Dokter Kepresidenan Abdul Muthalib yang menjadi vaksinator, menunjukkan vial dan kemasan vaksin Covid-19 merek Sinovac, sebelum disuntikan pada Jokowi.

Tampak vaksinator kembali memperlihatkan vial vaksin sebelum dibuka. Penampakan vial pun bisa terlihat secara dekat.

Setelahnya vaksinator mengatakan, Presiden Jokowi tak merasakan sakit apapun saat disuntik vaksin Covid-19 buatan Sinovac. Dia memastikan bahwa vaksin Covid-19 yang disuntikkan ke Jokowi adalah vaksin buatan perusahaan China, Sinovac. Muthalib bahkan sempat menunjukkan botol vaksin sebelum disuntikan ke masyarakat.

“Di mana tertulis nomor vaksin Sinovac, vaksin tetap sinovac,” ujarnya dilansir dari merdeka.com, 14 Januari 2021.

 

Dengan demikian, klaim bahwa Jokowi disuntik vitamin tidak berdasar, karena tidak ada sumber relevan yang memberitakan hal tersebut. Sehingga, status tersebut masuk kategori Konten yang menyesatkan

Korea Selatan

Konten lainnya yang dinilai sebagai keliru, adalah unggahan melalui media sosial Facebook, yang menyebutkan bahwa 48 orang meninggal setelah menerima vaksin Corona.

Bahkan pemilik akun juga menambahi dengan narasi “Agenda Jahat Rezim Terungkap”.

Padahal, berdasarkan hasil penelusuran, klaim adanya 48 orang meninggal setelah menerima vaksin Corona adalah keliru. Faktanya, 48 orang di Korea Selatan itu, memang meninggal, tetapi bukan karena vaksin Corona.

Diduga mereka meninggal seusai disuntik vaksin flu. Vaksinasi flu memang rutin dilakukan di negara itu, menjelang musim dingin.

Menurut hasil investigasi dan otopsi otoritas Korsel, juga tidak ada hubungan langsung antara pemberian vaksin flu dengan dengan kematian 26 korban yang telah diselidiki.

Terkait munculnya kabar-kabar tidak benar tersebut, Staf Khusus (Stafsus) Presiden Bidang Komunikasi dan Juru Bicara Presiden M Fadjroel Rachman, mengajak semua elemen masyarakat untuk memerangi misinformasi dan disinformasi terkait vaksin. (HS-08)

Share This

Prakiraan Cuaca Semarang Dan Sekitarnya, Senin (18/1/2021)

Fadjroel Rachman Ajak Masyarakat Perangi Misinformasi dan Disinformasi Terkait Vaksinasi