Hoax Jadi Penyubur Radikalisme

Ilustrasi hoax.

 

HALO SEMARANG – Penyebaran hoax atau berita bohong, menjadi penyebab radikalisme tumbuh subur di Indonesia.

“Maraknya penyebaran hoax tanpa filter melalui sosial media, membuat paham radikal dan anti pemerintah makin subur,” kata Kadivhumas Polri Irjen Pol Argo Yuwono, kemarin.

Penjelasan itu disampaikannya, berkaitan dengan radikalisme dan ancaman kelompok teroris Jamaah Islamiyah di Indonesia.

Menurut dia, dari dulu sampai sekarang, radikalisasi selalu menggunakan isu-isu tentang ketidakadilan dan kesenjangan sosial di masyarakat. “Kemudian agama dijadikan alasan, dalam mengekspresikan ketidakpuasan dan kebencian,” kata Argo.

Karena itu sebagai upaya mencegah penyebaran paham dan ideologi radikalisme di kalangan anak muda, seluruh stakeholder yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan, sosial, keagamaan, komunikasi dan keamanan di lingkungan masing-masing perlu dilibatkan, untuk melawan radikalisme ini.

“Ya perlu peran serta semua stakeholder,” imbuh Kadivhumas Polri.

Dipantau Kemkominfo

Sementara itu Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), terus memantau dunia maya, untuk menjaring pesan-pesan hoax dan situs yang menyebarkannya.

Ribuan hoaks telah terjaring dan banyak di antaranya berkaitan dengan Covid-19. Menurut data hingga 8 Agustus lalu, terdapat sebanyak 1.028 hoax tersebar di berbagai platform media sosial, terkait disinformasi tentang Covid-19).

Dalam sebuah kesempatan, Dirjen Informasi Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Widodo Muktiyo mengatakan Kominfo mempunyai cyber crime, yang selama 24 jam memonitor media-media, terutama media sosial (medsos), terutama terkait adanya informasi hoaks tentang Covid-19.

“Jadi di Kominfo kita punya cyber crime di mana di dalam waktu 24 jam dan 7 hari penuh, tidak ada libur, kita memonitor di medsos. Itu menjadi salah satu upaya kita, untuk mengetahui perkembangan informasi masyarakat, termasuk di webnya Covid19.go.id ini juga berkolaborasi dengan kominfo terkait, dengan pengelolaan data dan informasi,” ujar Widodo.

Di luar topik Covid-19, Kemkominfo juga memantau barita-berita hoax yang masih banyak bertebaran. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.